Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juli 2019

Berdiam dan Meyakini Kehendak Allah (Refleksi Matius 26:36-46)

Nas ini merupakan suatu rangkaian peristiwa malam terakhir sebelum Yesus disalibkan. Taman Getsemani itu menjadi saksi bisu akan kesedihan, ketakutan, penyerahan diri dalam diam, keheningan dan kegamangan  yang dialami oleh seorang pribadi perombak sejarah semesta ini. Sekaligus menjadi suatu tanda pengingat tetap bagi orang yang percaya pada-Nya untuk merenungkan makna akan apa yang dilakukan-Nya pasca peristiwa tersebut. Peristiwa yang bukan hanya mengguncang dunia dan menjadi perdebatan hingga hari ini, tapi lebih jauh daripada itu, yaitu peristiwa yang dapat merubah hati dan pikiran manusia yang mempercayai Pribadi tersebut.

Nas ini dimulai dengan kata-kata “maka sampailah…” yang berarti bahwa Ia (Yesus) berjalan dari suatu tempat dan menuju Getsemani (Lukas menyebutkan dalam bahwa Ia berjalan seperti biasanya---Luk. 22:39), tetapi ketiga Injil sinoptik menuliskan bahwa kejadian itu ditulis setelah perjamuan malam terakhir yang dilakukan Yesus dengan murid-murid-Nya. Untuk Getsemani sendiri, tiada informasi jelas mengenai letak taman ini, tetapi yang pasti berada di sekitaran Bukit Zaitun (ay.30). Sesampainya, Yesus menyuruh sebagian besar murid-Nya untuk duduk dan Ia pergi untuk berdoa. Lukas mencatat bahwa pergi ke Bukit Zaitun adalah sebuah kebiasaan bagi Yesus yang artinya murid-murid-Nya pun tentu tak heran dengan apa yang dilakukan oleh gurunya tersebut.

Menjadi sebuah keunikan bahwa Yesus memilih tiga orang murid untuk menemani-Nya ke tempat Ia berdoa. Ia sempat menceritakan kepada Petrus bahwa hati-Nya sangat sedih dan seperti mau mati rasanya. Tentu hal ini membuat sedikit banyak goncangan dalam hati dan pikiran ketiga murid tersebut, karena semenjak perjamuan malam, Yesus Sang Mesias yang diharapkan untuk membebaskan umat Israel terus saja berbicara tentang kematian dan kematian dan mungkin dalam hati, mereka terus bertanya apa yang akan terjadi setelahnya.

Dalam kegentaran dan kesedihan yang dialami-Nya,  Yesus meminta mereka untuk berjaga selagi Ia berdoa. Ia menunjukkan suatu hal yang indah dalam suasana hening yang mencekam, Ia yang adalah insan dan Ilahi mengambil suatu waktu khusus untuk berdiam, mencurahkan seluru isi hati-Nya pada Bapa. Dalam kegentaran, kerumitan, ketakutan, kesedihan yang dialami, Ia memilih berdiam, mendengar Bapa berbicara dan menyatakan kehendak-Nya (Bapa). Kesedihan dan kegentaran-Nya menjadi suatu bukti bagi kita bahwa Ia adalah Allah yang dekat,  yang turut merasakan ketakutan dan kegentaran yang sama sepeti yang kita alami, bahkan lebih daripada yang kita rasakan.

Satu hal kemudian, juga dalam keheningan, Ia meminta murid-Nya “berjaga”. Saya tidak tahu pasti apa yang menjadi tujuan Yesus meminta murid-Nya berjaga entah mencegah datangnya gangguan, saya tidak tahu persis. Tapi saya mendapat suatu perenungan pribadi bahwa jauh daripada itu Yesus meminta murid-murid (bahkan kita) agar kita tak hilang fokus atau luput daripada Tuhan dengan kata lain, jiwa kita terpaut dan bergantung hanya pada Dia, Allah Bapa kita di tengah segala realita yang memungkinkan kita untuk berbelok menjauh dari koridor Tuhan.

Satu hal yang menarik kemudian, dalam doa-Nya, Yesus berbicara: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Dalam hening , Ia berdoa dan memohon dengan gentar “sekiranya mungkin…” suatu kata yang menunjukkan betapa ketakutan itu sangat kuat menekan diri Yesus, bahkan Lukas menyebutkan peluh-Nya seperti titik-titik darah, bahkan malaikat datang untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43-44), artinya ini bukan hal yang main-main, di dalam kata tersebut menunjukkan betapa mau tidak mau ada suatu harapan yang tidak dapat dicapai, suatu permohonan yang tidak terkabulkan. Permohonan akan lepas dari suatu ketakutan, penderitaan yang hebat dimana Ia mengalami keterpisahan total dengan Bapa ketika dosa-dosa manusia ditimpakan kepada-Nya, dimana Ia menjadi kutuk atas suatu kesalahan yang tidak pernah dibuat-Nya (Gal. 3:13), juga dimana Bapa menyembunyikan wajah-Nya dan meninggalkan-Nya (bdk. Mat. 27:46).

Cawan itu juga sekaligus membuka mata kita bahwa keterpisahan dari Allah menjadi suatu hal yang sangat mengerikan, yang membuat jiwa kita tersiksa, membuat kita seharusnya menyadari dan turut bersedih karena kita telah sangat jauh meninggalkan Allah karena dosa kita. Cawan itu juga yang menjadi salah satu dasar kita berharap bahwa Yesus mengalami sama bahkan lebih daripada yang kita alami sebagai manusia.

Selanjutnya kita melihat bahwa Ia berkata: “janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” . Dalam kata ini setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya pribadi (mungkin bagi kita juga):

1)     Penerimaan
Yesus di dalam kegentaran dan kesedihannya dengan rendah hati menerima apa yang akan terjadi kedepan. Sekalipun menakutkan dan dapat dibayangkan betapa menderita-Nya, Ia menerima apapun yang terjadi. Ia menerima dalam suatu keyakinan penuh bahwa kehendak Bapa adalah yang terutam dan yang terbaik.

2)     Penyerahan Diri
“Jadilah kehendak-Mu…” menjadi kata umum yang dipakai khususnya orang Kristen dalam doa-doa yang dilantunkan setiap hari. Terlepas dari terdistorsinya makna kata ini karena sering digunakan (mungkin), kata ini juga menjadi suatu isyarat akan penyerahan diri dalam kehendak Allah, yanga berarti totalitas hidup kita bergantung pada Allah. Bukan berarti tidak bekerja dan tidak melakukan apa-apa, justru sebaliknya membuat kita bekerja bahkan melakukan apapun dengan giat karena ada suatu pengharapan akan janji penyertaan Allah yang memungkinkan kita menjalani hari tanpa kekuatiran akan masa kedepan.
   
3)     Pengharapan
“Jadilah kehendak-Mu…” juga menjadi suatu proklamasi iman. Bahwa apapun yang terjadi dalam hidup, kita dengan rendah hati menerimanya. Sekalipun sulit yang kita terima, tidak membuat kita lantas menyalahkan Tuhan dan sekalipun senang yang kita dapat, juga tak membuat kita lantas menjadi tinggi hati, karena itu adalah kemurahan hati Allah. Proklamasi itu menghantarkan kita pada suatu harapan dan keyakinan bahwa Ia menjaga apapun yang kita taruhkan hingga hari-Nya kelak

Sekali lagi, ungkapan “Jadilah kehendak-Mu…” ini menjadi ungkapan penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan Yesus dalam doa-Nya, bahwa sekalipun cawan itu ditimpakan, hal itu adalah kenyataan yang harus Ia terima dalam kehadiran-Nya di dunia ini. Sekalipun takut, sedih, gentar, Ia menerima dengan penyerahan diri pada Bapa dalam kehendak-Nya, karena ia yakin bahwa misi-Nya bukan menjadi suatu misi yang sia-sia, karena banya orang yang dimenangkan oleh pemberitaan salib Kristus.

Dan menjadi suatu perhatian bagi kita, bahwa peristiwa ini bukan isapan jempol belaka, bukan peristiwa tanpa makna, karena kita dapat melihat bukti sampai tiga kali Ia berdoa mengucapkan hal yang sama. Peristiwa ini menjadi suatu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan manusia, bahwa Sang Agung harus mengalam kegentaran dan kesedihan, juga menjadi teladan dalam penerimaan atas realita yang akan terjadi karena keyakinan bahwa kehendak Bapa adalah yang terbaik. Peristiwa yang tidak hanya merubah arah sejarah sekaligus mengubah hati manusia sebagai pelaku sejarah yang percaya akan kematian dan kebangkitan-Nya.

Lantas, apa yang bisa saya lakukan terkait refleksi ini?

1)     Mengambil waktu khusus untuk berdiam
Dalam zaman yang super sibuk ini, mau tidak mau, energi kita akan terkuras banyak dan membuat kita dengan mudah menjadi hilang fokus akan tugas kita sebagai orang percaya. Sama seperti Yesus, mari ambil suatu waktu khusus untuk kita berdiam, berdoa, berbincang dan mencurahkan seluruh isi hati kita dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan meminta diberi hati yang mau menerima realita sebagai bagian dari kehendak Allah untuk mengajari kita hidup di dalam Dia.

2)     Mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik
“Izinkan saya bercerita sedikit gambaran yang saya alami selepas lulus dari perguruan tinggi. Saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pendeta di suatu gereja dan hal ini sudah sejak kecil saya cita-citakan dan baru saya mengerti mengapa saya bercita-cita demikian ketika menjadi mahasiswa dan dibina di kelompok kecil. Dalam kurun waktu enam tahun (sampai sekarang) saya tetap mendoakannya (walaupun ada masanya saya tidak taat mendoakannya). Selepas saya lulus dari perguruan tinggi, dengan keyakinan bahwa saya tidak mau merepotkan orang lain terlalu banyak untuk mencapai cita-cita saya (biasanya orang yang mau menjadi hamba Tuhan, mendapat bantuan dana dari donator-donatur), maka saya mencari kerja dengan suatu pandangan setidaknya saya punya modal juga untuk sekolah ke depan.

Saban hari saya melamar, saya banyak mengalami kegagalan, bahkan sampai tiga tahun saya banyak mengalami kegagalan, diperparah dengan kondisi semangat keluarga yang menurun drastis karena adik saya meninggal karena sakit sewaktu saya masih menyusun skripsi di medan. Sangat terasa bagaimana kacaunya hidup saya, kondisi jiwa saya tidak stabil, saya banya mempertanyakan ekesistensi saya sebagai manusia, dan  depresi? Ya saya mengalami, bahkan saya pernah menangis sambil berteriak “Kenapa saya alami hal ini?” Keluarga juga tidak tinggal diam, mereka menguatkan saya bahwa Tuhan pasti berikan yang terbaik. Lihat? Saya yang banyak belajar tentang Tuhan justru dikuatkan oleh keluarga saya yang tidak banyak membuka alkitab untuk dibaca. Peristiwa itu menjadi sebuah sentilan bagi saya, bahwa saya masih punya harapan walaupun keyakinan saya akan hal itu hanya secuil.

Dalam gamang yang saya alami, saya mencoba berdoa dalam tangis di kamar mandi, sekiranya Tuhan mau berbelas kasih dan memberi saya kekuatan serta iman untuk percaya bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi saya. Bak gayung bersambut, singkat cerita, adik konseling saya menelpon dan bercerita bahwa dirinya sangat gelisah memikirkan saya dan hendak merekomendasikan saya menjadi seorang staff di suatu lembaga pelayanan. Saya pikir itu hanya perasaan dia semata saja, maka dengan enteng saya bilang: “ya sudah, bilang saja sama mereka”.

Lepas tiga bulan, seorang staff dari lembaga pelayanan tersebut menghubungi saya dan mengajak saya untuk bertemu, saya sontak kaget dan tak menyangka hal ini ternyata terjadi. Saat kami bertemu, saya ceritakan apa yang saya rindukan, saya ingin menjadi pemberita Firman. Tapi justru staff tersebut membukakan kondisi bahwa dibutuhkan staff kantor, selama sebulan saya berdoa, saya merasa Tuhan diam, suasana hening, saya tidak dapat mencerna apa yang Allah katakan dalam firman-Nya, karena sekali lagi seperti yang tidak saya harapkan. Tapi, entah kenapa dalam batin saya, terus berkata: “Kehendak-Nya yang terbaik, dan dia dapat memakai siapapun, situasi apapun untuk mengajari dan membentuk kita sesuai kehendak-Nya”. Dalam kesombongan saya dipaksa tunduk dan rendah hati, untuk mengimani dan menaati bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik, sehingga hal itu memampukan saya menerima tawaran tersebut. “

Dalam kata “iman” terkandung sikap penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan. Dalam zaman dimana ide-ide saling bertarung dengan menawarkan kebenarannya masing-masing, tak pelak kita berbagian dalam mengungkapkan ke-egois-an bahwa pendapat kita adalah yang paling benar. Dan bukan hanya itu, kita menuntut agar terus diperhatikan, kita ingin didengar. Kita mencintai diri kita lebih daripada Allah dan menjadikan diri kita pusat. Sulit bagi kita menerima hal yang tidak baik terjadi dalam hidup kita, sehingga menggerus iman kita, saban hari kita berdoa semau kita, asal membuat hati tenang dan meminta segala apapun yang sesuai dengan keinginan hati kita.

Yesus tidak hanya mengajar berdoa tetapi juga mengajar bahwa di dalam doa bukan hanya kehendak kita yang kita perdengarkan, tetapi kita harus juga mendengar dan menerima kehendak Allah. Dengan begitu, kehidupan kita sebagai orang percaya berbeda dengan orang lain yang menggantungkan hidup dan masa depannya pada kekuatannya sendiri, kita justru melihat dengan mata iman bahwa Allah yang menjadi landasan kita berharap, Ia juga yang merasakan apa yang kita rasakan dan turut menyertai kita sepanjang hidup kita.

Selamat belajar berdiam dalam Allah dan hadirat-Nya dan mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik dalam hidup kita.


Senin, 21 Januari 2019

Kehendak Allah atau Kehendak Saya? (Yakobus 4:13-17)

Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Terlebih dalam suasana tahun baru ini, setiap orang pasti memiliki rencana-rencana terbaik dalam hidupnya, begitu juga dengan saya.

Seorang pebisnis pasti menginginkan bisnisnya meraup untung lebih banyak tahun ini, seorang pelajar pasti menginginkan nilai terbaik yg didapatnya tahun ini. Seorang pengangguran seperti saya juga menginginkan pekerjaan yg baik sehingga saya bisa berpenghasilan. Semua itu butuh rencana untuk mewujudkannya.

Semua orang termasuk saya mengatur hidupnya sendiri, mengatur rencananya sendiri dan berandai-andai bahwa semua yang direncanakan akan didapatkan sebelum terjadi.
Ini hal wajar, tetapi ada sebuah pertanyaan dalam benak saya: "Bagaimana jika semua tidak sesuai keinginan/kehendak dan rencana saya?" Sedang saya saja tidak mengetahui sedikitpun apa yg terjadi hari esok, hanya Tuhan yang tahu.

Tidak salah berencana dan berusaha, tapi apa yang saya sesali adalah saya tidak melibatkan Tuhan dalam rencana saya. Saya terlalu sombong, saya tidak memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk hidup saya dalam tahun ini.
Seharusnya saya berkata: "Jika Tuhan menghendaki, maka saya akan berbuat yang terbaik sesuai kehendak-Nya."

Sehingga, jika yang terbaik yang saya dapatkan, saya akan mensyukuri dan memuji Allah dan sekalipun yang buruk yang terjadi dalam hidup, saya akan menerimanya, karena saya yakin bahwa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi setidaknya untuk menguatkan iman saya pada-Nya.

Kehendak-Nya yang terbaik bagi saya, kita, dan semua orang percaya.

Rabu, 09 November 2016

Jangan Lupa Hidup Jujur (Refleksi Kisah Para Rasul 4:36-5:1-11)

Lukas mencatat bahwa setelah peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-13), kehidupan para murid berubah total. Mereka semakin berani mengabarkan tentang Yesus. Bahkan cara hidup mereka disukai oleh banyak orang (Kis. 2:47). Mereka sehati, sejiwa, dan tidak ada sesuatu yang menjadi milik kepunyaan sendiri, semua adalah milik bersama (Kis. 4:32). Milik bersama? Terdengar aneh bukan? Tapi itulah yang terjadi pada masa itu. Mereka tidak ada yang berkekurangan, karena semua orang yang mempunyai tanah ataupun rumah, pasti menjualnya dan hasil penjualannya itu dibawa ke depan kaki rasul –rasul  dan dibagi-bagikan sesuai keperluan mereka. Terdengar konyol bukan? Ya, tetapi hel tersebut merupakan gambaran perubahan hidup mereka, ketika mereka percaya kepada Kristus.
 Dan kisah hidup demikianlah yang mengantarkan kita kepada 2 contoh di dalam alkitab terkait dengan kejujuran. Mengapa harus kejujuran? Pernah mendengar pepatah “dimana hartamu berada, disitu hatimu berada”?. Ketika seseorang mempunyai harta, ia pasti akan menjaga harta tersebut dan hal itu adalah manusiawi. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika harta menguasai hati kita, dan kita menghambakan diri pada harta, sehingga apapun yang kita lakukan hanya demi menjaga maupun menambah tumpukan harta kita. Maka tidak heran, fenomena ini berkaitan dengan kejujuran seseorang.
Perikop ini menceritakan dua contoh orang yang berlaku terkait dengan kejujuran dalam hal mempersembahkan hasil penjualan mereka.
1.      Barnabas
Barnabas adalah seorang dari rekan rasul-rasul, yang memiliki nama asli Yusuf (Kis. 4:36). Ia adalah seorang Lewi yang berasal dari Siprus. Ia memiliki arti nama anak penghiburan, yang pada akhirnya menjadi rekan Paulus dalam mengabarkan Injil ke orang-orang non Yahudi (Kis. 15:2-35) dan berpisah karena perselisihan dengan Paulus (Kis. 15:36-39). Barnabas adalah salah satu dari orang-orang yang ikut mempersembahkan hasil menjual ladangnya di hadapan rasul-rasul. Ia adalah seorang yang jujur dan tercatat bahwa ia tidak menyembunyikan apapun di dalam dirinya. Karena ia benar-benar tulus di dalam mempersembahkan hasil penjualannya tersebut. Buah pertobatan dan kasih yang dialaminya terpancar melalui kehidupannya dengan menyerahkan uang hasil penjualan ladang untuk membantu jemaat yang berkekurangan dan nyatalah sesuai dengan arti namanya tersebut, bahwa ia menjadi teladan dalam kejujuran dan anak penghiburan bagi rasul-rasul.
2.      Ananias dan Safira
Mereka adalah pasangan suami istri dan merupakan anggota jemaat. Mereka juga bersepakat untuk mempersembahkan hasil penjualan sebidang tanah kepunyaan mereka dihadapan rasul-rasul. Dan dengan setahu isterinya, Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan sebidang tanah tersebut. Hal tersebut menjadi sangat jelas bahwa bukan hanya Ananias yang mengetahui, jauh lebih dalam bahwa mereka bersepakat untuk mempersembahkan setengah dari hasil penjualan tersebut. Petrus mengetahui hal ini, dan ia menegur dengan keras bahwa perbuatan yang dilakukan Ananias tidaklah benar. Ada yang salah di dalam motivasi untuk memberi yang dilakukan pasangan suami-istri tersebut. Mereka memberi bukan berdasar kerelaan, mereka menahan sebagian hasil penjualan tersebut yang jikalau pun hasil tersebut tidak ditahan oleh mereka, hasil itu tetap berada dalam kuasa mereka. Satu hal lagi yang menjadi dosa mereka adalah ketidakjujuran mereka dihadapan Allah, lagi rasul Petrus menegur bahwa mereka bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah. Maka, kematian yang menghampiri Ananias. Hal yang sama menimpa pula kepada Safira yang adalah istri Ananias, ia tidak mengetahui kalau suaminya telah mati, maka ketika Petrus bertanya perihal penjualan tersebut, Petrus pun mendapati bahwa Safira pun bersepakat dengan suaminya yang membuat dia pun mati.

Dari dua kisah tersebut kita dapat melihat bahwa kejujuran di dalam memberi menjadi hal yang sangat penting di dalam hidup kita. Ananias dan Safira telah menjadi contoh ketidakjujuran. Ketidakjujuran yang kita lakukan dihadapan sesama, bukan hanya membuat kita berdosa terhadap sesama, tetapi juga dihadapan Tuhan. Seringkali kita membuat dikotomi dalam dosa, dosa terhadap manusia dan Allah, padahal segala dosa yang kita lakukan adalah dosa kepada Allah (Maz. 51:6). Dosa tetap ada konsekuensi, dan Ananias beserta isterinya pun menjadi contoh bahwa Allah tidak main-main dalam menanggapi dosa. Dan hal inilah yang seharusnya membuat kita sadar bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dpermainkan (bdk. Gal. 6:7).
Kejujuran sangat erat kaitannya dengan motivasi seseorang dalam berperilaku. Sebagai orang percaya, kejujuran mau tidak mau memaksa kita pribadi untuk memiliki motivasi yang benar didalam bertindak bagi sesama kita maupun dihadapan Allah. Kejujuran dan keterbukaan kita dalam hidup ini adalah salah satu contoh bahwa kita adalah orang-orang yang dikuduskan Allah. Jangan terlalu sering memakai topeng, mari kita lepas topeng kita masing-masing, dan hidup jujur sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di sepanjang zaman.

Mari hidup jujur dihadapan Allah!
Mari hidup jujur ketika tiada seorang pun melihat!
Mari hidup jujur dihadapan sesama!
Dan ketika pun kita dicobai untuk hidup tidak jujur, Jangan Lupa untuk Hidup Jujur!

Jumat, 21 Oktober 2016

Menyangkal diri, Memikul salib, dan Mengikut Yesus (Refleksi Markus 8:31-38)

Setelah peristiwa pengakuan Petrus akan Yesus adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup (Mrk. 8:27-30; Mat. 16:13-20; Luk. 9:18-21), maka Yesus mulai mengajar. Ia mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, penolakan, bahkan kematian dan kebangkitan. Hal ini tentu saja kontras dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias atau orang yang dinantikan akan membawa pemulihan bagi Kerajaan Israel, layaknya pada masa Daud seperti yang dinubuatkan nabi-nabi pada Perjanijan Lama (bdk. Yer.23:5&33:15; Mik. 5:1). Tentu kita akan sulit membayangkan seandainya seseorang yang kita yakini akan membawa perubahan menubuatkan bahwa dirinya akan menderita bahkan sampai mati. tentu ini adalah hal yang konyol.
Adalah suatu tindakan manusiawi kalau Petrus menarik Yesus dan menegur, bahkan dalam Matius 16:22, lebih terang Petrus berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Kewajaran dari tindakan Petrus tampaknya tidak membuahkan hasil yang manis. Terang saja, Yesus menegur Petrus dengan sangat keras: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Keras sekali bukan? Jelas sekali seolah-olah Petrus tak lain dan tak bukan adalah Iblis, hal yang sangat kontras dengan respon Yesus pada pengakuan Petrus atas diri-Nya. Tentu Petrus bukanlah Iblis, karena ia adalah manusia biasa, hal tersebut dikarenakan Petrus tidak memikirkan apa yang Allah pikirkan melainkan apa yang manusia pikirkan.
Dan hal ini sering sekali menimpa orang-orang yang mengaku murid Kristus. Sering sekali pemikiran pribadi yang akhirnya kita lakukan, tanpa bertanya kepada Allah tentang apa yang Allah kehendaki. Dan sering sekali pula manusia berkutat pada keinginan diri hingga akhirnya terkesan mengabaikan Allah. Tentunya tidak salah mempunyai keinginan, dan tentunya manusia ingin yang terbaik bagi dirinya, tetapi hal tersebut tidak selalu sejalan dengan keinginan Allah. Maka kita perlu mengetahui apa yang Allah kehendaki melalui doa dan firman Allah.
Yesus pun melanjutkan apa yang diajarkan-Nya bahwa orang yang ingin menjadi murid-Nya harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Jikalau dipikir-pikir, hal ini sangat sulit dicapai, nampaknya Yesus menetapkan standar yang sangat tinggi. Tentu hal ini sedikit banyak menjadi faktor orang banyak meninggalkan kekristenan. Meskipun standard ini terlalu tinggi diterapkan, bukan berarti kita tidak menjalaninya, karena ini adalah anugerah yang Allah berikan. Berjalan bersama Yesus memikul salib yang harus kita pikul, menyangkal diri untuk kehendak Allah, mengikut Dia dengan penyerahan total. Kita akan membahas satu per satu dari syarat mengikut Yesus:
1)        Menyangkal Diri (NET: “Deny Himself”)
Menyangkal berarti ada proses penolakan atau meniadakan. Menyangkal diri berarti menolak diri, menolak segala keinginan diri dan menjadikan kehendak Allah yang terutama harus dilakuka. Sama seperti teladan Yesus yang mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Flp. 2:6-8). Seorang murid Kristus harus menyadari, ketika statusnya berubah menjadi anak Allah, berarti hidupnya bukan miliknya pribadi, melainkan milik Allah. Hidupnya bukan tentang dirinya lagi, melainkan tentang Kristus (Gal. 2:19b-20).
2)        Memikul Salib(NET: “Take up his cross”)
Salib merupakan lambang kebodohan bagi orang-orang yang akan binasa, tetapi Salib adalah hikmat Allah yang tertinggi bagi kita yang diselamatkan (1Kor. 1:18-25). Kata “memikul” mempunyai makna lebih dalam daripada kata “membawa”. Memikul identik dengan beban yang sangat berat yang harus dibawa dengan ditaruh diatas pundak. Maka tidak heran jikalau seorang teolog dari Jepang yaitu Kosuke Koyama menuliskan judul bukunya “Tidak Ada Gagang Pada Salib”. Salib bukanlah ember, koper, atau sesuatu yang dengan mudah kita dapat mengangkat dan menggenggamnya. Bahkan Kosuke Koyama mengatakn lebih lanjut bahwa Yesus tidak memikul salibnya seperti seorang pengusaha menenteng tasnya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh seorang teolog dari Jerman, yaitu Dietrich Bonhoeffer: “When Christ call a man, He bids him to come and die.” Maka tak heran, banyak sekali rasul dan murid-murid pada awal kekristenan yang mengalami penderitaan bahkan sampa mati martir. Penderitaan bukan dicari-cari, melainkan suatu keniscayaan yang akan didapat seorang Kristen. Orang Kristen pasti akan menderita, karena berani menjadi Kristen, berarti siap untuk mati bersama Kristus dan hidup bagi Allah (Flp. 1:21; Yoh. 15:20). Sekarang, mari kita hilangkan ke”aku”an dan mulailah bergerak aktif untuk memikul salib kita masing-masing.
3)        Mengikut Aku (NET: Follow Me)
Dalam mengikut, ada suatu bentuk aktif penyerahan diri terhadap figure yang kita ikuti. Mengikut Yesus berarti menyerahkan hidup kita di dalam Dia dan mempertaruhkan semuanya, bukan menjadi pemandu sorak yang hanya bisa berteriak dari pinggir lapangan, melainkan ikut bertanding bersama Dia di dalam lapangan tersebut. Mengikut Yesus berarti mempunyai keyakinan  bahwa Ia yang menjaga hidup kita hingga harinya kelak, kita hidup bersama-sama dengan Dia, dengan menatap muka (2Tim 1:12). Penyerahan diri yag total merupakan kunci dari mengikut Yesus.

Orang percaya atau murid Kristus tidak akan memusingkan dirinya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri ketika penderitaan melanda, ia akan maju sesuai perintah Tuannya dan berlari dalam pertandingan iman hingga akhirnya kelak keselamatan dari Allah dirasakan sepenuhnya. Maka tidak heran Yesus berkata bahwa tidak ada gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, kalau pada akhirnya kehilangan nyawanya, karena nyawa tidak dapat diselamatkan oleh harta atau takhta yang kita peroleh di dunia ini, melainkan melalui darah Kristus yang mahal, yang tercurah pada kayu salib (1Pet. 2:18-19).
Ada harga yang tak ternilai untuk sebuah keselamatan, begitu juga ada harga yang mahal yang harus dibayar untuk menjadi seorang murid Kristus (penderitaan)  yang berbagian dalam Misi Allah bagi dunia ini.

Rabu, 05 Oktober 2016

Jangan Lupa: Harapan Masih Ada!

Malam itu Bob dikejutkan oleh kabar buruk yang menimpanya. Adiknya telah berpulang ke rumah Bapa di sorga. Sontak air mata keluar deras membasahi pipinya. Ia tak kuasa untuk masuk ke dalam kamarnya. Pada malam itu, kamarnya ramai oleh kawan-kawan satu kostnya yang berkumpul bercengkrama satu sama lain. Ia hanya berdiri di balkon, menengadah ke langit dan berteriak dalam hati: “Tuhan apa maumu? Kenapa ini terjadi? Tuhan aku percaya kepada-Mu, tolong bangunkan dia.” Ia berteriak demikian sambil merasakan gejolak batin, di satu sisi ia berharap Tuhan melakukan mujizat, tetapi di sisi lain ia menyadari bahwa adiknya sudah tiada. “Tuhan terima kasih untuk kenangan 11 tahun bersama dirinya” ujar Bob memaksakan dirinya untuk bersyukur di tengah kemalangan ini. Malam itu terasa menyesakkan bagi dia, ia tidak dapat mengeluarkan air matanya lagi. Bahkan ketika teman-temannya datang untuk menghibur dia, ia pun tidak banyak bicara seperti sebelumnya, hanya diam dan menjawab seadanya, seakan-akan bagai orang yang tidak mempunyai harapan.
Esoknya ia pulang ke rumahnya, dengan berbekal seadanya, ia hanya ingin melihat adiknya untuk terakhir kalinya sebelum peti ditutup. Ia berangkat pukul 12.00 WIB dan sampai pukul 14.30 WIB, di luar sudah ada Toni yang menjemputnya. Toni adalah abang dari Bob, bukan abang kandung, melainkan abang karena ayah mereka bersaudara walaupun tidak sedarah, tetapi hubungan mereka sudah bisa dikatakan sebagai keluarga sedarah. Selama ini hanya Toni lah teman satu angkatan Bob, dan setiap Bob pulang ke rumah dari perantauan panjang, Toni selalu setia menemani Bob untu menikmati indahnya kota megapolitan (khususnya malam hari). “Ayok Bob, sini gua angkat tas lu” ujar Toni dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka menuju parkiran motor dan langsung berangkat menuju rumah duka di samping gereja. Seketika sampai, semua langsung menyambut Bob dengan isak tangis. Bob hanya dia, setetes air mata pun tidak jatuh membasahi pipinya, ia menyantuh muka adiknya untuk terakhir kalinya, sambil memeluk ibunya yang menangis tersedu-sedu melihat kedatangannya.
“Lihat adikmu ini, mang (sebutan khas orang batak)” sambil menangis ibunya berkata. “iya ma, jangan nangis mama, adik sudah tenang bersama Tuhan” Bob berkata sambil menguatkan dirinya sendiri. Waktu terus berjalan dan peti pun ditutup, semua berangkat menuju tempat pemakaman. Sesampainya disana, semua orang bergegas menuju tanah yang sudah digali yang siap menerima kedatangan tubuh yang terbujur kaku, disanalah ia akan dimakamkan. Nyayian puji-pujian dilantukan, renungan dibacakan, isak tangis terus menghiasi hari itu, terkecuali dengan apa yang dialami Bob, setetes air mata belum keluar dari matanya. Peti sudah dimasukkan dan tanah sudah menutupnya, tetapi air mata sebagian orang tetap mengucur deras. Akhirnya semua pulang ke rumah masing-masing, Toni terus memerhatikan Bob. “Lu kenapa Bob, gue serem liat lu, gak ada nangis daritadi” Toni nyeletuk. Bob hanya tersenyum kecut, ia berujar dalam hati “kau tidak merasakannya”. Sebagian orang menemani keluarga Bob di rumahnya hingga larut malam sambil bercerita tentang kebaikan adiknya dan rasa heran orang-orang disekitarnya atas kepergian adiknya yang terlalu cepat. Hari itu dilewati dengan suasana kabung.
Keesokan harinya, masih diwarnai dengan suasana yang sama. Ayah yang menangis ketika melihat foto anaknya yang sudah tiada, ibu yang menangis ketika mengumpulkan baju-baju anaknya yang akan diserahkan kepada teman-teman sepermainan Ferdi. Ya, nama adiknya Bob itu adalah Ferdi. Bob hanya mengerjakan tugasnya sebagai anak tertua, ia menghibur keluarganya di tengah-tengah suasana hatinya yang butuh dihiburkan juga. Hari demi hari kesedihan pun berkurang dengan keyakinan bahwa Ferdi telah senang berada di pangkuan Bapa di sorga. Mereka hanya mengingat dan belajar mengaminkan firman Tuhan bahwa Yesus menerima anak-anak di dalam Kerajaan Sorga. Meskipun kesedihan sudah berkurang, tetapi tidak bagi Bob, ia merasakan sesuatu yang aneh. Perasaan yang bercampur-aduk kesedihan, kekosongan, keraguan, kehilangan harapan. Semuanya itu dialaminya.
Tiba waktunya Bob harus kembali ke tempat kuliahnya. Keluarganya mengantarkan sampai Bandara. “Lanjutkan cita-cita adikmu ya mang” Sang Ayah berpesan dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya, Pak” jawab Bob. Keberangkatan Bob kembali ke tempat kuliahnya diiring dengan rasa pilu. Bob adalah mahasiswa semester akhir di salah satu universitas di pulau Sumatera. Sesampainya di bandara di daerah ia melanjutkan studinya. Ia pun bergegas ke tempat kostnya dan memberi kabar kepada keluarga bahwa ia telah sampai dengan selamat. Keesokan harinya ia ke kampus sambil membawa skripsi dan bertemu dosen untuk meminta persetujuan siding meja hijau. Dua minggu kemudian siding meja hijau dilaksanakan. Seperti biasa, ia memulai pagi dengan membaca alkitab dan berdoa diiringi permohonan bahwa Tuhan akan menyertainya pada saat sidang meja hijau belangsung. Benar saja, Bob melewati sidang meja hijau tersebut dengan baik dan dinyatakan lulus dan meraih gelar sarjana. Tak lupa ia mengucap syukur kepada Tuhan dan memberi kabar kepada orang tuanya. Ia merasakan sukacita disertai rasa hampa seakan semangat telah memudar.
Hari demi hari dan bulan demi bulan ia lalui dengan perasaan aneh yang menyelimuti dirinya seakan hilang harapan, kekosongan, keraguan, kesedihan yang terus menemaninya sampai senyum seakan hilang dari wajahnya. Bahkan sampai kepada momen wisuda pun, ia masih tetap diselimuti perasaan demikian. Ia terus membaca alkitab dan berdoa, ikut persekutuan dan kelompok tumbuh bersama, tetapi tetap saja ia tak kuasa menahan perasaan itu yang membuat dirinya pun terbawa larut dalam perasaan tersebut. Ia seperti orang yang kebingungan seakan-akan tiada jalan lagi baginya untuk merasakan indahnya hadirat Tuhan. Ia merasakan Tuhan tidak ada disampingnya.
Hingga suatu waktu ia ikut dalam ibadah persekutuan alumni, sekaligus merayakan hari ulang tahun persekutuan tersebut. Ya, sebenarnya momen tersebut sangat ia hindari, tetapi apa daya, ia seakan tidak bisa menghindari acara tersebut. “ehh jadi ikut abang?” tanya Dani yang adalah juniornya di kampus. “iya nih, gak bisa ngelak aku” jawab Bob diiring tawa. Tibalah di tempat ibadah tersebut. Seperti biasa, ibadah dimulai dengan nyanyian puji-pujian dan khotbah yang dibawakan oleh Pembicara. Satu hari itu adalah momen berbeda dari ibadah biasanya, karena setelah ibadah masih ada acara lainnya (diskusi dan puncak perayaan serta refleksi). Semua berjalan dengan baik, tibalah di penghujung acara, yaitu momen refleksi untuk merenungkan apa yang telah dirasakan dan didapat satu hari tersebut. Bob berpikir bahwa momen ini akan terjadi seperti biasanya menulis di lembaran kertas dan berdoa. Dan sesuai dengan pemikiran Bob, demikianlah terlaksana.
Tetapi ada berbeda dirasakan oleh Bob, sepanjang setengah jam mereka diajak oleh Pembicara untuk merenungkan dan berdoa, hanya satu ayat alkitab yang diucapkan oleh pembicara tersebut. Dan kata-kata yang berasal dari ayat alkitab tersebutlah yang menjadi titik balik dari apa yang dirasakan Bob. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama orang kudus dapat memahami, betapa panjangnya dan lebarnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Ef. 3:18-19). Dan ayat tersebutlah yang menjadi doanya setiap hari. Semakin hari ia mengalami ketenangan dan sukacita telah kembali.
Semua perasaan yang dialaminya (kehampaan, kesedihan, hilang semangat dan sukacita), yang membawanya seakan hilang harapan tersebut telah sirna. Ia kini mendapat harapan baru untuk menikmati Tuhan, harapan baru untuk hidup berbahagia di dalam Allah, harapan baru menjalankan panggilannya di masa depan bersama Allah. Terlebih ia belajar satu hal penting bahwa serumit apapun yang ia alami, bahkan kekosongan sekalipun akan hadirat Allah yang ia rasakan, pengharapan masih ada. Tangan Tuhan tetap terulur untuk menolong ia yang jatuh terlalu dalam dan memberikan secercah harapan yang gemilang bersama Tuhan. Ia tidak menampik bahwa beban dan cobaan terus akan datang, tetapi ia percaya bahwa pengharapan masih ada diiringi iman dan anugerah dari Allah. ~End~
~Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.~
(Mazmur 62:6)

Sabtu, 27 Desember 2014

Allah yang Berdaulat dan Iman yang sejati


Daniel pasal 2-6 berbicara tentang kedaulatan Allah dan respon anak-anakNya yang mau dipakainya dalam situasi apapun, bagaimanapun. Penderitaan nyala api, gua singa membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang sanggup
mengubahkan hati raja Nebukadnezar, raja Belsyazar, raja Darius, sehingga mereka menyembah Allah yang disembah Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Bukti iman