Tampilkan postingan dengan label Penelaahan Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelaahan Alkitab. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juli 2019

Berdiam dan Meyakini Kehendak Allah (Refleksi Matius 26:36-46)

Nas ini merupakan suatu rangkaian peristiwa malam terakhir sebelum Yesus disalibkan. Taman Getsemani itu menjadi saksi bisu akan kesedihan, ketakutan, penyerahan diri dalam diam, keheningan dan kegamangan  yang dialami oleh seorang pribadi perombak sejarah semesta ini. Sekaligus menjadi suatu tanda pengingat tetap bagi orang yang percaya pada-Nya untuk merenungkan makna akan apa yang dilakukan-Nya pasca peristiwa tersebut. Peristiwa yang bukan hanya mengguncang dunia dan menjadi perdebatan hingga hari ini, tapi lebih jauh daripada itu, yaitu peristiwa yang dapat merubah hati dan pikiran manusia yang mempercayai Pribadi tersebut.

Nas ini dimulai dengan kata-kata “maka sampailah…” yang berarti bahwa Ia (Yesus) berjalan dari suatu tempat dan menuju Getsemani (Lukas menyebutkan dalam bahwa Ia berjalan seperti biasanya---Luk. 22:39), tetapi ketiga Injil sinoptik menuliskan bahwa kejadian itu ditulis setelah perjamuan malam terakhir yang dilakukan Yesus dengan murid-murid-Nya. Untuk Getsemani sendiri, tiada informasi jelas mengenai letak taman ini, tetapi yang pasti berada di sekitaran Bukit Zaitun (ay.30). Sesampainya, Yesus menyuruh sebagian besar murid-Nya untuk duduk dan Ia pergi untuk berdoa. Lukas mencatat bahwa pergi ke Bukit Zaitun adalah sebuah kebiasaan bagi Yesus yang artinya murid-murid-Nya pun tentu tak heran dengan apa yang dilakukan oleh gurunya tersebut.

Menjadi sebuah keunikan bahwa Yesus memilih tiga orang murid untuk menemani-Nya ke tempat Ia berdoa. Ia sempat menceritakan kepada Petrus bahwa hati-Nya sangat sedih dan seperti mau mati rasanya. Tentu hal ini membuat sedikit banyak goncangan dalam hati dan pikiran ketiga murid tersebut, karena semenjak perjamuan malam, Yesus Sang Mesias yang diharapkan untuk membebaskan umat Israel terus saja berbicara tentang kematian dan kematian dan mungkin dalam hati, mereka terus bertanya apa yang akan terjadi setelahnya.

Dalam kegentaran dan kesedihan yang dialami-Nya,  Yesus meminta mereka untuk berjaga selagi Ia berdoa. Ia menunjukkan suatu hal yang indah dalam suasana hening yang mencekam, Ia yang adalah insan dan Ilahi mengambil suatu waktu khusus untuk berdiam, mencurahkan seluru isi hati-Nya pada Bapa. Dalam kegentaran, kerumitan, ketakutan, kesedihan yang dialami, Ia memilih berdiam, mendengar Bapa berbicara dan menyatakan kehendak-Nya (Bapa). Kesedihan dan kegentaran-Nya menjadi suatu bukti bagi kita bahwa Ia adalah Allah yang dekat,  yang turut merasakan ketakutan dan kegentaran yang sama sepeti yang kita alami, bahkan lebih daripada yang kita rasakan.

Satu hal kemudian, juga dalam keheningan, Ia meminta murid-Nya “berjaga”. Saya tidak tahu pasti apa yang menjadi tujuan Yesus meminta murid-Nya berjaga entah mencegah datangnya gangguan, saya tidak tahu persis. Tapi saya mendapat suatu perenungan pribadi bahwa jauh daripada itu Yesus meminta murid-murid (bahkan kita) agar kita tak hilang fokus atau luput daripada Tuhan dengan kata lain, jiwa kita terpaut dan bergantung hanya pada Dia, Allah Bapa kita di tengah segala realita yang memungkinkan kita untuk berbelok menjauh dari koridor Tuhan.

Satu hal yang menarik kemudian, dalam doa-Nya, Yesus berbicara: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Dalam hening , Ia berdoa dan memohon dengan gentar “sekiranya mungkin…” suatu kata yang menunjukkan betapa ketakutan itu sangat kuat menekan diri Yesus, bahkan Lukas menyebutkan peluh-Nya seperti titik-titik darah, bahkan malaikat datang untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43-44), artinya ini bukan hal yang main-main, di dalam kata tersebut menunjukkan betapa mau tidak mau ada suatu harapan yang tidak dapat dicapai, suatu permohonan yang tidak terkabulkan. Permohonan akan lepas dari suatu ketakutan, penderitaan yang hebat dimana Ia mengalami keterpisahan total dengan Bapa ketika dosa-dosa manusia ditimpakan kepada-Nya, dimana Ia menjadi kutuk atas suatu kesalahan yang tidak pernah dibuat-Nya (Gal. 3:13), juga dimana Bapa menyembunyikan wajah-Nya dan meninggalkan-Nya (bdk. Mat. 27:46).

Cawan itu juga sekaligus membuka mata kita bahwa keterpisahan dari Allah menjadi suatu hal yang sangat mengerikan, yang membuat jiwa kita tersiksa, membuat kita seharusnya menyadari dan turut bersedih karena kita telah sangat jauh meninggalkan Allah karena dosa kita. Cawan itu juga yang menjadi salah satu dasar kita berharap bahwa Yesus mengalami sama bahkan lebih daripada yang kita alami sebagai manusia.

Selanjutnya kita melihat bahwa Ia berkata: “janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” . Dalam kata ini setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya pribadi (mungkin bagi kita juga):

1)     Penerimaan
Yesus di dalam kegentaran dan kesedihannya dengan rendah hati menerima apa yang akan terjadi kedepan. Sekalipun menakutkan dan dapat dibayangkan betapa menderita-Nya, Ia menerima apapun yang terjadi. Ia menerima dalam suatu keyakinan penuh bahwa kehendak Bapa adalah yang terutam dan yang terbaik.

2)     Penyerahan Diri
“Jadilah kehendak-Mu…” menjadi kata umum yang dipakai khususnya orang Kristen dalam doa-doa yang dilantunkan setiap hari. Terlepas dari terdistorsinya makna kata ini karena sering digunakan (mungkin), kata ini juga menjadi suatu isyarat akan penyerahan diri dalam kehendak Allah, yanga berarti totalitas hidup kita bergantung pada Allah. Bukan berarti tidak bekerja dan tidak melakukan apa-apa, justru sebaliknya membuat kita bekerja bahkan melakukan apapun dengan giat karena ada suatu pengharapan akan janji penyertaan Allah yang memungkinkan kita menjalani hari tanpa kekuatiran akan masa kedepan.
   
3)     Pengharapan
“Jadilah kehendak-Mu…” juga menjadi suatu proklamasi iman. Bahwa apapun yang terjadi dalam hidup, kita dengan rendah hati menerimanya. Sekalipun sulit yang kita terima, tidak membuat kita lantas menyalahkan Tuhan dan sekalipun senang yang kita dapat, juga tak membuat kita lantas menjadi tinggi hati, karena itu adalah kemurahan hati Allah. Proklamasi itu menghantarkan kita pada suatu harapan dan keyakinan bahwa Ia menjaga apapun yang kita taruhkan hingga hari-Nya kelak

Sekali lagi, ungkapan “Jadilah kehendak-Mu…” ini menjadi ungkapan penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan Yesus dalam doa-Nya, bahwa sekalipun cawan itu ditimpakan, hal itu adalah kenyataan yang harus Ia terima dalam kehadiran-Nya di dunia ini. Sekalipun takut, sedih, gentar, Ia menerima dengan penyerahan diri pada Bapa dalam kehendak-Nya, karena ia yakin bahwa misi-Nya bukan menjadi suatu misi yang sia-sia, karena banya orang yang dimenangkan oleh pemberitaan salib Kristus.

Dan menjadi suatu perhatian bagi kita, bahwa peristiwa ini bukan isapan jempol belaka, bukan peristiwa tanpa makna, karena kita dapat melihat bukti sampai tiga kali Ia berdoa mengucapkan hal yang sama. Peristiwa ini menjadi suatu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan manusia, bahwa Sang Agung harus mengalam kegentaran dan kesedihan, juga menjadi teladan dalam penerimaan atas realita yang akan terjadi karena keyakinan bahwa kehendak Bapa adalah yang terbaik. Peristiwa yang tidak hanya merubah arah sejarah sekaligus mengubah hati manusia sebagai pelaku sejarah yang percaya akan kematian dan kebangkitan-Nya.

Lantas, apa yang bisa saya lakukan terkait refleksi ini?

1)     Mengambil waktu khusus untuk berdiam
Dalam zaman yang super sibuk ini, mau tidak mau, energi kita akan terkuras banyak dan membuat kita dengan mudah menjadi hilang fokus akan tugas kita sebagai orang percaya. Sama seperti Yesus, mari ambil suatu waktu khusus untuk kita berdiam, berdoa, berbincang dan mencurahkan seluruh isi hati kita dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan meminta diberi hati yang mau menerima realita sebagai bagian dari kehendak Allah untuk mengajari kita hidup di dalam Dia.

2)     Mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik
“Izinkan saya bercerita sedikit gambaran yang saya alami selepas lulus dari perguruan tinggi. Saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pendeta di suatu gereja dan hal ini sudah sejak kecil saya cita-citakan dan baru saya mengerti mengapa saya bercita-cita demikian ketika menjadi mahasiswa dan dibina di kelompok kecil. Dalam kurun waktu enam tahun (sampai sekarang) saya tetap mendoakannya (walaupun ada masanya saya tidak taat mendoakannya). Selepas saya lulus dari perguruan tinggi, dengan keyakinan bahwa saya tidak mau merepotkan orang lain terlalu banyak untuk mencapai cita-cita saya (biasanya orang yang mau menjadi hamba Tuhan, mendapat bantuan dana dari donator-donatur), maka saya mencari kerja dengan suatu pandangan setidaknya saya punya modal juga untuk sekolah ke depan.

Saban hari saya melamar, saya banyak mengalami kegagalan, bahkan sampai tiga tahun saya banyak mengalami kegagalan, diperparah dengan kondisi semangat keluarga yang menurun drastis karena adik saya meninggal karena sakit sewaktu saya masih menyusun skripsi di medan. Sangat terasa bagaimana kacaunya hidup saya, kondisi jiwa saya tidak stabil, saya banya mempertanyakan ekesistensi saya sebagai manusia, dan  depresi? Ya saya mengalami, bahkan saya pernah menangis sambil berteriak “Kenapa saya alami hal ini?” Keluarga juga tidak tinggal diam, mereka menguatkan saya bahwa Tuhan pasti berikan yang terbaik. Lihat? Saya yang banyak belajar tentang Tuhan justru dikuatkan oleh keluarga saya yang tidak banyak membuka alkitab untuk dibaca. Peristiwa itu menjadi sebuah sentilan bagi saya, bahwa saya masih punya harapan walaupun keyakinan saya akan hal itu hanya secuil.

Dalam gamang yang saya alami, saya mencoba berdoa dalam tangis di kamar mandi, sekiranya Tuhan mau berbelas kasih dan memberi saya kekuatan serta iman untuk percaya bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi saya. Bak gayung bersambut, singkat cerita, adik konseling saya menelpon dan bercerita bahwa dirinya sangat gelisah memikirkan saya dan hendak merekomendasikan saya menjadi seorang staff di suatu lembaga pelayanan. Saya pikir itu hanya perasaan dia semata saja, maka dengan enteng saya bilang: “ya sudah, bilang saja sama mereka”.

Lepas tiga bulan, seorang staff dari lembaga pelayanan tersebut menghubungi saya dan mengajak saya untuk bertemu, saya sontak kaget dan tak menyangka hal ini ternyata terjadi. Saat kami bertemu, saya ceritakan apa yang saya rindukan, saya ingin menjadi pemberita Firman. Tapi justru staff tersebut membukakan kondisi bahwa dibutuhkan staff kantor, selama sebulan saya berdoa, saya merasa Tuhan diam, suasana hening, saya tidak dapat mencerna apa yang Allah katakan dalam firman-Nya, karena sekali lagi seperti yang tidak saya harapkan. Tapi, entah kenapa dalam batin saya, terus berkata: “Kehendak-Nya yang terbaik, dan dia dapat memakai siapapun, situasi apapun untuk mengajari dan membentuk kita sesuai kehendak-Nya”. Dalam kesombongan saya dipaksa tunduk dan rendah hati, untuk mengimani dan menaati bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik, sehingga hal itu memampukan saya menerima tawaran tersebut. “

Dalam kata “iman” terkandung sikap penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan. Dalam zaman dimana ide-ide saling bertarung dengan menawarkan kebenarannya masing-masing, tak pelak kita berbagian dalam mengungkapkan ke-egois-an bahwa pendapat kita adalah yang paling benar. Dan bukan hanya itu, kita menuntut agar terus diperhatikan, kita ingin didengar. Kita mencintai diri kita lebih daripada Allah dan menjadikan diri kita pusat. Sulit bagi kita menerima hal yang tidak baik terjadi dalam hidup kita, sehingga menggerus iman kita, saban hari kita berdoa semau kita, asal membuat hati tenang dan meminta segala apapun yang sesuai dengan keinginan hati kita.

Yesus tidak hanya mengajar berdoa tetapi juga mengajar bahwa di dalam doa bukan hanya kehendak kita yang kita perdengarkan, tetapi kita harus juga mendengar dan menerima kehendak Allah. Dengan begitu, kehidupan kita sebagai orang percaya berbeda dengan orang lain yang menggantungkan hidup dan masa depannya pada kekuatannya sendiri, kita justru melihat dengan mata iman bahwa Allah yang menjadi landasan kita berharap, Ia juga yang merasakan apa yang kita rasakan dan turut menyertai kita sepanjang hidup kita.

Selamat belajar berdiam dalam Allah dan hadirat-Nya dan mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik dalam hidup kita.


Jumat, 21 Oktober 2016

Menyangkal diri, Memikul salib, dan Mengikut Yesus (Refleksi Markus 8:31-38)

Setelah peristiwa pengakuan Petrus akan Yesus adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup (Mrk. 8:27-30; Mat. 16:13-20; Luk. 9:18-21), maka Yesus mulai mengajar. Ia mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, penolakan, bahkan kematian dan kebangkitan. Hal ini tentu saja kontras dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias atau orang yang dinantikan akan membawa pemulihan bagi Kerajaan Israel, layaknya pada masa Daud seperti yang dinubuatkan nabi-nabi pada Perjanijan Lama (bdk. Yer.23:5&33:15; Mik. 5:1). Tentu kita akan sulit membayangkan seandainya seseorang yang kita yakini akan membawa perubahan menubuatkan bahwa dirinya akan menderita bahkan sampai mati. tentu ini adalah hal yang konyol.
Adalah suatu tindakan manusiawi kalau Petrus menarik Yesus dan menegur, bahkan dalam Matius 16:22, lebih terang Petrus berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Kewajaran dari tindakan Petrus tampaknya tidak membuahkan hasil yang manis. Terang saja, Yesus menegur Petrus dengan sangat keras: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Keras sekali bukan? Jelas sekali seolah-olah Petrus tak lain dan tak bukan adalah Iblis, hal yang sangat kontras dengan respon Yesus pada pengakuan Petrus atas diri-Nya. Tentu Petrus bukanlah Iblis, karena ia adalah manusia biasa, hal tersebut dikarenakan Petrus tidak memikirkan apa yang Allah pikirkan melainkan apa yang manusia pikirkan.
Dan hal ini sering sekali menimpa orang-orang yang mengaku murid Kristus. Sering sekali pemikiran pribadi yang akhirnya kita lakukan, tanpa bertanya kepada Allah tentang apa yang Allah kehendaki. Dan sering sekali pula manusia berkutat pada keinginan diri hingga akhirnya terkesan mengabaikan Allah. Tentunya tidak salah mempunyai keinginan, dan tentunya manusia ingin yang terbaik bagi dirinya, tetapi hal tersebut tidak selalu sejalan dengan keinginan Allah. Maka kita perlu mengetahui apa yang Allah kehendaki melalui doa dan firman Allah.
Yesus pun melanjutkan apa yang diajarkan-Nya bahwa orang yang ingin menjadi murid-Nya harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Jikalau dipikir-pikir, hal ini sangat sulit dicapai, nampaknya Yesus menetapkan standar yang sangat tinggi. Tentu hal ini sedikit banyak menjadi faktor orang banyak meninggalkan kekristenan. Meskipun standard ini terlalu tinggi diterapkan, bukan berarti kita tidak menjalaninya, karena ini adalah anugerah yang Allah berikan. Berjalan bersama Yesus memikul salib yang harus kita pikul, menyangkal diri untuk kehendak Allah, mengikut Dia dengan penyerahan total. Kita akan membahas satu per satu dari syarat mengikut Yesus:
1)        Menyangkal Diri (NET: “Deny Himself”)
Menyangkal berarti ada proses penolakan atau meniadakan. Menyangkal diri berarti menolak diri, menolak segala keinginan diri dan menjadikan kehendak Allah yang terutama harus dilakuka. Sama seperti teladan Yesus yang mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Flp. 2:6-8). Seorang murid Kristus harus menyadari, ketika statusnya berubah menjadi anak Allah, berarti hidupnya bukan miliknya pribadi, melainkan milik Allah. Hidupnya bukan tentang dirinya lagi, melainkan tentang Kristus (Gal. 2:19b-20).
2)        Memikul Salib(NET: “Take up his cross”)
Salib merupakan lambang kebodohan bagi orang-orang yang akan binasa, tetapi Salib adalah hikmat Allah yang tertinggi bagi kita yang diselamatkan (1Kor. 1:18-25). Kata “memikul” mempunyai makna lebih dalam daripada kata “membawa”. Memikul identik dengan beban yang sangat berat yang harus dibawa dengan ditaruh diatas pundak. Maka tidak heran jikalau seorang teolog dari Jepang yaitu Kosuke Koyama menuliskan judul bukunya “Tidak Ada Gagang Pada Salib”. Salib bukanlah ember, koper, atau sesuatu yang dengan mudah kita dapat mengangkat dan menggenggamnya. Bahkan Kosuke Koyama mengatakn lebih lanjut bahwa Yesus tidak memikul salibnya seperti seorang pengusaha menenteng tasnya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh seorang teolog dari Jerman, yaitu Dietrich Bonhoeffer: “When Christ call a man, He bids him to come and die.” Maka tak heran, banyak sekali rasul dan murid-murid pada awal kekristenan yang mengalami penderitaan bahkan sampa mati martir. Penderitaan bukan dicari-cari, melainkan suatu keniscayaan yang akan didapat seorang Kristen. Orang Kristen pasti akan menderita, karena berani menjadi Kristen, berarti siap untuk mati bersama Kristus dan hidup bagi Allah (Flp. 1:21; Yoh. 15:20). Sekarang, mari kita hilangkan ke”aku”an dan mulailah bergerak aktif untuk memikul salib kita masing-masing.
3)        Mengikut Aku (NET: Follow Me)
Dalam mengikut, ada suatu bentuk aktif penyerahan diri terhadap figure yang kita ikuti. Mengikut Yesus berarti menyerahkan hidup kita di dalam Dia dan mempertaruhkan semuanya, bukan menjadi pemandu sorak yang hanya bisa berteriak dari pinggir lapangan, melainkan ikut bertanding bersama Dia di dalam lapangan tersebut. Mengikut Yesus berarti mempunyai keyakinan  bahwa Ia yang menjaga hidup kita hingga harinya kelak, kita hidup bersama-sama dengan Dia, dengan menatap muka (2Tim 1:12). Penyerahan diri yag total merupakan kunci dari mengikut Yesus.

Orang percaya atau murid Kristus tidak akan memusingkan dirinya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri ketika penderitaan melanda, ia akan maju sesuai perintah Tuannya dan berlari dalam pertandingan iman hingga akhirnya kelak keselamatan dari Allah dirasakan sepenuhnya. Maka tidak heran Yesus berkata bahwa tidak ada gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, kalau pada akhirnya kehilangan nyawanya, karena nyawa tidak dapat diselamatkan oleh harta atau takhta yang kita peroleh di dunia ini, melainkan melalui darah Kristus yang mahal, yang tercurah pada kayu salib (1Pet. 2:18-19).
Ada harga yang tak ternilai untuk sebuah keselamatan, begitu juga ada harga yang mahal yang harus dibayar untuk menjadi seorang murid Kristus (penderitaan)  yang berbagian dalam Misi Allah bagi dunia ini.

Kamis, 22 September 2016

Reaching the Vision (Refleksi Kisah Para Rasul 26)



Sebelum kita masuk kepada pembahasan kita akan mengulas sedikit tentang Visi Allah. Seperti yang kita tahu, visi adalah “penglihatan” , visi adalah tujuan jangka panjang pada umumnya. Kalau di perusahaan atau organisasi, kita akan melihat bahwa visi adalah tujuan jangka panjang atau hasil akhir yang diharapkan tercapai nantinya pada perusahaan atau organisasi tersebut. Begitu juga dengan visi Allah, yaitu penglihatan yang berasal dari Allah yang merupakan kegenapan karya-Nya bagi dunia ini, yaitu bahwa segala bangsa, segenap suku dan kaum dan bahasa berdiri di hadapan tahta Anak Domba dan menyembah-Nya (Why. 7:9-10). Dan karya itu telah digenapi melalui pengorbanan dan kebangkitan Yesus Kristus Tuhan kita, dan sekaranglah saatnya untuk memberitakan tentang keselamatan yang hanya ada pada Yesus. Dan hal inilah yang akan kita bahas melalui kitab Kisah Para Rasul 26. Let’s check it out!
Kitab ini adalah kitab yang ditulis oleh rekan sekerja Paulus yaitu Lukas, yang adalah seorang tabib. Hal ini dapat diketahui melalui awalan surat yang ditujukan kepada Teofilus yang sama halnya dengan awalan kitab Injil Lukas. Diperkirakan, kitab ini dituliskan antara tahun 80 dan 90 Masehi. Kitab ini adalah kitab yang menceritakan tentang kehidupan gereja mula-mula yang dipenuhi dengan cinta kasih dan Roh Kudus, sesudah Yesus naik ke surga. Para Rasul adalah murid-murid Yesus yang senantiasa bersama-sama dengan Yesus semasa hidup-Nya di dunia ini dan dipenuhi Roh Kudus yang dijanjikan (Kis. 2:4), mereka hidup bersama berbagi kasih dan memberitakan Injil dan disukai banyak orang dan diberkati Allah (Kis.2:41-47). Tetapi kitab ini tidak hanya menuliskan tentang kebahagiaan jemaat mula-mula, tetapi juga tentang penderitaan mereka ketika mengabarkan Kristusdi daerah Yerusalem, sebuah kota dimana penduduknya tahu bahwa Kristus telah disalibkan, dan kemungkinan besar adalah orang yang ikut menyalibkan Yesus. Banyak dari antara mereka yang menjadi percaya dan mengikut Yesus, tetapi banyak juga yang menentang, apalagi ahli-ahli taurat dan orang Farisi dan Saduki yang adalah orang yang sering menentang Yesus ada masa hidup-Nya (Kis. 5:17-18). Hingga awal penganiayaan terhadap jemaat mula-mula pun terjadi pada saat Stefanus yang adalah seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Kis. 6:5), dituduh oleh orang-orang Yahudi menghujat Allah (Kis. 6:11), dan akhirnya ia harus mati dirajam batu dengan kemenangan yang indah yang boleh ia peroleh menjelang kematiannya sambil berdoa menengadah ke langit (Kis. 7:54-60). Itulah awal penderitaan jemaat mula-mula yang dituliskan oleh Lukas pada kitab ini.
Terpujilah Tuhan untuk karya dan rencana-Nya, pada saat kematian Stefanus,ada seorang yang akan Tuhan pakai secara luar biasa untuk menyatakan karya-Nya di dunia ini. Yaitu Saulus  yang adalah seorang yang terlahir dan terdidik dalam lingkungan orang Yahudi, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, orang Farisi (Fil. 3:5), orang yang begitu tahu tentang hukum taurat yang pekerjaannya adalah penganiaya jemaat, sampai-sampai ia minta surat kepada Imam Besar untuk menganiaya jemaat di Damsyik (Kis. 9:2). Dan dalam perjalanan ke Damsyik, ia harus jatuh tersungkur dan rebah ke tanah karena cahaya yang sangat terang muncul dihadapannya dan ia mendengar suara Yesus yang menyatakan diri dihadapannya , ia buta, dipulihkan dan bertobat, dan menjadi pemberita Injil bagi bangsa non Yahudi. Ia pergi ke banyak kota di luar Yerusalem dan akhirnya kembali ke Yerusalem (Kis. 21:17), dan disitu ia mengadakan pentahiran diri bersama-sama orang percaya lainnya (Kis. 21:26) dan setelah 7 hari hampir berakhir, ia ditangkap oleh orang Yahudi dari Asia Kecil yang menghasut orang Yahudi di Yerusalem yang mengatakan bahwa Paulus menentang hukum taurat (Kis. 21:27-28). Hingga pada akhirnya sidang demi sidang dilalui, dan sampailah ia di hadapan raja Agripa untuk menyatakan pembelaannya dihadapan raja tersebut, bahwa ia tidak bersalah dan tidak mengajarkan yang sesat dan tidak menghujat Allah.
            Siapakah raja Agripa?
            Raja Agripa adalah anak dari raja Herodes yang dilahirkan kira-kira pada tahun 27 M. Raja ini yang menikahi saudara kandungnya sendiri yang bernama Bernike. Dia adalah raja daerah Filipud dan Lisias tahun 53 M, dan pernah menjadi pengawas kenisah di Yerusalem tahun 49 M. Dan karena hidupnya sudah jadi batu sandungan, ia belajar taurat Yahudi, agar hidupnya bisa dilihat orang dan tidak menjadi sandungan. Ia raja yang suka dengan popularitas.
Dan kepada raja itulah, Paulus harus berhadapan dan menyatakan pembelannya. Dan Paulus menyatakannya dengan keramahan bukan kemarahan, ia adalah seorang yang santun dan penuh kasih karunia. Ia menyatakan kebahagiaannya karena diperkenankan untuk memberi pertanggungjawaban atas tuduhan orang Yahudi kepadanya, dan ia meminta kepada raja untuk mendengarkannya dengan sabar (ay. 1-3). Sungguh suatu salam pembuka yang hangat penuh hikmat dan kesabaran oleh kasih Tuhan yang dirasakannya. Karena ia tahu bahwa inilah kesempatan untuk dia bisa bercerita tentang kisahnya yang diliputi oleh kasih Allah.
Dan Paulus mulai bercerita, bahwa semua orang Yahudi sudah tahu tentang kisah hidupnya, sejak masa mudanya. “Aku adalah seorang Farisi dengan mazhab yang paling keras”, kata Paulus. Dan sekarang, aku dituduh dan harus menghadap pengadilan karena aku mengharapkan janji Allah tentang kebangkitan orang mati, yang sudah kita percaya dari kedua belas suku kita. Jadi, mengapa sulit percaya kalau Allah membangkitkan orang mati?, Paulus menambahkan (ay. 4-8).
Paulus mulai ke inti permasalahan , yaitu tentang kebangkitan, yang seharusnya tidak menjadi permasalahan karena orang Farisi percaya kepada kebangkitan orang mati. Ya, Farisi percaya tentang kebangkitan orang mati, berbeda dengan Saduki yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati (Mat. 22:23-33). Paulus bertanya dengan keras: “Mengapa kita anggap mustahil kalau Allah bisa membangkitkan orang mati?” , yang secara tidak langsung berkata: “Mengapa tidak percaya kalau Yesus bangkit?”
Sebenarnya pun dahulu, aku adalah salah satu orang yang paling keras menentang nama Yesus dari Nazaret, bahkan bukan sampai disitu saja, aku juga setuju jika pengikut Yesus itu pun dihukum mati, makanya aku sering masuk rumah ibadat dan menyiksa mereka, menyuruh mereka menyangkal imannya, bahkan mengejar mereka sampai kota-kota asing (ay.9-11).
Paulus mulai bersaksi tentang kehidupannya dahulu, tentu kita tidak menyangkal bahwa dia adalah layaknya orang gila yang sangat sadis yang suka bunuh pengikut Kristus (Flp. 3:6a). Tapi disinilah kerendahan hati Paulus bisa terlihat, karena dia menyadari bahwa hidupnya dahulu adalah hidup yang kotor, najis dan berdosa, dan dia menyadari hanya oleh kasih karunia lah dia bisa menceritakan tentang hidupnya yang kotor tersebut.
Paulus melanjutkan dalam keadaan yang seperti itu, dengan kuasa penuh untuk membunuh pengikut Kristus di Damsyik. Tiba-tiba di tengah jalan itu aku melihat cahaya yang sangat terang turun dari langit dan itu yang membuatku rebah , lalu aku mendengar ada suara yang berkata: “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” akan sulit bagimu menendang ke galah rangsang (ay.12-14).
Paulus dengan lugas dan penuh kejujuran dengan tidak menambah-nambahkan apa yang dialaminya berkata dan bersaksi tentang hidupnya. Ia dibutakan dan dipulihkan, dan pasti sulit untuk mengelak atau lari dari panggilan Tuhan dan Paulus mengalami hal demikian (Kis. 9:1-19a).
Saat itulah aku bertanya: “Siapakah Engkau Tuhan?”, Maka kata Tuhan: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu, tapi sekarang bangunlah dan berdirilah karena Aku (Yesus) menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentag segala sesuatu yang telah kau lihat dari pada-Ku dan tentang yang Kuperlihatkan padamu nanti. Aku mengkhususkan engkau untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain agar mata mereka terbuka dan mereka berbalik dari kegelapan Iblis kepada terang Allah, dan mereka peroleh iman dan pengampunan dosa dan dapat bagian yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”
Sebab itu ya, raja Agripa, terhadap penglihatan yang dari surga itu, tidak pernah aku tidak taat (ay.15-19).
Dengan kuasa penuh dari Roh Kudus dan dihadapan para saksi dan raja Agripa, Pausul menceritakan pertobatannya siapa Yesus yang menyatakan diri-Nya kepada Paulus. Paulus dengan tegarnya berani memberitakan Injil dihadapan mereka dan berani mengklaim bahwa dirinya tidak pernah tidak taat terhadap penglihatan yang Yesus nyatakan kepadanya. Dia tidak pernah tidak taat kepada visi Allah. Dia menyadari bahwa dirinya diselamatkan oleh karena Anugerah.
Ia menambahkan, mula-mula aku beritakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem, di Yudea, dan bangsa-bangsa lain, bahwa mereka haru bertobat an kembali kepada Allah dan melakukan pekerjaan sesuai pertobatan itu. Karena itulah maka aku ditangkap dan aku hampir dibunuh. Tetapi karena pertolongan Allah, aku masih bisa hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian tentang mesias yang harus menderita sengsara, mati, dan bangkit dari antara orang mati (ay.20-23).
Paulus menjelaskan bahwa untuk menjalankan visi itu memang sulit dan pasti akan ada penderitaan yang dialami, tetapi Paulus mengucapkan penghiburan dan peneguhan yang sangat menggugah bahwa dalam kondisi terdesak pun, Allah tetap menyertai. Ini selaran dengan janji Tuhan Yesus akan penyertaannya sampai akhir zaman (Mat. 28:20).
Di tengah suasana sidang yang mulai meresahkan, sementara Paulus masih mempertanggungjawabkan pembelaannya, berteriaklah Festus dan berkata: “Engkau gila, Paulus. Ilmumu yang banyak itu membuatmu gila”. Dan Paulus dengan berani membantah: “Aku tidak gila , Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! Dan aku yakin bahwa raja juga tahu tentang segala perkara ini, karena perkara ini tidak terjadi di tempat terpencil. Lalu Paulus bertanya pada Agripa: “Percayakah engkau pada para nabi?” aku yakin kau percaya. Jawab Agripa: “hampir-hampir saja kau yakinkan aku menjadi seorang Kristen!”
Adalah hal yang wajar kalau Festus berkata demikian karena dia tidak pernah merasakan kasih Kristus. Tapi Paulus tetap menghadap raja Agripa dan memberitakan Injil kepada raja yang mengetahui taurat dan adat istiadat Yahudi tersebut, dan suatu pernyataan yang hebat keluar dari mulut raja tersebut kalau hampir saja ia yakin menjadi seorang Kristen. Raja yang gemar popularitas itu hampir membungkukkan badannya kehadapan Raja diatas segala raja.
Lagi Paulus menunjukkan iman pengharapannya: “Aku berdoa, supaya bukan engkau saja tetapi semua orang disini menjadi sama seperti aku kecuali belenggu ini.”
Iman dan pengharapan yang sangat jelas, dengan itu Paulus mengucapkan doa bahwa semua yang ada disitu akan percaya dan memberitkan Injil.
Lalu Agripa, Bernike, dan Festus keluar untuk berdiskusi, mereka tidak mendapati kesalahan Paulus , bahkan sebelum naik banding pun, dia sudah boleh dilepaskan. Dibalik itu semua tersimpan kemenangan yang besar, yaitu ketika semua orang yang mengadili Paulus, mendengarkan Injil yang disampaikannya oleh kuasa Roh Kudus.
Dari sinilah kita belajar bahwa penglihatan itu menggerakan Paulus untuk melakukan misi Allah bagi dunia. Paulus telah menangkap visi itu dan dia menjalankannya dengan penuh kerelaan hati menyerahkan seluruh hidupnya untuk dituntun oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil melalui perkataan dan perbuatannya. Kiranya hati kita pun digerakkan oleh Allah untuk mengerjakan visi Allah, sehingga kita bertumbuh dan orang lain mengenal Yesus dan hidup bagi Yesus. Maka benarlah, Bumi penuh dengan Kemuliaan Allah.
Allah menggerakkan orang-orang yang dipilih-Nya untuk berkarya bagi kemuliaan nama-Nya.
Bagaimana dengan kita? Siapkah kita dipakai Tuhan? Siapkah kita memberitakan kebenaran?
Melihat Visi dengan mata Iman, Mengimani Visi dengan Pengharapan, Mengerjakan Visi dengan Kasih

Soli Deo Gloria

Referensi Terkait: Swindoll, Charles R, 2004.PAULUS:Seorang yang penuh kasih karunia dan tegar, Terjemahan PAUL:A Man of Grace and Grit, Nafiri Gabriel, Jakarta.

Selasa, 05 Juli 2016

Character Study "NEHEMIAH"



CHARACTER STUDY
NEHEMIAH

Pengantar
Nehemia (Bhs. Ibr: Yahwe menghibur), adalah putra Hakhalya (Neh. 1:1). Dia adalah seorang juru minuman raja Persia di puri Susan (Neh. 1:11). Situasi pada masa itu adalah situasi dimana bangsa Yehuda mengalami masa pembuangan. Dimulai saat pemerintahan Yoyakim, oleh karena dosa bangsa itu Allah mengizinkan bangsa Babel menjajah bangsa Israel (2 Raj. 24), begitu juga hingga zaman Zedekia, Bait Allah dan tembok Yerusalem dibakar

Sabtu, 27 Desember 2014

Sudahkah yang terbaik kuberikan?

Perumpamaan Tentang Talenta
Matius 25:14-30



            Hello guys, ingin berbagi nih tentang apa yang boleh kudapatkan setelah menggali satu perikop dari firman Tuhan.
            Perumpamaan ini adalah salah satu perumpamaan yang digunakan Tuhan Yesus untuk berkotbah tentang “Akhir Zaman”.
Pada pasal 24 dapat kita baca bahwa Tuhan Yesus memberitakan tentang akhir zaman dimulai dari pembicaraan “Bait Allah yang akan diruntuhkan”, “Permulaan penderitaan Tuhan Yesus”, dan tanda-tanda akhir zaman (kedatangan Tuhan Yesus kedua kali). Tetapi hal
yang menarik