Jumat, 15 Desember 2017

Anak Muda Jadi Teladan? Siapa Takut!

Hellow, udah lama gak ngeblog, mau sharing-sharing dikit ya (maklumin, udah setahun sembunyi di goa, hehehe), maklumin juga tulisannya agak berantakan :D. Langsung ke pointnya aja deh, menurut kita apa sih masa muda itu? Pasti banyak banget definisinya. Menurut saya, masa muda itu adalah masa-masa dimana seseorang mengalami perkembangan fisik, emosional dan karakter. Masa muda adalah juga sebuah masa yang paling strategis (menurut hemat saya) dimana ide, paham, dan konsep-konsep saling berbenturan dan berebut untuk memberi pengaruh pada anak muda, karena masa muda adalah masa-masa pencarian jati diri juga (wesss berat nihh :D). 

Kita harus akui, anak-anak muda sekarang, entah itu Gen Y atau Z atau Millenials yang termasuk saya sendiri,  adalah anak-anak yang penuh potensi, banyak bakat dan lebih kreatif (sombong amat gue yak :D), dan lebih melankolis (mungkin, wkwk). Buktinya banyak talenta-talenta berbakat yang kadang bisa bikin orang-orang lain gak habis pikir. Nah, potensi yang demikian besarlah yang sedang dinanti bangsa dan gereja saat ini demi kemajuan bersama ke arah yang lebih baik. Saya rasa disini porsi anak-anak muda yang sudah mengenal Allah untuk memberi pengaruh baik terhadap anak-anak muda yang lainnya. 

Ditengah-tengah kondisi zaman yang banyak menuntuk ke-aku-an atau cinta diri, kita gak bisa menampik bahwa banyak anak-anak muda yang terseret dalam ke-aku-an (termasuk saya sendiri). Saya tidak bilang tidak boleh mencintai diri, boleh tapi jangan berlebihan seolah-olah hanya diri ini lah yang patut mendapat perhatian hingga akhirnya kita melupakan Tuhan. 

Hal seperti ini sudah Paulus tuliskan dalam 2 Timotius 3:1-9, dimana ia bilang bahwa dimasa-masa kemudian masa-masa yang sukar ditandai dengan manusia lebih mencintai diri sendiri dan melawan Allah. Salah satu contoh adalah dimana orang maunya mendengar apa yang enak di telinganya saja, susah untuk mau mendengar nasihat atau teguran, gak jauh beda sama masa sekarang dan justru banyak orang yang ditegur lebih keras dari yang menegur. Di masa-masa seperti itu Paulus menasihatkan Timotius untu mengingatkan teman-teman seiman untuk menjauhi dongeng-dongeng atau takhayul dan melatih diri beribadah supaya ia menjadi pelayan Kristus yang baik dan diperkenan Allah (1 Tim. 4:6-11). 

Bukan hanya itu, menjadi teladan dan dengan berani untuk mengabarkan firman Allah kepada siapapun (termasuk orang yang lebih tua). Berani itu yang Paulus hendak maksudkan kepada Timotius, berani untuk menegur jemaat, berani untuk beritakan kebenaran, berani untuk menjaga sikap hidup yang benar. Penting untuk kita ketahui bahwa Timotius adalah seorang yang pemalu dan penakut (2 Kor. 16:10-11; 2 Tim 1:7-8), namun Paulus menguatkan  agar Timotius berani menjalankan tugasnya sebagai penggembala jemaat kelak walaupun ia seorang yang muda yang mungkin dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang lebih tua dalam urusan memimpin jemaat (atau karena belum banyak makan asam garam kehidupan). Paulus juga menasihatkan bukan hanya untuk berani melainkan juga menjadi teladan. Tealdan dalam hal perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, kesucian. Menjadi teladan hidup seperti apa yang Yesus ajarkan, menjadi kitab hidup yang dapat dilihat semua orang sehingga banya orang memuji Allah melalui hidup kita. 

Konteks zaman Timotius gak jauh beda sama zaman kita, yang beda mungkin teknologi atau budaya yang udah makin berkembang. Nasihat-nasihat Paulus kepada Timotius patut kita renungkan dan lakukan juga dalam kehidupan kita sekarang sebagai anak muda. Berani untuk hidup benar sesuai kehendak Allah, berani untuk menjadi teladan dan mengabarkan firman Allah, berani menebarkan cinta kasih sekalipun banyak yang mempertanyakan bahkan mungkin mengejek, kita harus tetap setia.  

Nah gimana caranya agar tetap survive melakuka hal tersebut?. Yang menjadi  permasalahan sekarang adalah  banyak yang mau berbuat baik dan terima yang baik tapi gak kenal sama sumbernya terlebih dahulu. Ini bahaya! Karena nanti dampaknya akan melemahkan kita sendiri, tanpa pengenalan yang dalam akan Allah, kita cenderung akan mudah menyerah dengan semua tekanan yang ada. Maka hal-hal praktis agar kita gak mudah menyerah dan semakin mengenal Allah patut kita lakukan yaitu dengan baca kitab suci dan doa dengan rajin, setelah itu kita aplikasikan dalam hidup kita. Semakin banyak kita membaca, semakin tahu kita dan semakin dalam mengenal Allah kita dan apa yang dikehendakiNya, dengan doa kita dapat mengutarakan isi hati kita, terbuka di hadapan Allah. Hal itulah yang menguatkan kita. So, kalo kita rajin melakukan hal ini, kita akan semakin kuat ketika diperhadapkan tantangan hidup yang menuntut kita hidup dengan standard dunia. Kita juga semakin kuat untuk melakukan kehendak Allah dan menjadi teladan sebagai anak-anak muda

So, jangan takut jadi orang muda dan jadilah teladan!


Jumat, 02 Desember 2016

Tidak Ada Intinya! (Mungkin Ada?)

Saya seorang sarjana, lulusan dari universitas ternama di Pulau Sumatera. Layaknya masyarakat kita, gelar ini sangat berarti dan cukup untuk membuat nama seeorang harum di lingkungannya, tapi gelar ini pun bisa menjadi boomerang bagi yang menyandangnya. Yah, menjadi boomerang karena si penyandang tak kunjung menghasilkan sesuatu atau konkritnya tidak bekerja dan menghasilkan uang, setidak-tidaknya untuk membahagiakan keluarga di rumah. Dan saya pun akhirnya memutuskan untuk mencoba mencari pekerjaan, walaupun dalam hati kecil saya, tidak merasa melakukan dengan segenap hati karena ini bukan impian saya. Orang bisa berkata bahwa saya seorang yang sangat idealis atau mungkin seorang yang bodah yang tidak memperhatikan realita dunia ini.
Saya memulai untuk melamar pekerjaan di perusahaan retail dan distribusi buku, alat multimedia dan atk ternama di Indonesia. Semua pasti sudah tahu bahwa ada satu toko buku ternama yang namanya sudah cukup besar di Indonesia. Ya, Gramedia menjadi tempat pertama saya untuk melamar perkerjaan. Sebagai orang yang baru melamar pekerjaan, rasa dag dig dug pasti melanda dan saya tidak tahu mengapa rasa itu saya alami, mungkin dorongan emosional karena mencoba hal yang baru (mungkin saja). Saya mengirim lamaran untuk 2 posisi, yaitu sebagai Store Supervisor dan Asisten Editor Fiksi/Non Fiksi di perusahaan tersebut. Saya mengirim berkas lamaran melalui email dimana 3 hari lagi batas terakhir pengiriman lamaran akan ditutup. Dan betul saja memang dalam hati kecil saya, tidak menaruh harapan terlalu besar untuk hal ini.
Dan hal yang tidak diduga pun terjadi, pertama bahwa pihak perusahaan Gramedia membalas secara cepat berkas lamaran yang saya kirimkan, hanya berselang 1 hari dari berkas lamaran yang saya kirimkan. Dan yang kedua adalah bahwa dalam surat balasan tersebut saya dinyatakan lolos berkas dan mendapat undangan untuk mengikuti test psikotest dari serangkaian test masuk ke perusahaan tersebut. Melihat surat balasan tersebut, ada perasaan bahagia yang saya alami dan sangat bertolak belakang dengan perasaan yang saya alami ketika mencobanya yang seakan ogah-ogahan. Syarat saya mengikuti test tersebut adalah membawa berkas-berkas lamaran saya (CV, 4 lembar formulir dari pihak Gramedia, NPWP kalau ada, Fotocopy rek. BCA kalau ada, Fotocopy KTP, Fotocopy ijazah dan transkrip nilai yang di legalisir). Saya mengikuti test psikotest tersebut selang dua hari setelah saya membaca surat tersebut, ya seolah-olah semua berjalan sangat cepat.  
Test dilaksanakan di gedung Kompas Gramedia yang terletak di jalan Palmerah Selatan. Test dilaksanakan pukul 09.00WIB tepat. Ya, lagi-lagi saya tidak berharap banya dalam test ini, dikarenakan baru pertama kali mencobanya dengan tujuan melamar pekerjaan dan kedua karena saya mengisi tidak bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia. Saya hanya mau ditempatkan di Jakarta karena ada suatu hal yang tidak bisa saya ceritakan. Pertama kali dibuka oleh perkenalan dari pengawas dan mereka menjelaskan tentang perusahaan tersebut dan sekaligus menjelaskan beberapa tahapan untuk sampai bekerja di Gramedia. Asal tau saja ada beberapa tahapan untuk sampai bekerja disana. Pertama test berkas, kedua test psikotes, ketiga FGD dan wawancara (HR dan Gaji), kelima test medis/kesehatan, kalau dinyatakan lolos tes medis tahapan selajutnya ialah hire atau perekrutan dan itu tahap menandakan seseorang bisa bekerja dalam perusahaan tersebut.
Dimulai dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing dan kemudia mengerjakan soal-soal test sampai 2 jam. Seperti pengalaman dari teman-teman saya, test tersebut berisi test kata, matematika, test koran dan yang terakhir tes untuk menjawab pernyataan dengan benar atau salah sesuai kepribadian. Menurut saya, bagian yang paling sulit adalah test koran dikarenakan harus berpacu dengan waktu yang ditentukan pengawas (walaupun menurut artikel yang saya baca, test koran bertujuan untuk melihat grafik dari peserta yang menandakan bagaimana dia bekerja nantinya). Saya sarankan harus sarapan dan banyak minum sebelum mengikuti test tersebut karena menguras energi yang banyak. Setelah test berakhir, kami diminta untuk menunggu pengumuman paling lambat 2 minggu kedepan.
Benar saja dan tepat pada waktunya, saya mendapat email dari pihak HR-Gramedia yang menyatakan tidak lolos. Dan sehari kemudian saya melihat kembali email saya dan mendapat surat yang yang menyatakan saya lulus. Yang bisa saya lakukan hanya bersyukur karena bisa lolos tahapan selanjutnya yaitu FGD dan wawancara. Selang 5 hari kemudian FGD pun diadakan, kali ini di gedung HR GoRP di jalan Palmerah Selatan No.14. Dari 9 peserta yang namanya tertulis pada daftar hadir, hanya 6 orang yang mengikuti FGD. FGD dimulai dengan topik Kepemimpinan, masing-masing peserta harus mengurutkan angka 1-14 dimulai dari yang paling penting (1) hingga kurang penting (14) tentang karakteristik pemimpin yang sudah disediakan dalam kertas soal dan jawaban. Kedua, para peserta harus mempresentasikan jawabannya di depan peserta lainnya dan tentunya pengawas dan dilanjutkan dengan tanya-jawab antar peserta yang memperhatikan dan yang mempresentasikan. Dan terakhir adalah berdiskusi untuk menentukan mana yang paling penting dan kurang penting tentang karakteristik kepemimpinan dan tahapan ini cukup lama. Setelah selesai peserta diperintahkan untuk menunggu hasil yang menentukan siapa yang lolos untuk wawancara.
Hal yang berbeda saya rasakan dari sebelumnya, setelah saya mengikuti FGD tersebut, saya yakin saya akan lolos. Karena saya lumayan banyak bertanya dan menjelaskan hasil pemikiran saya (walaupun saya sudah baca artikel bahwa dalam FGD, yang banyak berbicara belum tentu lolos, tapi entah mengapa perasaan yakin lolos itu semakin tinggi). Kami harap-harap cemas menunggu hasilnya, dan tepat pada pukul 12.00WIB, hasil pengumuman ditempel di depan pintu ruangan tempat kami melaksanakan FGD. Ketika saya membaca hasilnya, nama saya tidak tertera dalam daftar orang yang lolos untuk wawancara. Seketika perasaan saya yang sangat yakin akan lolos pun sirna dan saya pulang kerumah dengan sedikit kekecewaan. Tentunya ini menjadi suatu pengalaman bagi saya….

Rabu, 09 November 2016

Jangan Lupa Hidup Jujur (Refleksi Kisah Para Rasul 4:36-5:1-11)

Lukas mencatat bahwa setelah peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-13), kehidupan para murid berubah total. Mereka semakin berani mengabarkan tentang Yesus. Bahkan cara hidup mereka disukai oleh banyak orang (Kis. 2:47). Mereka sehati, sejiwa, dan tidak ada sesuatu yang menjadi milik kepunyaan sendiri, semua adalah milik bersama (Kis. 4:32). Milik bersama? Terdengar aneh bukan? Tapi itulah yang terjadi pada masa itu. Mereka tidak ada yang berkekurangan, karena semua orang yang mempunyai tanah ataupun rumah, pasti menjualnya dan hasil penjualannya itu dibawa ke depan kaki rasul –rasul  dan dibagi-bagikan sesuai keperluan mereka. Terdengar konyol bukan? Ya, tetapi hel tersebut merupakan gambaran perubahan hidup mereka, ketika mereka percaya kepada Kristus.
 Dan kisah hidup demikianlah yang mengantarkan kita kepada 2 contoh di dalam alkitab terkait dengan kejujuran. Mengapa harus kejujuran? Pernah mendengar pepatah “dimana hartamu berada, disitu hatimu berada”?. Ketika seseorang mempunyai harta, ia pasti akan menjaga harta tersebut dan hal itu adalah manusiawi. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika harta menguasai hati kita, dan kita menghambakan diri pada harta, sehingga apapun yang kita lakukan hanya demi menjaga maupun menambah tumpukan harta kita. Maka tidak heran, fenomena ini berkaitan dengan kejujuran seseorang.
Perikop ini menceritakan dua contoh orang yang berlaku terkait dengan kejujuran dalam hal mempersembahkan hasil penjualan mereka.
1.      Barnabas
Barnabas adalah seorang dari rekan rasul-rasul, yang memiliki nama asli Yusuf (Kis. 4:36). Ia adalah seorang Lewi yang berasal dari Siprus. Ia memiliki arti nama anak penghiburan, yang pada akhirnya menjadi rekan Paulus dalam mengabarkan Injil ke orang-orang non Yahudi (Kis. 15:2-35) dan berpisah karena perselisihan dengan Paulus (Kis. 15:36-39). Barnabas adalah salah satu dari orang-orang yang ikut mempersembahkan hasil menjual ladangnya di hadapan rasul-rasul. Ia adalah seorang yang jujur dan tercatat bahwa ia tidak menyembunyikan apapun di dalam dirinya. Karena ia benar-benar tulus di dalam mempersembahkan hasil penjualannya tersebut. Buah pertobatan dan kasih yang dialaminya terpancar melalui kehidupannya dengan menyerahkan uang hasil penjualan ladang untuk membantu jemaat yang berkekurangan dan nyatalah sesuai dengan arti namanya tersebut, bahwa ia menjadi teladan dalam kejujuran dan anak penghiburan bagi rasul-rasul.
2.      Ananias dan Safira
Mereka adalah pasangan suami istri dan merupakan anggota jemaat. Mereka juga bersepakat untuk mempersembahkan hasil penjualan sebidang tanah kepunyaan mereka dihadapan rasul-rasul. Dan dengan setahu isterinya, Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan sebidang tanah tersebut. Hal tersebut menjadi sangat jelas bahwa bukan hanya Ananias yang mengetahui, jauh lebih dalam bahwa mereka bersepakat untuk mempersembahkan setengah dari hasil penjualan tersebut. Petrus mengetahui hal ini, dan ia menegur dengan keras bahwa perbuatan yang dilakukan Ananias tidaklah benar. Ada yang salah di dalam motivasi untuk memberi yang dilakukan pasangan suami-istri tersebut. Mereka memberi bukan berdasar kerelaan, mereka menahan sebagian hasil penjualan tersebut yang jikalau pun hasil tersebut tidak ditahan oleh mereka, hasil itu tetap berada dalam kuasa mereka. Satu hal lagi yang menjadi dosa mereka adalah ketidakjujuran mereka dihadapan Allah, lagi rasul Petrus menegur bahwa mereka bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah. Maka, kematian yang menghampiri Ananias. Hal yang sama menimpa pula kepada Safira yang adalah istri Ananias, ia tidak mengetahui kalau suaminya telah mati, maka ketika Petrus bertanya perihal penjualan tersebut, Petrus pun mendapati bahwa Safira pun bersepakat dengan suaminya yang membuat dia pun mati.

Dari dua kisah tersebut kita dapat melihat bahwa kejujuran di dalam memberi menjadi hal yang sangat penting di dalam hidup kita. Ananias dan Safira telah menjadi contoh ketidakjujuran. Ketidakjujuran yang kita lakukan dihadapan sesama, bukan hanya membuat kita berdosa terhadap sesama, tetapi juga dihadapan Tuhan. Seringkali kita membuat dikotomi dalam dosa, dosa terhadap manusia dan Allah, padahal segala dosa yang kita lakukan adalah dosa kepada Allah (Maz. 51:6). Dosa tetap ada konsekuensi, dan Ananias beserta isterinya pun menjadi contoh bahwa Allah tidak main-main dalam menanggapi dosa. Dan hal inilah yang seharusnya membuat kita sadar bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dpermainkan (bdk. Gal. 6:7).
Kejujuran sangat erat kaitannya dengan motivasi seseorang dalam berperilaku. Sebagai orang percaya, kejujuran mau tidak mau memaksa kita pribadi untuk memiliki motivasi yang benar didalam bertindak bagi sesama kita maupun dihadapan Allah. Kejujuran dan keterbukaan kita dalam hidup ini adalah salah satu contoh bahwa kita adalah orang-orang yang dikuduskan Allah. Jangan terlalu sering memakai topeng, mari kita lepas topeng kita masing-masing, dan hidup jujur sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di sepanjang zaman.

Mari hidup jujur dihadapan Allah!
Mari hidup jujur ketika tiada seorang pun melihat!
Mari hidup jujur dihadapan sesama!
Dan ketika pun kita dicobai untuk hidup tidak jujur, Jangan Lupa untuk Hidup Jujur!

Jumat, 21 Oktober 2016

Menyangkal diri, Memikul salib, dan Mengikut Yesus (Refleksi Markus 8:31-38)

Setelah peristiwa pengakuan Petrus akan Yesus adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup (Mrk. 8:27-30; Mat. 16:13-20; Luk. 9:18-21), maka Yesus mulai mengajar. Ia mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, penolakan, bahkan kematian dan kebangkitan. Hal ini tentu saja kontras dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias atau orang yang dinantikan akan membawa pemulihan bagi Kerajaan Israel, layaknya pada masa Daud seperti yang dinubuatkan nabi-nabi pada Perjanijan Lama (bdk. Yer.23:5&33:15; Mik. 5:1). Tentu kita akan sulit membayangkan seandainya seseorang yang kita yakini akan membawa perubahan menubuatkan bahwa dirinya akan menderita bahkan sampai mati. tentu ini adalah hal yang konyol.
Adalah suatu tindakan manusiawi kalau Petrus menarik Yesus dan menegur, bahkan dalam Matius 16:22, lebih terang Petrus berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Kewajaran dari tindakan Petrus tampaknya tidak membuahkan hasil yang manis. Terang saja, Yesus menegur Petrus dengan sangat keras: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Keras sekali bukan? Jelas sekali seolah-olah Petrus tak lain dan tak bukan adalah Iblis, hal yang sangat kontras dengan respon Yesus pada pengakuan Petrus atas diri-Nya. Tentu Petrus bukanlah Iblis, karena ia adalah manusia biasa, hal tersebut dikarenakan Petrus tidak memikirkan apa yang Allah pikirkan melainkan apa yang manusia pikirkan.
Dan hal ini sering sekali menimpa orang-orang yang mengaku murid Kristus. Sering sekali pemikiran pribadi yang akhirnya kita lakukan, tanpa bertanya kepada Allah tentang apa yang Allah kehendaki. Dan sering sekali pula manusia berkutat pada keinginan diri hingga akhirnya terkesan mengabaikan Allah. Tentunya tidak salah mempunyai keinginan, dan tentunya manusia ingin yang terbaik bagi dirinya, tetapi hal tersebut tidak selalu sejalan dengan keinginan Allah. Maka kita perlu mengetahui apa yang Allah kehendaki melalui doa dan firman Allah.
Yesus pun melanjutkan apa yang diajarkan-Nya bahwa orang yang ingin menjadi murid-Nya harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Jikalau dipikir-pikir, hal ini sangat sulit dicapai, nampaknya Yesus menetapkan standar yang sangat tinggi. Tentu hal ini sedikit banyak menjadi faktor orang banyak meninggalkan kekristenan. Meskipun standard ini terlalu tinggi diterapkan, bukan berarti kita tidak menjalaninya, karena ini adalah anugerah yang Allah berikan. Berjalan bersama Yesus memikul salib yang harus kita pikul, menyangkal diri untuk kehendak Allah, mengikut Dia dengan penyerahan total. Kita akan membahas satu per satu dari syarat mengikut Yesus:
1)        Menyangkal Diri (NET: “Deny Himself”)
Menyangkal berarti ada proses penolakan atau meniadakan. Menyangkal diri berarti menolak diri, menolak segala keinginan diri dan menjadikan kehendak Allah yang terutama harus dilakuka. Sama seperti teladan Yesus yang mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Flp. 2:6-8). Seorang murid Kristus harus menyadari, ketika statusnya berubah menjadi anak Allah, berarti hidupnya bukan miliknya pribadi, melainkan milik Allah. Hidupnya bukan tentang dirinya lagi, melainkan tentang Kristus (Gal. 2:19b-20).
2)        Memikul Salib(NET: “Take up his cross”)
Salib merupakan lambang kebodohan bagi orang-orang yang akan binasa, tetapi Salib adalah hikmat Allah yang tertinggi bagi kita yang diselamatkan (1Kor. 1:18-25). Kata “memikul” mempunyai makna lebih dalam daripada kata “membawa”. Memikul identik dengan beban yang sangat berat yang harus dibawa dengan ditaruh diatas pundak. Maka tidak heran jikalau seorang teolog dari Jepang yaitu Kosuke Koyama menuliskan judul bukunya “Tidak Ada Gagang Pada Salib”. Salib bukanlah ember, koper, atau sesuatu yang dengan mudah kita dapat mengangkat dan menggenggamnya. Bahkan Kosuke Koyama mengatakn lebih lanjut bahwa Yesus tidak memikul salibnya seperti seorang pengusaha menenteng tasnya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh seorang teolog dari Jerman, yaitu Dietrich Bonhoeffer: “When Christ call a man, He bids him to come and die.” Maka tak heran, banyak sekali rasul dan murid-murid pada awal kekristenan yang mengalami penderitaan bahkan sampa mati martir. Penderitaan bukan dicari-cari, melainkan suatu keniscayaan yang akan didapat seorang Kristen. Orang Kristen pasti akan menderita, karena berani menjadi Kristen, berarti siap untuk mati bersama Kristus dan hidup bagi Allah (Flp. 1:21; Yoh. 15:20). Sekarang, mari kita hilangkan ke”aku”an dan mulailah bergerak aktif untuk memikul salib kita masing-masing.
3)        Mengikut Aku (NET: Follow Me)
Dalam mengikut, ada suatu bentuk aktif penyerahan diri terhadap figure yang kita ikuti. Mengikut Yesus berarti menyerahkan hidup kita di dalam Dia dan mempertaruhkan semuanya, bukan menjadi pemandu sorak yang hanya bisa berteriak dari pinggir lapangan, melainkan ikut bertanding bersama Dia di dalam lapangan tersebut. Mengikut Yesus berarti mempunyai keyakinan  bahwa Ia yang menjaga hidup kita hingga harinya kelak, kita hidup bersama-sama dengan Dia, dengan menatap muka (2Tim 1:12). Penyerahan diri yag total merupakan kunci dari mengikut Yesus.

Orang percaya atau murid Kristus tidak akan memusingkan dirinya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri ketika penderitaan melanda, ia akan maju sesuai perintah Tuannya dan berlari dalam pertandingan iman hingga akhirnya kelak keselamatan dari Allah dirasakan sepenuhnya. Maka tidak heran Yesus berkata bahwa tidak ada gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, kalau pada akhirnya kehilangan nyawanya, karena nyawa tidak dapat diselamatkan oleh harta atau takhta yang kita peroleh di dunia ini, melainkan melalui darah Kristus yang mahal, yang tercurah pada kayu salib (1Pet. 2:18-19).
Ada harga yang tak ternilai untuk sebuah keselamatan, begitu juga ada harga yang mahal yang harus dibayar untuk menjadi seorang murid Kristus (penderitaan)  yang berbagian dalam Misi Allah bagi dunia ini.

Rabu, 05 Oktober 2016

Jangan Lupa: Harapan Masih Ada!

Malam itu Bob dikejutkan oleh kabar buruk yang menimpanya. Adiknya telah berpulang ke rumah Bapa di sorga. Sontak air mata keluar deras membasahi pipinya. Ia tak kuasa untuk masuk ke dalam kamarnya. Pada malam itu, kamarnya ramai oleh kawan-kawan satu kostnya yang berkumpul bercengkrama satu sama lain. Ia hanya berdiri di balkon, menengadah ke langit dan berteriak dalam hati: “Tuhan apa maumu? Kenapa ini terjadi? Tuhan aku percaya kepada-Mu, tolong bangunkan dia.” Ia berteriak demikian sambil merasakan gejolak batin, di satu sisi ia berharap Tuhan melakukan mujizat, tetapi di sisi lain ia menyadari bahwa adiknya sudah tiada. “Tuhan terima kasih untuk kenangan 11 tahun bersama dirinya” ujar Bob memaksakan dirinya untuk bersyukur di tengah kemalangan ini. Malam itu terasa menyesakkan bagi dia, ia tidak dapat mengeluarkan air matanya lagi. Bahkan ketika teman-temannya datang untuk menghibur dia, ia pun tidak banyak bicara seperti sebelumnya, hanya diam dan menjawab seadanya, seakan-akan bagai orang yang tidak mempunyai harapan.
Esoknya ia pulang ke rumahnya, dengan berbekal seadanya, ia hanya ingin melihat adiknya untuk terakhir kalinya sebelum peti ditutup. Ia berangkat pukul 12.00 WIB dan sampai pukul 14.30 WIB, di luar sudah ada Toni yang menjemputnya. Toni adalah abang dari Bob, bukan abang kandung, melainkan abang karena ayah mereka bersaudara walaupun tidak sedarah, tetapi hubungan mereka sudah bisa dikatakan sebagai keluarga sedarah. Selama ini hanya Toni lah teman satu angkatan Bob, dan setiap Bob pulang ke rumah dari perantauan panjang, Toni selalu setia menemani Bob untu menikmati indahnya kota megapolitan (khususnya malam hari). “Ayok Bob, sini gua angkat tas lu” ujar Toni dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka menuju parkiran motor dan langsung berangkat menuju rumah duka di samping gereja. Seketika sampai, semua langsung menyambut Bob dengan isak tangis. Bob hanya dia, setetes air mata pun tidak jatuh membasahi pipinya, ia menyantuh muka adiknya untuk terakhir kalinya, sambil memeluk ibunya yang menangis tersedu-sedu melihat kedatangannya.
“Lihat adikmu ini, mang (sebutan khas orang batak)” sambil menangis ibunya berkata. “iya ma, jangan nangis mama, adik sudah tenang bersama Tuhan” Bob berkata sambil menguatkan dirinya sendiri. Waktu terus berjalan dan peti pun ditutup, semua berangkat menuju tempat pemakaman. Sesampainya disana, semua orang bergegas menuju tanah yang sudah digali yang siap menerima kedatangan tubuh yang terbujur kaku, disanalah ia akan dimakamkan. Nyayian puji-pujian dilantukan, renungan dibacakan, isak tangis terus menghiasi hari itu, terkecuali dengan apa yang dialami Bob, setetes air mata belum keluar dari matanya. Peti sudah dimasukkan dan tanah sudah menutupnya, tetapi air mata sebagian orang tetap mengucur deras. Akhirnya semua pulang ke rumah masing-masing, Toni terus memerhatikan Bob. “Lu kenapa Bob, gue serem liat lu, gak ada nangis daritadi” Toni nyeletuk. Bob hanya tersenyum kecut, ia berujar dalam hati “kau tidak merasakannya”. Sebagian orang menemani keluarga Bob di rumahnya hingga larut malam sambil bercerita tentang kebaikan adiknya dan rasa heran orang-orang disekitarnya atas kepergian adiknya yang terlalu cepat. Hari itu dilewati dengan suasana kabung.
Keesokan harinya, masih diwarnai dengan suasana yang sama. Ayah yang menangis ketika melihat foto anaknya yang sudah tiada, ibu yang menangis ketika mengumpulkan baju-baju anaknya yang akan diserahkan kepada teman-teman sepermainan Ferdi. Ya, nama adiknya Bob itu adalah Ferdi. Bob hanya mengerjakan tugasnya sebagai anak tertua, ia menghibur keluarganya di tengah-tengah suasana hatinya yang butuh dihiburkan juga. Hari demi hari kesedihan pun berkurang dengan keyakinan bahwa Ferdi telah senang berada di pangkuan Bapa di sorga. Mereka hanya mengingat dan belajar mengaminkan firman Tuhan bahwa Yesus menerima anak-anak di dalam Kerajaan Sorga. Meskipun kesedihan sudah berkurang, tetapi tidak bagi Bob, ia merasakan sesuatu yang aneh. Perasaan yang bercampur-aduk kesedihan, kekosongan, keraguan, kehilangan harapan. Semuanya itu dialaminya.
Tiba waktunya Bob harus kembali ke tempat kuliahnya. Keluarganya mengantarkan sampai Bandara. “Lanjutkan cita-cita adikmu ya mang” Sang Ayah berpesan dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya, Pak” jawab Bob. Keberangkatan Bob kembali ke tempat kuliahnya diiring dengan rasa pilu. Bob adalah mahasiswa semester akhir di salah satu universitas di pulau Sumatera. Sesampainya di bandara di daerah ia melanjutkan studinya. Ia pun bergegas ke tempat kostnya dan memberi kabar kepada keluarga bahwa ia telah sampai dengan selamat. Keesokan harinya ia ke kampus sambil membawa skripsi dan bertemu dosen untuk meminta persetujuan siding meja hijau. Dua minggu kemudian siding meja hijau dilaksanakan. Seperti biasa, ia memulai pagi dengan membaca alkitab dan berdoa diiringi permohonan bahwa Tuhan akan menyertainya pada saat sidang meja hijau belangsung. Benar saja, Bob melewati sidang meja hijau tersebut dengan baik dan dinyatakan lulus dan meraih gelar sarjana. Tak lupa ia mengucap syukur kepada Tuhan dan memberi kabar kepada orang tuanya. Ia merasakan sukacita disertai rasa hampa seakan semangat telah memudar.
Hari demi hari dan bulan demi bulan ia lalui dengan perasaan aneh yang menyelimuti dirinya seakan hilang harapan, kekosongan, keraguan, kesedihan yang terus menemaninya sampai senyum seakan hilang dari wajahnya. Bahkan sampai kepada momen wisuda pun, ia masih tetap diselimuti perasaan demikian. Ia terus membaca alkitab dan berdoa, ikut persekutuan dan kelompok tumbuh bersama, tetapi tetap saja ia tak kuasa menahan perasaan itu yang membuat dirinya pun terbawa larut dalam perasaan tersebut. Ia seperti orang yang kebingungan seakan-akan tiada jalan lagi baginya untuk merasakan indahnya hadirat Tuhan. Ia merasakan Tuhan tidak ada disampingnya.
Hingga suatu waktu ia ikut dalam ibadah persekutuan alumni, sekaligus merayakan hari ulang tahun persekutuan tersebut. Ya, sebenarnya momen tersebut sangat ia hindari, tetapi apa daya, ia seakan tidak bisa menghindari acara tersebut. “ehh jadi ikut abang?” tanya Dani yang adalah juniornya di kampus. “iya nih, gak bisa ngelak aku” jawab Bob diiring tawa. Tibalah di tempat ibadah tersebut. Seperti biasa, ibadah dimulai dengan nyanyian puji-pujian dan khotbah yang dibawakan oleh Pembicara. Satu hari itu adalah momen berbeda dari ibadah biasanya, karena setelah ibadah masih ada acara lainnya (diskusi dan puncak perayaan serta refleksi). Semua berjalan dengan baik, tibalah di penghujung acara, yaitu momen refleksi untuk merenungkan apa yang telah dirasakan dan didapat satu hari tersebut. Bob berpikir bahwa momen ini akan terjadi seperti biasanya menulis di lembaran kertas dan berdoa. Dan sesuai dengan pemikiran Bob, demikianlah terlaksana.
Tetapi ada berbeda dirasakan oleh Bob, sepanjang setengah jam mereka diajak oleh Pembicara untuk merenungkan dan berdoa, hanya satu ayat alkitab yang diucapkan oleh pembicara tersebut. Dan kata-kata yang berasal dari ayat alkitab tersebutlah yang menjadi titik balik dari apa yang dirasakan Bob. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama orang kudus dapat memahami, betapa panjangnya dan lebarnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Ef. 3:18-19). Dan ayat tersebutlah yang menjadi doanya setiap hari. Semakin hari ia mengalami ketenangan dan sukacita telah kembali.
Semua perasaan yang dialaminya (kehampaan, kesedihan, hilang semangat dan sukacita), yang membawanya seakan hilang harapan tersebut telah sirna. Ia kini mendapat harapan baru untuk menikmati Tuhan, harapan baru untuk hidup berbahagia di dalam Allah, harapan baru menjalankan panggilannya di masa depan bersama Allah. Terlebih ia belajar satu hal penting bahwa serumit apapun yang ia alami, bahkan kekosongan sekalipun akan hadirat Allah yang ia rasakan, pengharapan masih ada. Tangan Tuhan tetap terulur untuk menolong ia yang jatuh terlalu dalam dan memberikan secercah harapan yang gemilang bersama Tuhan. Ia tidak menampik bahwa beban dan cobaan terus akan datang, tetapi ia percaya bahwa pengharapan masih ada diiringi iman dan anugerah dari Allah. ~End~
~Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.~
(Mazmur 62:6)