Rabu, 06 April 2022

Gyarados: Transformasi Absurd



Pernah mendengar nama ini? Mungkin sebagian besar tidak pernah mendengarnya, kecuali para penggemar anime atau game Pokemon. Gyarados adalah nama karakter evolusi dari pokemon yang sangat lemah yaitu Magikarp, pokemon yang terinspirasi dari ikan mas asia yang mampu melompat cukup tinggi.

Evolusi Magikarp menjadi Gyarados adalah sebuah hal yang absurd, karena dari salah satu pokemon yang terlemah bisa menjadi pokemon terkuat.

Konon katanya, energi yang diperoleh dari proses evolusi menstimulasi sel-sel otaknya (Magikarp) dengan kuat, menyebabkan Pokémon ini berubah menjadi sangat ganas.

Evolusi Magikarp menjadi Gyarados terinspirasi oleh legenda Cina Kuno yang menyatakan bahwa jika seekor ikan mas mampu melompat melewati Gerbang Naga mitos maka ikan tersebut akan berubah menjadi naga.


Menurut cerita fiksinya, Gyarados adalah salah satu pokemon yang terkuat dan mampu menghancurkan satu desa. Tentu sangat membingungkan bagaimana mungkin pokemon yang sangat lemah dapat berevolusi sedemikian rupa dan tentunya ini sangat tidak masuk akal.  

Namun, melalui cerita fiksi seperti ini, saya mendapati satu hal bahwa manusia mempunyai semacam ide bawaan seperti ini. Gagasan-gagasan ideal adanya perubahan yang memang tak masuk akal bagi sebagian orang, yang kerap kita lakukan dan mungkin menjadi kenangan masa kecil yang indah ketika kita ingin berubah menjadi power ranger dan ksatria baja hitam, atau tokoh fiksi yang lainnya.  

Namun, sekalipun tidak masuk akal, gagasan seperti ini bukanlah gagasan yang tidak mungkin terjadi. Dua ribu tahun yang lalu, ada seseorang yang mampu membuat orang lain mampu berubah seperti ini. Orang tersebut ialah Yesus, yang disebut Mesias. Pandangan orang Israel pada masa itu, sosok Mesias adalah seseorang yang mampu membawa pembebasan dari penjajahan maupun membentuk pemerintahan yang adil, layaknya Raja Daud terdahulu. 

Nyatanya, Mesias yang mereka temukan tidak seperti yang mereka harapkan. Dia adalah Raja yang menderita. Ia memang membebaskan, tapi bukan membebaskan bangsa itu dari penjajahan Romawi melainkan dari perbudakan dosa yang merupakan masalah laten manusia. Kematiannya menjadi bukti bahwa hukuman dosa manusia ditimpakan pada-Nya dan kebangkitan-Nya menjadi bukti bahwa maut telah dikalahkan dan manusia mempunyai pengharapan melalui Dia yang telah merasakan bahkan lebih lagi merasakan penderitaan yang kita rasakan (bdk. Yes. 53:5, Ibr. 4:14-15).

Keyakinan yang sungguh yang dibuktikan melalui iman kita kepada-Nya itulah yang memberikan perubahan yang nampaknya juga tidak masuk akal. Setidaknya itulah yang dirasakan para murid-Nya dan rasul yang lain. Setelah kematian-Nya, nampaknya para murid tidak bergeming seolah tidak mempunyai landasan untuk berharap, tetapi setelah kebangkitan dan peristiwa turunnya Roh Kudus mereka menjadi manusia yang baru. Roh Kudus memberi mereka keberanian untuk merekan mengabarkan Injil. Nelayan, pemungut cukai, keturunan kaum pemberontak (Simon orang Zelot), si skeptis, dan pembunuh besar (Paulus) menjadi tokoh yang bahkan berani mati untuk pemberitaan tentang satu orang yang adalah Juruselamat.

Bukan hanya mereka, kita juga (dapat) mengalaminya. Saya juga akan membagikan apa yang saya alami. Hal yang sama saya rasakan 8 tahun lalu, di tengah pergumulan mempertanyakan kebenaran dan eksistensi Allah selama 1,5 tahun. Saya memberanikan diri membaca Alkitab, saya begitu terkoreksi bahwa saya adalah manusia yang tidak benar. Saya begitu sombong ketika meragukan akan adanya Tuhan, dan justru berkata bahwa Tuhan adalah produk dari pikiran manusia. Saya berpikir kehidupan yang saya jalani bisa saya kendalikan sendiri, nyatanya sekeras apapun saya tetap tidak bisa mengendalikan diri saya.

Bergulat dalam pikiran ini membuat saya begitu kacau. Singkat cerita,  dalam keheningan saya merenung dan mendapati begitu jahatnya saya dan kehidupan yang saya jalani. Hati saya terdorong untuk berdoa mengakui dosa dalam hening kamar kost. Ketika semua usai ada sebuah kebahagiaan yang tak dapat tergambarkan, sulit menjelaskan tapi begitu bahagia dirasakan, lebih dari perasaan ketika pertama kali jatuh cinta pada seorang perempuan dan tentunya hati saya berkobar. Bahkan dalam masa sulit yang kami alami (ketika adik saya meninggal), saya mendapatkan suatu penghiburan yang tidak pernah berhenti, kekuatan untuk menjalani hidup bahkan pengharapan di tengah badai, yang mungkin tak masuk akal bagi sebagian orang.

Perubahan yang tak masuk akal ini sudah dan saya yakin akan terus saya alami. Bagaimana dengan cerita kita masing-masing?

Sumber Gambar: https://id.portal-pokemon.com/play/pokedex/130_1 dan https://bulbapedia.bulbagarden.net/wiki/Magikarp_(Pok%C3%A9mon)

Minggu, 29 Desember 2019

Bahagia Orang yang Dibenarkan




"Baik belum tentu benar, tetapi benar sudah pasti baik", begitulah frasa yang sering kita dengar. Tentu kita dapat mengartikan kata-kata tersebut bahwa " benar" sudah pasti meliputi banyak hal dalamnya salah satunya kebaikan.

Tetapi apakah yang menjadi pokok penting dari sebuah kebenaran?
Sepanjang zaman banyak sekali yang menafsirkan hal ini, dan akhirnya timbul berbagai macam jawaban. 

Ada yang menjawab jika sesuatu tidak logis (tidak bisa diterima akal, maka tidak benar), ada pula yang menjawab kebenaran itu sesuai fakta, jika sesuatu itu ada, maka benar adanya, tetapi jika sesuatu tidak ada, maka benar pula tidak adanya.

Pasca modern, yaitu masa post modern, kebenaran menjadi sebuah hal yang rancu karena kebenaran bergantung pada individu manusia itu sendiri, hal ini lumrah kita dengar dengan sebutan "kebenaran itu relatif".

Menjadi sebuah ironi ketika individu-individu yang mempunyai sebuah standar kebenaran sendiri itu mengikat diri pada sebuah sistem baku yang mempunyai standar kebenaran sendiri pula, yaitu agama. Ragam agama khususnya samawi menyebut kebenaran itu bersumber pada Sang Ilahi yang tidak kelihatan dan yang sering dipertanyakan eksistensinya.

Berbagai agama sepakat bahwa manusia mempunyai masalah dalam menafsirkan kebenaran (walaupun manusia punya sifat-sifat dan karakter Ilahi). Satu masalah laten yang menyebabkan manusia gagal adalah dosa. Dosa bukan hanya menjadikan manusia gagal menafsirkan kebenaran, bahkan lebih lagi menjadikan manusia itu sendiri tidak benar.

Kesadaran bahwa manusia tidak benar karena melakukan dosa, membuat manusia berupaya membangun sebuah sistem untuk mencapai realita kebenaran (Allah) yang dipercayainya melalui agama. Maka tak heran dalam ritus" ibadah tiap-tiap agama selalu terselip doa untuk memohon ampun pada yang Tak Kelihatan, yang menjadi sumber kebenaran itu.

Terlalu banyak sistem (agama) yang dibangun justru membuat manusia menjadi bingung sendiri, dan mulai mempertanyakan kembali iman mana yang benar.
Berbagai pencarian dilalui, dan muncul beberapa pribadi yang diyakini menjadi pendiri dan penerima wahyu Tuhan untuk mendirikan sebuah jalan benar menuju Tuhan itu sendiri.

Menariknya dari beberapa pribadi tersebut, ada satu sosok frontal, menjadi banyak perbincangan bahkan melintasi tiap zaman yaitu Yesus Kristus. Ia menjadi sosok yang diyakini sebagai Inkarnasi Allah itu sendiri, yang berkuasa bahkan untuk mengampuni dosa oleh semua orang Kristen di dunia ini.

Dalam kekristenan, timbul suatu konsep kebenaran bahwa Allah pada mulanya menciptakan semesta, bumi dan segala isinya sesuai dengan rencana indah-Nya. Tapi rencana itu rusak ketika manusia melakukan dosa. Tapi Allah tidaklah Allah yang diam dan memaklumi, justru Ia mengusahakan kembali supaya rencana-Nya terealisasi dengan baik.  

Dengan kesadaran bahwa manusia tidak benar dan tidak akan mampu menjadi benar kecuali mengalami pembenaran oleh Allah itu sendiri, sepanjang zaman nabi-nabi di masa lampau, Ia menjanjikan akan datang penyelamat.

Allah yang kekal itu dalam hening dan diam mengutus Anak-Nya masuk dalam realitas ruang dan waktu, mengambil rupa seorang hamba, bahkan taat sampai mati oleh karena pengorbanan menjadi satu-satunya jalan pembenaran manusia itu sendiri. Ia melakukan semua karena Ia tak dapat membohongi diriNya yang penuh setia dan kasih. 

Ia lah Kristus, manusia ilahi yang benar itu, yang tak berdosa. Dalam kebenaran dan kesucianNya, Ia rela menjadi berdosa demi membenarkan manusia dalam keberdosaannya. Kejijikan-Nya akan dosa tak mampu membendung kasih dan pengampunan-Nya bagi manusia yang mau percaya dan mengakui ketidakbenarannya. Ia yang begitu mulia dibungkus dalam kain lampin di palungan. Ia yang begitu kaya, rela melayani, menjadi miskin bagi orang-orang yang dikasihiNya. Ia kebenaran itu sendiri dan setiap orang yang percaya kepada-Nya, dibenarkan-Nya dalam keberdosaan (Rom. 5:8).

Begitu banyak kesaksian mengenai indahnya menjadi orang yang dibenarkan, tapi saya begitu tertarik dengan kisah Daud dalam Mazmur 32:1-11. Dalam nas tersebut kita bisa merasakan emosi Daud yang begitu berbahagia karena Allah sangat kasih kepadanya. Ia berbahagia ketika dosanya diampuni. 

Daud yang sudah menjadi patah semangat bahkan seakan tulang-tulangnya menjadi kering. Mungkin sampai pada tahap mempertanyakan Tuhan dan kasih setia-Nya (bdk. Maz. 77:8-10). Tapi Daud memberanikan diri mengakui dosa dan Allah tetap berbelas kasih. Pengakuan akan ketidakbenarannya dihadapan Allah membuat jiwanya merasakan suatu hal yang berbeda. Ia sangat bersukacita, ada suatu kebahagiaan yang tak terlukiskan oleh karena pengampunan dari Allah. 

Tentunya kebahagiaan yang Daud rasakan itu bukan kebahagiaan semu, tapi menjadi suatu keyakinan bahwa imannya kepada Allah menjadi iman yang benar. Lebih dari itu, pengampunan dosa yang diterima bukan hanya menjadikan ia dapat menafsirkan kebenaran dengan benar tetapi juga ia mengalami pembenaran dan menjadi manusia benar oleh karenanya.

Hal yang sama saya rasakan 8 tahun lalu, di tengah pergumulan mempertanyakan kebenaran dan eksistensi Allah selama 1,5 tahun. Saya memberanikan diri membaca Alkitab, saya begitu terkoreksi bahwa saya adalah manusia yang tidak benar. Saya begitu sombong ketika meragukan akan adanya Tuhan, dan justru berkata bahwa Tuhan adalah produk dari pikiran manusia. Saya berpikir kehidupan yang saya jalani bisa saya kendalikan sendiri, nyatanya sekeras apapun saya tetap tidak bisa mengendalikan diri saya.
 
Bergulat dalam pikiran ini membuat saya begitu kacau. Singkat cerita,  dalam keheningan saya merenung dan mendapati begitu jahatnya saya dan kehidupan yang saya jalani. Hati saya terdorong untuk berdoa mengakui dosa dalam hening kamar kost. Ketika semua usai ada sebuah kebahagiaan yang tak dapat tergambarkan, sulit menjelaskan tapi begitu bahagia dirasakan, lebih dari perasaan ketika pertama kali jatuh cinta pada seorang perempuan. 

Pengampunan dosa yang saya rasakan lebih dari sekedar menjadikan kita dapat menafsirkan kebenaran secara benar tapi menjadikan kita benar oleh karena kebenaran pengampunan dosa oleh Kristus. Lebih lagi kebahagiaan itu rasakan ketika menyadari bahwa Kristus yang menderita itu merasakan apa yang kita rasakan dan berjanji menyertai kita sepanjang hidup kita. 

Mungkin kita sudah pernah merasakannya, atau saat ini sedang merasakan bagaimana sangat tertekan karena dosa kita. Datanglah pada Allah, Ia akan mendengar doa kita dan mengampuni kita seperti janji-Nya:   "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." {1 Yohanes 1:9 (TB)}
Ini adalah janji yang manis untuk kita. Itulah kebahagiaan orang yang dibenarkan, ketika Kristus, Allah menjadi berdosa supaya dosa kita diampuni oleh Bapa.

*Jesus, thou joy of loving hearts, Thou fount of life, thou Light of men, From the best bliss that earth imparts We turn unfilled to Thee again. We taste Thee, O Thou living Bread, And long to feast upon Thee still: We drink of Thee, the Fountainhead, And thirst our souls from Thee to fill. O Jesus, ever with us stay, Make all our moments calm and bright; Chase the dark night of sin away, Shed o'er the world Thy holy light.*
(St. Bernard from Clairvaux)

Minggu, 14 Juli 2019

Berdiam dan Meyakini Kehendak Allah (Refleksi Matius 26:36-46)

Nas ini merupakan suatu rangkaian peristiwa malam terakhir sebelum Yesus disalibkan. Taman Getsemani itu menjadi saksi bisu akan kesedihan, ketakutan, penyerahan diri dalam diam, keheningan dan kegamangan  yang dialami oleh seorang pribadi perombak sejarah semesta ini. Sekaligus menjadi suatu tanda pengingat tetap bagi orang yang percaya pada-Nya untuk merenungkan makna akan apa yang dilakukan-Nya pasca peristiwa tersebut. Peristiwa yang bukan hanya mengguncang dunia dan menjadi perdebatan hingga hari ini, tapi lebih jauh daripada itu, yaitu peristiwa yang dapat merubah hati dan pikiran manusia yang mempercayai Pribadi tersebut.

Nas ini dimulai dengan kata-kata “maka sampailah…” yang berarti bahwa Ia (Yesus) berjalan dari suatu tempat dan menuju Getsemani (Lukas menyebutkan dalam bahwa Ia berjalan seperti biasanya---Luk. 22:39), tetapi ketiga Injil sinoptik menuliskan bahwa kejadian itu ditulis setelah perjamuan malam terakhir yang dilakukan Yesus dengan murid-murid-Nya. Untuk Getsemani sendiri, tiada informasi jelas mengenai letak taman ini, tetapi yang pasti berada di sekitaran Bukit Zaitun (ay.30). Sesampainya, Yesus menyuruh sebagian besar murid-Nya untuk duduk dan Ia pergi untuk berdoa. Lukas mencatat bahwa pergi ke Bukit Zaitun adalah sebuah kebiasaan bagi Yesus yang artinya murid-murid-Nya pun tentu tak heran dengan apa yang dilakukan oleh gurunya tersebut.

Menjadi sebuah keunikan bahwa Yesus memilih tiga orang murid untuk menemani-Nya ke tempat Ia berdoa. Ia sempat menceritakan kepada Petrus bahwa hati-Nya sangat sedih dan seperti mau mati rasanya. Tentu hal ini membuat sedikit banyak goncangan dalam hati dan pikiran ketiga murid tersebut, karena semenjak perjamuan malam, Yesus Sang Mesias yang diharapkan untuk membebaskan umat Israel terus saja berbicara tentang kematian dan kematian dan mungkin dalam hati, mereka terus bertanya apa yang akan terjadi setelahnya.

Dalam kegentaran dan kesedihan yang dialami-Nya,  Yesus meminta mereka untuk berjaga selagi Ia berdoa. Ia menunjukkan suatu hal yang indah dalam suasana hening yang mencekam, Ia yang adalah insan dan Ilahi mengambil suatu waktu khusus untuk berdiam, mencurahkan seluru isi hati-Nya pada Bapa. Dalam kegentaran, kerumitan, ketakutan, kesedihan yang dialami, Ia memilih berdiam, mendengar Bapa berbicara dan menyatakan kehendak-Nya (Bapa). Kesedihan dan kegentaran-Nya menjadi suatu bukti bagi kita bahwa Ia adalah Allah yang dekat,  yang turut merasakan ketakutan dan kegentaran yang sama sepeti yang kita alami, bahkan lebih daripada yang kita rasakan.

Satu hal kemudian, juga dalam keheningan, Ia meminta murid-Nya “berjaga”. Saya tidak tahu pasti apa yang menjadi tujuan Yesus meminta murid-Nya berjaga entah mencegah datangnya gangguan, saya tidak tahu persis. Tapi saya mendapat suatu perenungan pribadi bahwa jauh daripada itu Yesus meminta murid-murid (bahkan kita) agar kita tak hilang fokus atau luput daripada Tuhan dengan kata lain, jiwa kita terpaut dan bergantung hanya pada Dia, Allah Bapa kita di tengah segala realita yang memungkinkan kita untuk berbelok menjauh dari koridor Tuhan.

Satu hal yang menarik kemudian, dalam doa-Nya, Yesus berbicara: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Dalam hening , Ia berdoa dan memohon dengan gentar “sekiranya mungkin…” suatu kata yang menunjukkan betapa ketakutan itu sangat kuat menekan diri Yesus, bahkan Lukas menyebutkan peluh-Nya seperti titik-titik darah, bahkan malaikat datang untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43-44), artinya ini bukan hal yang main-main, di dalam kata tersebut menunjukkan betapa mau tidak mau ada suatu harapan yang tidak dapat dicapai, suatu permohonan yang tidak terkabulkan. Permohonan akan lepas dari suatu ketakutan, penderitaan yang hebat dimana Ia mengalami keterpisahan total dengan Bapa ketika dosa-dosa manusia ditimpakan kepada-Nya, dimana Ia menjadi kutuk atas suatu kesalahan yang tidak pernah dibuat-Nya (Gal. 3:13), juga dimana Bapa menyembunyikan wajah-Nya dan meninggalkan-Nya (bdk. Mat. 27:46).

Cawan itu juga sekaligus membuka mata kita bahwa keterpisahan dari Allah menjadi suatu hal yang sangat mengerikan, yang membuat jiwa kita tersiksa, membuat kita seharusnya menyadari dan turut bersedih karena kita telah sangat jauh meninggalkan Allah karena dosa kita. Cawan itu juga yang menjadi salah satu dasar kita berharap bahwa Yesus mengalami sama bahkan lebih daripada yang kita alami sebagai manusia.

Selanjutnya kita melihat bahwa Ia berkata: “janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” . Dalam kata ini setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya pribadi (mungkin bagi kita juga):

1)     Penerimaan
Yesus di dalam kegentaran dan kesedihannya dengan rendah hati menerima apa yang akan terjadi kedepan. Sekalipun menakutkan dan dapat dibayangkan betapa menderita-Nya, Ia menerima apapun yang terjadi. Ia menerima dalam suatu keyakinan penuh bahwa kehendak Bapa adalah yang terutam dan yang terbaik.

2)     Penyerahan Diri
“Jadilah kehendak-Mu…” menjadi kata umum yang dipakai khususnya orang Kristen dalam doa-doa yang dilantunkan setiap hari. Terlepas dari terdistorsinya makna kata ini karena sering digunakan (mungkin), kata ini juga menjadi suatu isyarat akan penyerahan diri dalam kehendak Allah, yanga berarti totalitas hidup kita bergantung pada Allah. Bukan berarti tidak bekerja dan tidak melakukan apa-apa, justru sebaliknya membuat kita bekerja bahkan melakukan apapun dengan giat karena ada suatu pengharapan akan janji penyertaan Allah yang memungkinkan kita menjalani hari tanpa kekuatiran akan masa kedepan.
   
3)     Pengharapan
“Jadilah kehendak-Mu…” juga menjadi suatu proklamasi iman. Bahwa apapun yang terjadi dalam hidup, kita dengan rendah hati menerimanya. Sekalipun sulit yang kita terima, tidak membuat kita lantas menyalahkan Tuhan dan sekalipun senang yang kita dapat, juga tak membuat kita lantas menjadi tinggi hati, karena itu adalah kemurahan hati Allah. Proklamasi itu menghantarkan kita pada suatu harapan dan keyakinan bahwa Ia menjaga apapun yang kita taruhkan hingga hari-Nya kelak

Sekali lagi, ungkapan “Jadilah kehendak-Mu…” ini menjadi ungkapan penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan Yesus dalam doa-Nya, bahwa sekalipun cawan itu ditimpakan, hal itu adalah kenyataan yang harus Ia terima dalam kehadiran-Nya di dunia ini. Sekalipun takut, sedih, gentar, Ia menerima dengan penyerahan diri pada Bapa dalam kehendak-Nya, karena ia yakin bahwa misi-Nya bukan menjadi suatu misi yang sia-sia, karena banya orang yang dimenangkan oleh pemberitaan salib Kristus.

Dan menjadi suatu perhatian bagi kita, bahwa peristiwa ini bukan isapan jempol belaka, bukan peristiwa tanpa makna, karena kita dapat melihat bukti sampai tiga kali Ia berdoa mengucapkan hal yang sama. Peristiwa ini menjadi suatu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan manusia, bahwa Sang Agung harus mengalam kegentaran dan kesedihan, juga menjadi teladan dalam penerimaan atas realita yang akan terjadi karena keyakinan bahwa kehendak Bapa adalah yang terbaik. Peristiwa yang tidak hanya merubah arah sejarah sekaligus mengubah hati manusia sebagai pelaku sejarah yang percaya akan kematian dan kebangkitan-Nya.

Lantas, apa yang bisa saya lakukan terkait refleksi ini?

1)     Mengambil waktu khusus untuk berdiam
Dalam zaman yang super sibuk ini, mau tidak mau, energi kita akan terkuras banyak dan membuat kita dengan mudah menjadi hilang fokus akan tugas kita sebagai orang percaya. Sama seperti Yesus, mari ambil suatu waktu khusus untuk kita berdiam, berdoa, berbincang dan mencurahkan seluruh isi hati kita dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan meminta diberi hati yang mau menerima realita sebagai bagian dari kehendak Allah untuk mengajari kita hidup di dalam Dia.

2)     Mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik
“Izinkan saya bercerita sedikit gambaran yang saya alami selepas lulus dari perguruan tinggi. Saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pendeta di suatu gereja dan hal ini sudah sejak kecil saya cita-citakan dan baru saya mengerti mengapa saya bercita-cita demikian ketika menjadi mahasiswa dan dibina di kelompok kecil. Dalam kurun waktu enam tahun (sampai sekarang) saya tetap mendoakannya (walaupun ada masanya saya tidak taat mendoakannya). Selepas saya lulus dari perguruan tinggi, dengan keyakinan bahwa saya tidak mau merepotkan orang lain terlalu banyak untuk mencapai cita-cita saya (biasanya orang yang mau menjadi hamba Tuhan, mendapat bantuan dana dari donator-donatur), maka saya mencari kerja dengan suatu pandangan setidaknya saya punya modal juga untuk sekolah ke depan.

Saban hari saya melamar, saya banyak mengalami kegagalan, bahkan sampai tiga tahun saya banyak mengalami kegagalan, diperparah dengan kondisi semangat keluarga yang menurun drastis karena adik saya meninggal karena sakit sewaktu saya masih menyusun skripsi di medan. Sangat terasa bagaimana kacaunya hidup saya, kondisi jiwa saya tidak stabil, saya banya mempertanyakan ekesistensi saya sebagai manusia, dan  depresi? Ya saya mengalami, bahkan saya pernah menangis sambil berteriak “Kenapa saya alami hal ini?” Keluarga juga tidak tinggal diam, mereka menguatkan saya bahwa Tuhan pasti berikan yang terbaik. Lihat? Saya yang banyak belajar tentang Tuhan justru dikuatkan oleh keluarga saya yang tidak banyak membuka alkitab untuk dibaca. Peristiwa itu menjadi sebuah sentilan bagi saya, bahwa saya masih punya harapan walaupun keyakinan saya akan hal itu hanya secuil.

Dalam gamang yang saya alami, saya mencoba berdoa dalam tangis di kamar mandi, sekiranya Tuhan mau berbelas kasih dan memberi saya kekuatan serta iman untuk percaya bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi saya. Bak gayung bersambut, singkat cerita, adik konseling saya menelpon dan bercerita bahwa dirinya sangat gelisah memikirkan saya dan hendak merekomendasikan saya menjadi seorang staff di suatu lembaga pelayanan. Saya pikir itu hanya perasaan dia semata saja, maka dengan enteng saya bilang: “ya sudah, bilang saja sama mereka”.

Lepas tiga bulan, seorang staff dari lembaga pelayanan tersebut menghubungi saya dan mengajak saya untuk bertemu, saya sontak kaget dan tak menyangka hal ini ternyata terjadi. Saat kami bertemu, saya ceritakan apa yang saya rindukan, saya ingin menjadi pemberita Firman. Tapi justru staff tersebut membukakan kondisi bahwa dibutuhkan staff kantor, selama sebulan saya berdoa, saya merasa Tuhan diam, suasana hening, saya tidak dapat mencerna apa yang Allah katakan dalam firman-Nya, karena sekali lagi seperti yang tidak saya harapkan. Tapi, entah kenapa dalam batin saya, terus berkata: “Kehendak-Nya yang terbaik, dan dia dapat memakai siapapun, situasi apapun untuk mengajari dan membentuk kita sesuai kehendak-Nya”. Dalam kesombongan saya dipaksa tunduk dan rendah hati, untuk mengimani dan menaati bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik, sehingga hal itu memampukan saya menerima tawaran tersebut. “

Dalam kata “iman” terkandung sikap penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan. Dalam zaman dimana ide-ide saling bertarung dengan menawarkan kebenarannya masing-masing, tak pelak kita berbagian dalam mengungkapkan ke-egois-an bahwa pendapat kita adalah yang paling benar. Dan bukan hanya itu, kita menuntut agar terus diperhatikan, kita ingin didengar. Kita mencintai diri kita lebih daripada Allah dan menjadikan diri kita pusat. Sulit bagi kita menerima hal yang tidak baik terjadi dalam hidup kita, sehingga menggerus iman kita, saban hari kita berdoa semau kita, asal membuat hati tenang dan meminta segala apapun yang sesuai dengan keinginan hati kita.

Yesus tidak hanya mengajar berdoa tetapi juga mengajar bahwa di dalam doa bukan hanya kehendak kita yang kita perdengarkan, tetapi kita harus juga mendengar dan menerima kehendak Allah. Dengan begitu, kehidupan kita sebagai orang percaya berbeda dengan orang lain yang menggantungkan hidup dan masa depannya pada kekuatannya sendiri, kita justru melihat dengan mata iman bahwa Allah yang menjadi landasan kita berharap, Ia juga yang merasakan apa yang kita rasakan dan turut menyertai kita sepanjang hidup kita.

Selamat belajar berdiam dalam Allah dan hadirat-Nya dan mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik dalam hidup kita.


Senin, 21 Januari 2019

Kehendak Allah atau Kehendak Saya? (Yakobus 4:13-17)

Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Terlebih dalam suasana tahun baru ini, setiap orang pasti memiliki rencana-rencana terbaik dalam hidupnya, begitu juga dengan saya.

Seorang pebisnis pasti menginginkan bisnisnya meraup untung lebih banyak tahun ini, seorang pelajar pasti menginginkan nilai terbaik yg didapatnya tahun ini. Seorang pengangguran seperti saya juga menginginkan pekerjaan yg baik sehingga saya bisa berpenghasilan. Semua itu butuh rencana untuk mewujudkannya.

Semua orang termasuk saya mengatur hidupnya sendiri, mengatur rencananya sendiri dan berandai-andai bahwa semua yang direncanakan akan didapatkan sebelum terjadi.
Ini hal wajar, tetapi ada sebuah pertanyaan dalam benak saya: "Bagaimana jika semua tidak sesuai keinginan/kehendak dan rencana saya?" Sedang saya saja tidak mengetahui sedikitpun apa yg terjadi hari esok, hanya Tuhan yang tahu.

Tidak salah berencana dan berusaha, tapi apa yang saya sesali adalah saya tidak melibatkan Tuhan dalam rencana saya. Saya terlalu sombong, saya tidak memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk hidup saya dalam tahun ini.
Seharusnya saya berkata: "Jika Tuhan menghendaki, maka saya akan berbuat yang terbaik sesuai kehendak-Nya."

Sehingga, jika yang terbaik yang saya dapatkan, saya akan mensyukuri dan memuji Allah dan sekalipun yang buruk yang terjadi dalam hidup, saya akan menerimanya, karena saya yakin bahwa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi setidaknya untuk menguatkan iman saya pada-Nya.

Kehendak-Nya yang terbaik bagi saya, kita, dan semua orang percaya.

Jumat, 15 Desember 2017

Anak Muda Jadi Teladan? Siapa Takut!

Hellow, udah lama gak ngeblog, mau sharing-sharing dikit ya (maklumin, udah setahun sembunyi di goa, hehehe), maklumin juga tulisannya agak berantakan :D. Langsung ke pointnya aja deh, menurut kita apa sih masa muda itu? Pasti banyak banget definisinya. Menurut saya, masa muda itu adalah masa-masa dimana seseorang mengalami perkembangan fisik, emosional dan karakter. Masa muda adalah juga sebuah masa yang paling strategis (menurut hemat saya) dimana ide, paham, dan konsep-konsep saling berbenturan dan berebut untuk memberi pengaruh pada anak muda, karena masa muda adalah masa-masa pencarian jati diri juga (wesss berat nihh :D). 

Kita harus akui, anak-anak muda sekarang, entah itu Gen Y atau Z atau Millenials yang termasuk saya sendiri,  adalah anak-anak yang penuh potensi, banyak bakat dan lebih kreatif (sombong amat gue yak :D), dan lebih melankolis (mungkin, wkwk). Buktinya banyak talenta-talenta berbakat yang kadang bisa bikin orang-orang lain gak habis pikir. Nah, potensi yang demikian besarlah yang sedang dinanti bangsa dan gereja saat ini demi kemajuan bersama ke arah yang lebih baik. Saya rasa disini porsi anak-anak muda yang sudah mengenal Allah untuk memberi pengaruh baik terhadap anak-anak muda yang lainnya. 

Ditengah-tengah kondisi zaman yang banyak menuntuk ke-aku-an atau cinta diri, kita gak bisa menampik bahwa banyak anak-anak muda yang terseret dalam ke-aku-an (termasuk saya sendiri). Saya tidak bilang tidak boleh mencintai diri, boleh tapi jangan berlebihan seolah-olah hanya diri ini lah yang patut mendapat perhatian hingga akhirnya kita melupakan Tuhan. 

Hal seperti ini sudah Paulus tuliskan dalam 2 Timotius 3:1-9, dimana ia bilang bahwa dimasa-masa kemudian masa-masa yang sukar ditandai dengan manusia lebih mencintai diri sendiri dan melawan Allah. Salah satu contoh adalah dimana orang maunya mendengar apa yang enak di telinganya saja, susah untuk mau mendengar nasihat atau teguran, gak jauh beda sama masa sekarang dan justru banyak orang yang ditegur lebih keras dari yang menegur. Di masa-masa seperti itu Paulus menasihatkan Timotius untu mengingatkan teman-teman seiman untuk menjauhi dongeng-dongeng atau takhayul dan melatih diri beribadah supaya ia menjadi pelayan Kristus yang baik dan diperkenan Allah (1 Tim. 4:6-11). 

Bukan hanya itu, menjadi teladan dan dengan berani untuk mengabarkan firman Allah kepada siapapun (termasuk orang yang lebih tua). Berani itu yang Paulus hendak maksudkan kepada Timotius, berani untuk menegur jemaat, berani untuk beritakan kebenaran, berani untuk menjaga sikap hidup yang benar. Penting untuk kita ketahui bahwa Timotius adalah seorang yang pemalu dan penakut (2 Kor. 16:10-11; 2 Tim 1:7-8), namun Paulus menguatkan  agar Timotius berani menjalankan tugasnya sebagai penggembala jemaat kelak walaupun ia seorang yang muda yang mungkin dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang lebih tua dalam urusan memimpin jemaat (atau karena belum banyak makan asam garam kehidupan). Paulus juga menasihatkan bukan hanya untuk berani melainkan juga menjadi teladan. Tealdan dalam hal perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, kesucian. Menjadi teladan hidup seperti apa yang Yesus ajarkan, menjadi kitab hidup yang dapat dilihat semua orang sehingga banya orang memuji Allah melalui hidup kita. 

Konteks zaman Timotius gak jauh beda sama zaman kita, yang beda mungkin teknologi atau budaya yang udah makin berkembang. Nasihat-nasihat Paulus kepada Timotius patut kita renungkan dan lakukan juga dalam kehidupan kita sekarang sebagai anak muda. Berani untuk hidup benar sesuai kehendak Allah, berani untuk menjadi teladan dan mengabarkan firman Allah, berani menebarkan cinta kasih sekalipun banyak yang mempertanyakan bahkan mungkin mengejek, kita harus tetap setia.  

Nah gimana caranya agar tetap survive melakuka hal tersebut?. Yang menjadi  permasalahan sekarang adalah  banyak yang mau berbuat baik dan terima yang baik tapi gak kenal sama sumbernya terlebih dahulu. Ini bahaya! Karena nanti dampaknya akan melemahkan kita sendiri, tanpa pengenalan yang dalam akan Allah, kita cenderung akan mudah menyerah dengan semua tekanan yang ada. Maka hal-hal praktis agar kita gak mudah menyerah dan semakin mengenal Allah patut kita lakukan yaitu dengan baca kitab suci dan doa dengan rajin, setelah itu kita aplikasikan dalam hidup kita. Semakin banyak kita membaca, semakin tahu kita dan semakin dalam mengenal Allah kita dan apa yang dikehendakiNya, dengan doa kita dapat mengutarakan isi hati kita, terbuka di hadapan Allah. Hal itulah yang menguatkan kita. So, kalo kita rajin melakukan hal ini, kita akan semakin kuat ketika diperhadapkan tantangan hidup yang menuntut kita hidup dengan standard dunia. Kita juga semakin kuat untuk melakukan kehendak Allah dan menjadi teladan sebagai anak-anak muda

So, jangan takut jadi orang muda dan jadilah teladan!


Jumat, 02 Desember 2016

Tidak Ada Intinya! (Mungkin Ada?)

Saya seorang sarjana, lulusan dari universitas ternama di Pulau Sumatera. Layaknya masyarakat kita, gelar ini sangat berarti dan cukup untuk membuat nama seeorang harum di lingkungannya, tapi gelar ini pun bisa menjadi boomerang bagi yang menyandangnya. Yah, menjadi boomerang karena si penyandang tak kunjung menghasilkan sesuatu atau konkritnya tidak bekerja dan menghasilkan uang, setidak-tidaknya untuk membahagiakan keluarga di rumah. Dan saya pun akhirnya memutuskan untuk mencoba mencari pekerjaan, walaupun dalam hati kecil saya, tidak merasa melakukan dengan segenap hati karena ini bukan impian saya. Orang bisa berkata bahwa saya seorang yang sangat idealis atau mungkin seorang yang bodah yang tidak memperhatikan realita dunia ini.
Saya memulai untuk melamar pekerjaan di perusahaan retail dan distribusi buku, alat multimedia dan atk ternama di Indonesia. Semua pasti sudah tahu bahwa ada satu toko buku ternama yang namanya sudah cukup besar di Indonesia. Ya, Gramedia menjadi tempat pertama saya untuk melamar perkerjaan. Sebagai orang yang baru melamar pekerjaan, rasa dag dig dug pasti melanda dan saya tidak tahu mengapa rasa itu saya alami, mungkin dorongan emosional karena mencoba hal yang baru (mungkin saja). Saya mengirim lamaran untuk 2 posisi, yaitu sebagai Store Supervisor dan Asisten Editor Fiksi/Non Fiksi di perusahaan tersebut. Saya mengirim berkas lamaran melalui email dimana 3 hari lagi batas terakhir pengiriman lamaran akan ditutup. Dan betul saja memang dalam hati kecil saya, tidak menaruh harapan terlalu besar untuk hal ini.
Dan hal yang tidak diduga pun terjadi, pertama bahwa pihak perusahaan Gramedia membalas secara cepat berkas lamaran yang saya kirimkan, hanya berselang 1 hari dari berkas lamaran yang saya kirimkan. Dan yang kedua adalah bahwa dalam surat balasan tersebut saya dinyatakan lolos berkas dan mendapat undangan untuk mengikuti test psikotest dari serangkaian test masuk ke perusahaan tersebut. Melihat surat balasan tersebut, ada perasaan bahagia yang saya alami dan sangat bertolak belakang dengan perasaan yang saya alami ketika mencobanya yang seakan ogah-ogahan. Syarat saya mengikuti test tersebut adalah membawa berkas-berkas lamaran saya (CV, 4 lembar formulir dari pihak Gramedia, NPWP kalau ada, Fotocopy rek. BCA kalau ada, Fotocopy KTP, Fotocopy ijazah dan transkrip nilai yang di legalisir). Saya mengikuti test psikotest tersebut selang dua hari setelah saya membaca surat tersebut, ya seolah-olah semua berjalan sangat cepat.  
Test dilaksanakan di gedung Kompas Gramedia yang terletak di jalan Palmerah Selatan. Test dilaksanakan pukul 09.00WIB tepat. Ya, lagi-lagi saya tidak berharap banya dalam test ini, dikarenakan baru pertama kali mencobanya dengan tujuan melamar pekerjaan dan kedua karena saya mengisi tidak bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia. Saya hanya mau ditempatkan di Jakarta karena ada suatu hal yang tidak bisa saya ceritakan. Pertama kali dibuka oleh perkenalan dari pengawas dan mereka menjelaskan tentang perusahaan tersebut dan sekaligus menjelaskan beberapa tahapan untuk sampai bekerja di Gramedia. Asal tau saja ada beberapa tahapan untuk sampai bekerja disana. Pertama test berkas, kedua test psikotes, ketiga FGD dan wawancara (HR dan Gaji), kelima test medis/kesehatan, kalau dinyatakan lolos tes medis tahapan selajutnya ialah hire atau perekrutan dan itu tahap menandakan seseorang bisa bekerja dalam perusahaan tersebut.
Dimulai dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing dan kemudia mengerjakan soal-soal test sampai 2 jam. Seperti pengalaman dari teman-teman saya, test tersebut berisi test kata, matematika, test koran dan yang terakhir tes untuk menjawab pernyataan dengan benar atau salah sesuai kepribadian. Menurut saya, bagian yang paling sulit adalah test koran dikarenakan harus berpacu dengan waktu yang ditentukan pengawas (walaupun menurut artikel yang saya baca, test koran bertujuan untuk melihat grafik dari peserta yang menandakan bagaimana dia bekerja nantinya). Saya sarankan harus sarapan dan banyak minum sebelum mengikuti test tersebut karena menguras energi yang banyak. Setelah test berakhir, kami diminta untuk menunggu pengumuman paling lambat 2 minggu kedepan.
Benar saja dan tepat pada waktunya, saya mendapat email dari pihak HR-Gramedia yang menyatakan tidak lolos. Dan sehari kemudian saya melihat kembali email saya dan mendapat surat yang yang menyatakan saya lulus. Yang bisa saya lakukan hanya bersyukur karena bisa lolos tahapan selanjutnya yaitu FGD dan wawancara. Selang 5 hari kemudian FGD pun diadakan, kali ini di gedung HR GoRP di jalan Palmerah Selatan No.14. Dari 9 peserta yang namanya tertulis pada daftar hadir, hanya 6 orang yang mengikuti FGD. FGD dimulai dengan topik Kepemimpinan, masing-masing peserta harus mengurutkan angka 1-14 dimulai dari yang paling penting (1) hingga kurang penting (14) tentang karakteristik pemimpin yang sudah disediakan dalam kertas soal dan jawaban. Kedua, para peserta harus mempresentasikan jawabannya di depan peserta lainnya dan tentunya pengawas dan dilanjutkan dengan tanya-jawab antar peserta yang memperhatikan dan yang mempresentasikan. Dan terakhir adalah berdiskusi untuk menentukan mana yang paling penting dan kurang penting tentang karakteristik kepemimpinan dan tahapan ini cukup lama. Setelah selesai peserta diperintahkan untuk menunggu hasil yang menentukan siapa yang lolos untuk wawancara.
Hal yang berbeda saya rasakan dari sebelumnya, setelah saya mengikuti FGD tersebut, saya yakin saya akan lolos. Karena saya lumayan banyak bertanya dan menjelaskan hasil pemikiran saya (walaupun saya sudah baca artikel bahwa dalam FGD, yang banyak berbicara belum tentu lolos, tapi entah mengapa perasaan yakin lolos itu semakin tinggi). Kami harap-harap cemas menunggu hasilnya, dan tepat pada pukul 12.00WIB, hasil pengumuman ditempel di depan pintu ruangan tempat kami melaksanakan FGD. Ketika saya membaca hasilnya, nama saya tidak tertera dalam daftar orang yang lolos untuk wawancara. Seketika perasaan saya yang sangat yakin akan lolos pun sirna dan saya pulang kerumah dengan sedikit kekecewaan. Tentunya ini menjadi suatu pengalaman bagi saya….

Rabu, 09 November 2016

Jangan Lupa Hidup Jujur (Refleksi Kisah Para Rasul 4:36-5:1-11)

Lukas mencatat bahwa setelah peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-13), kehidupan para murid berubah total. Mereka semakin berani mengabarkan tentang Yesus. Bahkan cara hidup mereka disukai oleh banyak orang (Kis. 2:47). Mereka sehati, sejiwa, dan tidak ada sesuatu yang menjadi milik kepunyaan sendiri, semua adalah milik bersama (Kis. 4:32). Milik bersama? Terdengar aneh bukan? Tapi itulah yang terjadi pada masa itu. Mereka tidak ada yang berkekurangan, karena semua orang yang mempunyai tanah ataupun rumah, pasti menjualnya dan hasil penjualannya itu dibawa ke depan kaki rasul –rasul  dan dibagi-bagikan sesuai keperluan mereka. Terdengar konyol bukan? Ya, tetapi hel tersebut merupakan gambaran perubahan hidup mereka, ketika mereka percaya kepada Kristus.
 Dan kisah hidup demikianlah yang mengantarkan kita kepada 2 contoh di dalam alkitab terkait dengan kejujuran. Mengapa harus kejujuran? Pernah mendengar pepatah “dimana hartamu berada, disitu hatimu berada”?. Ketika seseorang mempunyai harta, ia pasti akan menjaga harta tersebut dan hal itu adalah manusiawi. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika harta menguasai hati kita, dan kita menghambakan diri pada harta, sehingga apapun yang kita lakukan hanya demi menjaga maupun menambah tumpukan harta kita. Maka tidak heran, fenomena ini berkaitan dengan kejujuran seseorang.
Perikop ini menceritakan dua contoh orang yang berlaku terkait dengan kejujuran dalam hal mempersembahkan hasil penjualan mereka.
1.      Barnabas
Barnabas adalah seorang dari rekan rasul-rasul, yang memiliki nama asli Yusuf (Kis. 4:36). Ia adalah seorang Lewi yang berasal dari Siprus. Ia memiliki arti nama anak penghiburan, yang pada akhirnya menjadi rekan Paulus dalam mengabarkan Injil ke orang-orang non Yahudi (Kis. 15:2-35) dan berpisah karena perselisihan dengan Paulus (Kis. 15:36-39). Barnabas adalah salah satu dari orang-orang yang ikut mempersembahkan hasil menjual ladangnya di hadapan rasul-rasul. Ia adalah seorang yang jujur dan tercatat bahwa ia tidak menyembunyikan apapun di dalam dirinya. Karena ia benar-benar tulus di dalam mempersembahkan hasil penjualannya tersebut. Buah pertobatan dan kasih yang dialaminya terpancar melalui kehidupannya dengan menyerahkan uang hasil penjualan ladang untuk membantu jemaat yang berkekurangan dan nyatalah sesuai dengan arti namanya tersebut, bahwa ia menjadi teladan dalam kejujuran dan anak penghiburan bagi rasul-rasul.
2.      Ananias dan Safira
Mereka adalah pasangan suami istri dan merupakan anggota jemaat. Mereka juga bersepakat untuk mempersembahkan hasil penjualan sebidang tanah kepunyaan mereka dihadapan rasul-rasul. Dan dengan setahu isterinya, Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan sebidang tanah tersebut. Hal tersebut menjadi sangat jelas bahwa bukan hanya Ananias yang mengetahui, jauh lebih dalam bahwa mereka bersepakat untuk mempersembahkan setengah dari hasil penjualan tersebut. Petrus mengetahui hal ini, dan ia menegur dengan keras bahwa perbuatan yang dilakukan Ananias tidaklah benar. Ada yang salah di dalam motivasi untuk memberi yang dilakukan pasangan suami-istri tersebut. Mereka memberi bukan berdasar kerelaan, mereka menahan sebagian hasil penjualan tersebut yang jikalau pun hasil tersebut tidak ditahan oleh mereka, hasil itu tetap berada dalam kuasa mereka. Satu hal lagi yang menjadi dosa mereka adalah ketidakjujuran mereka dihadapan Allah, lagi rasul Petrus menegur bahwa mereka bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah. Maka, kematian yang menghampiri Ananias. Hal yang sama menimpa pula kepada Safira yang adalah istri Ananias, ia tidak mengetahui kalau suaminya telah mati, maka ketika Petrus bertanya perihal penjualan tersebut, Petrus pun mendapati bahwa Safira pun bersepakat dengan suaminya yang membuat dia pun mati.

Dari dua kisah tersebut kita dapat melihat bahwa kejujuran di dalam memberi menjadi hal yang sangat penting di dalam hidup kita. Ananias dan Safira telah menjadi contoh ketidakjujuran. Ketidakjujuran yang kita lakukan dihadapan sesama, bukan hanya membuat kita berdosa terhadap sesama, tetapi juga dihadapan Tuhan. Seringkali kita membuat dikotomi dalam dosa, dosa terhadap manusia dan Allah, padahal segala dosa yang kita lakukan adalah dosa kepada Allah (Maz. 51:6). Dosa tetap ada konsekuensi, dan Ananias beserta isterinya pun menjadi contoh bahwa Allah tidak main-main dalam menanggapi dosa. Dan hal inilah yang seharusnya membuat kita sadar bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dpermainkan (bdk. Gal. 6:7).
Kejujuran sangat erat kaitannya dengan motivasi seseorang dalam berperilaku. Sebagai orang percaya, kejujuran mau tidak mau memaksa kita pribadi untuk memiliki motivasi yang benar didalam bertindak bagi sesama kita maupun dihadapan Allah. Kejujuran dan keterbukaan kita dalam hidup ini adalah salah satu contoh bahwa kita adalah orang-orang yang dikuduskan Allah. Jangan terlalu sering memakai topeng, mari kita lepas topeng kita masing-masing, dan hidup jujur sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di sepanjang zaman.

Mari hidup jujur dihadapan Allah!
Mari hidup jujur ketika tiada seorang pun melihat!
Mari hidup jujur dihadapan sesama!
Dan ketika pun kita dicobai untuk hidup tidak jujur, Jangan Lupa untuk Hidup Jujur!

Jumat, 21 Oktober 2016

Menyangkal diri, Memikul salib, dan Mengikut Yesus (Refleksi Markus 8:31-38)

Setelah peristiwa pengakuan Petrus akan Yesus adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup (Mrk. 8:27-30; Mat. 16:13-20; Luk. 9:18-21), maka Yesus mulai mengajar. Ia mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, penolakan, bahkan kematian dan kebangkitan. Hal ini tentu saja kontras dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias atau orang yang dinantikan akan membawa pemulihan bagi Kerajaan Israel, layaknya pada masa Daud seperti yang dinubuatkan nabi-nabi pada Perjanijan Lama (bdk. Yer.23:5&33:15; Mik. 5:1). Tentu kita akan sulit membayangkan seandainya seseorang yang kita yakini akan membawa perubahan menubuatkan bahwa dirinya akan menderita bahkan sampai mati. tentu ini adalah hal yang konyol.
Adalah suatu tindakan manusiawi kalau Petrus menarik Yesus dan menegur, bahkan dalam Matius 16:22, lebih terang Petrus berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Kewajaran dari tindakan Petrus tampaknya tidak membuahkan hasil yang manis. Terang saja, Yesus menegur Petrus dengan sangat keras: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Keras sekali bukan? Jelas sekali seolah-olah Petrus tak lain dan tak bukan adalah Iblis, hal yang sangat kontras dengan respon Yesus pada pengakuan Petrus atas diri-Nya. Tentu Petrus bukanlah Iblis, karena ia adalah manusia biasa, hal tersebut dikarenakan Petrus tidak memikirkan apa yang Allah pikirkan melainkan apa yang manusia pikirkan.
Dan hal ini sering sekali menimpa orang-orang yang mengaku murid Kristus. Sering sekali pemikiran pribadi yang akhirnya kita lakukan, tanpa bertanya kepada Allah tentang apa yang Allah kehendaki. Dan sering sekali pula manusia berkutat pada keinginan diri hingga akhirnya terkesan mengabaikan Allah. Tentunya tidak salah mempunyai keinginan, dan tentunya manusia ingin yang terbaik bagi dirinya, tetapi hal tersebut tidak selalu sejalan dengan keinginan Allah. Maka kita perlu mengetahui apa yang Allah kehendaki melalui doa dan firman Allah.
Yesus pun melanjutkan apa yang diajarkan-Nya bahwa orang yang ingin menjadi murid-Nya harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Jikalau dipikir-pikir, hal ini sangat sulit dicapai, nampaknya Yesus menetapkan standar yang sangat tinggi. Tentu hal ini sedikit banyak menjadi faktor orang banyak meninggalkan kekristenan. Meskipun standard ini terlalu tinggi diterapkan, bukan berarti kita tidak menjalaninya, karena ini adalah anugerah yang Allah berikan. Berjalan bersama Yesus memikul salib yang harus kita pikul, menyangkal diri untuk kehendak Allah, mengikut Dia dengan penyerahan total. Kita akan membahas satu per satu dari syarat mengikut Yesus:
1)        Menyangkal Diri (NET: “Deny Himself”)
Menyangkal berarti ada proses penolakan atau meniadakan. Menyangkal diri berarti menolak diri, menolak segala keinginan diri dan menjadikan kehendak Allah yang terutama harus dilakuka. Sama seperti teladan Yesus yang mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Flp. 2:6-8). Seorang murid Kristus harus menyadari, ketika statusnya berubah menjadi anak Allah, berarti hidupnya bukan miliknya pribadi, melainkan milik Allah. Hidupnya bukan tentang dirinya lagi, melainkan tentang Kristus (Gal. 2:19b-20).
2)        Memikul Salib(NET: “Take up his cross”)
Salib merupakan lambang kebodohan bagi orang-orang yang akan binasa, tetapi Salib adalah hikmat Allah yang tertinggi bagi kita yang diselamatkan (1Kor. 1:18-25). Kata “memikul” mempunyai makna lebih dalam daripada kata “membawa”. Memikul identik dengan beban yang sangat berat yang harus dibawa dengan ditaruh diatas pundak. Maka tidak heran jikalau seorang teolog dari Jepang yaitu Kosuke Koyama menuliskan judul bukunya “Tidak Ada Gagang Pada Salib”. Salib bukanlah ember, koper, atau sesuatu yang dengan mudah kita dapat mengangkat dan menggenggamnya. Bahkan Kosuke Koyama mengatakn lebih lanjut bahwa Yesus tidak memikul salibnya seperti seorang pengusaha menenteng tasnya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh seorang teolog dari Jerman, yaitu Dietrich Bonhoeffer: “When Christ call a man, He bids him to come and die.” Maka tak heran, banyak sekali rasul dan murid-murid pada awal kekristenan yang mengalami penderitaan bahkan sampa mati martir. Penderitaan bukan dicari-cari, melainkan suatu keniscayaan yang akan didapat seorang Kristen. Orang Kristen pasti akan menderita, karena berani menjadi Kristen, berarti siap untuk mati bersama Kristus dan hidup bagi Allah (Flp. 1:21; Yoh. 15:20). Sekarang, mari kita hilangkan ke”aku”an dan mulailah bergerak aktif untuk memikul salib kita masing-masing.
3)        Mengikut Aku (NET: Follow Me)
Dalam mengikut, ada suatu bentuk aktif penyerahan diri terhadap figure yang kita ikuti. Mengikut Yesus berarti menyerahkan hidup kita di dalam Dia dan mempertaruhkan semuanya, bukan menjadi pemandu sorak yang hanya bisa berteriak dari pinggir lapangan, melainkan ikut bertanding bersama Dia di dalam lapangan tersebut. Mengikut Yesus berarti mempunyai keyakinan  bahwa Ia yang menjaga hidup kita hingga harinya kelak, kita hidup bersama-sama dengan Dia, dengan menatap muka (2Tim 1:12). Penyerahan diri yag total merupakan kunci dari mengikut Yesus.

Orang percaya atau murid Kristus tidak akan memusingkan dirinya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri ketika penderitaan melanda, ia akan maju sesuai perintah Tuannya dan berlari dalam pertandingan iman hingga akhirnya kelak keselamatan dari Allah dirasakan sepenuhnya. Maka tidak heran Yesus berkata bahwa tidak ada gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, kalau pada akhirnya kehilangan nyawanya, karena nyawa tidak dapat diselamatkan oleh harta atau takhta yang kita peroleh di dunia ini, melainkan melalui darah Kristus yang mahal, yang tercurah pada kayu salib (1Pet. 2:18-19).
Ada harga yang tak ternilai untuk sebuah keselamatan, begitu juga ada harga yang mahal yang harus dibayar untuk menjadi seorang murid Kristus (penderitaan)  yang berbagian dalam Misi Allah bagi dunia ini.

Rabu, 05 Oktober 2016

Jangan Lupa: Harapan Masih Ada!

Malam itu Bob dikejutkan oleh kabar buruk yang menimpanya. Adiknya telah berpulang ke rumah Bapa di sorga. Sontak air mata keluar deras membasahi pipinya. Ia tak kuasa untuk masuk ke dalam kamarnya. Pada malam itu, kamarnya ramai oleh kawan-kawan satu kostnya yang berkumpul bercengkrama satu sama lain. Ia hanya berdiri di balkon, menengadah ke langit dan berteriak dalam hati: “Tuhan apa maumu? Kenapa ini terjadi? Tuhan aku percaya kepada-Mu, tolong bangunkan dia.” Ia berteriak demikian sambil merasakan gejolak batin, di satu sisi ia berharap Tuhan melakukan mujizat, tetapi di sisi lain ia menyadari bahwa adiknya sudah tiada. “Tuhan terima kasih untuk kenangan 11 tahun bersama dirinya” ujar Bob memaksakan dirinya untuk bersyukur di tengah kemalangan ini. Malam itu terasa menyesakkan bagi dia, ia tidak dapat mengeluarkan air matanya lagi. Bahkan ketika teman-temannya datang untuk menghibur dia, ia pun tidak banyak bicara seperti sebelumnya, hanya diam dan menjawab seadanya, seakan-akan bagai orang yang tidak mempunyai harapan.
Esoknya ia pulang ke rumahnya, dengan berbekal seadanya, ia hanya ingin melihat adiknya untuk terakhir kalinya sebelum peti ditutup. Ia berangkat pukul 12.00 WIB dan sampai pukul 14.30 WIB, di luar sudah ada Toni yang menjemputnya. Toni adalah abang dari Bob, bukan abang kandung, melainkan abang karena ayah mereka bersaudara walaupun tidak sedarah, tetapi hubungan mereka sudah bisa dikatakan sebagai keluarga sedarah. Selama ini hanya Toni lah teman satu angkatan Bob, dan setiap Bob pulang ke rumah dari perantauan panjang, Toni selalu setia menemani Bob untu menikmati indahnya kota megapolitan (khususnya malam hari). “Ayok Bob, sini gua angkat tas lu” ujar Toni dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka menuju parkiran motor dan langsung berangkat menuju rumah duka di samping gereja. Seketika sampai, semua langsung menyambut Bob dengan isak tangis. Bob hanya dia, setetes air mata pun tidak jatuh membasahi pipinya, ia menyantuh muka adiknya untuk terakhir kalinya, sambil memeluk ibunya yang menangis tersedu-sedu melihat kedatangannya.
“Lihat adikmu ini, mang (sebutan khas orang batak)” sambil menangis ibunya berkata. “iya ma, jangan nangis mama, adik sudah tenang bersama Tuhan” Bob berkata sambil menguatkan dirinya sendiri. Waktu terus berjalan dan peti pun ditutup, semua berangkat menuju tempat pemakaman. Sesampainya disana, semua orang bergegas menuju tanah yang sudah digali yang siap menerima kedatangan tubuh yang terbujur kaku, disanalah ia akan dimakamkan. Nyayian puji-pujian dilantukan, renungan dibacakan, isak tangis terus menghiasi hari itu, terkecuali dengan apa yang dialami Bob, setetes air mata belum keluar dari matanya. Peti sudah dimasukkan dan tanah sudah menutupnya, tetapi air mata sebagian orang tetap mengucur deras. Akhirnya semua pulang ke rumah masing-masing, Toni terus memerhatikan Bob. “Lu kenapa Bob, gue serem liat lu, gak ada nangis daritadi” Toni nyeletuk. Bob hanya tersenyum kecut, ia berujar dalam hati “kau tidak merasakannya”. Sebagian orang menemani keluarga Bob di rumahnya hingga larut malam sambil bercerita tentang kebaikan adiknya dan rasa heran orang-orang disekitarnya atas kepergian adiknya yang terlalu cepat. Hari itu dilewati dengan suasana kabung.
Keesokan harinya, masih diwarnai dengan suasana yang sama. Ayah yang menangis ketika melihat foto anaknya yang sudah tiada, ibu yang menangis ketika mengumpulkan baju-baju anaknya yang akan diserahkan kepada teman-teman sepermainan Ferdi. Ya, nama adiknya Bob itu adalah Ferdi. Bob hanya mengerjakan tugasnya sebagai anak tertua, ia menghibur keluarganya di tengah-tengah suasana hatinya yang butuh dihiburkan juga. Hari demi hari kesedihan pun berkurang dengan keyakinan bahwa Ferdi telah senang berada di pangkuan Bapa di sorga. Mereka hanya mengingat dan belajar mengaminkan firman Tuhan bahwa Yesus menerima anak-anak di dalam Kerajaan Sorga. Meskipun kesedihan sudah berkurang, tetapi tidak bagi Bob, ia merasakan sesuatu yang aneh. Perasaan yang bercampur-aduk kesedihan, kekosongan, keraguan, kehilangan harapan. Semuanya itu dialaminya.
Tiba waktunya Bob harus kembali ke tempat kuliahnya. Keluarganya mengantarkan sampai Bandara. “Lanjutkan cita-cita adikmu ya mang” Sang Ayah berpesan dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya, Pak” jawab Bob. Keberangkatan Bob kembali ke tempat kuliahnya diiring dengan rasa pilu. Bob adalah mahasiswa semester akhir di salah satu universitas di pulau Sumatera. Sesampainya di bandara di daerah ia melanjutkan studinya. Ia pun bergegas ke tempat kostnya dan memberi kabar kepada keluarga bahwa ia telah sampai dengan selamat. Keesokan harinya ia ke kampus sambil membawa skripsi dan bertemu dosen untuk meminta persetujuan siding meja hijau. Dua minggu kemudian siding meja hijau dilaksanakan. Seperti biasa, ia memulai pagi dengan membaca alkitab dan berdoa diiringi permohonan bahwa Tuhan akan menyertainya pada saat sidang meja hijau belangsung. Benar saja, Bob melewati sidang meja hijau tersebut dengan baik dan dinyatakan lulus dan meraih gelar sarjana. Tak lupa ia mengucap syukur kepada Tuhan dan memberi kabar kepada orang tuanya. Ia merasakan sukacita disertai rasa hampa seakan semangat telah memudar.
Hari demi hari dan bulan demi bulan ia lalui dengan perasaan aneh yang menyelimuti dirinya seakan hilang harapan, kekosongan, keraguan, kesedihan yang terus menemaninya sampai senyum seakan hilang dari wajahnya. Bahkan sampai kepada momen wisuda pun, ia masih tetap diselimuti perasaan demikian. Ia terus membaca alkitab dan berdoa, ikut persekutuan dan kelompok tumbuh bersama, tetapi tetap saja ia tak kuasa menahan perasaan itu yang membuat dirinya pun terbawa larut dalam perasaan tersebut. Ia seperti orang yang kebingungan seakan-akan tiada jalan lagi baginya untuk merasakan indahnya hadirat Tuhan. Ia merasakan Tuhan tidak ada disampingnya.
Hingga suatu waktu ia ikut dalam ibadah persekutuan alumni, sekaligus merayakan hari ulang tahun persekutuan tersebut. Ya, sebenarnya momen tersebut sangat ia hindari, tetapi apa daya, ia seakan tidak bisa menghindari acara tersebut. “ehh jadi ikut abang?” tanya Dani yang adalah juniornya di kampus. “iya nih, gak bisa ngelak aku” jawab Bob diiring tawa. Tibalah di tempat ibadah tersebut. Seperti biasa, ibadah dimulai dengan nyanyian puji-pujian dan khotbah yang dibawakan oleh Pembicara. Satu hari itu adalah momen berbeda dari ibadah biasanya, karena setelah ibadah masih ada acara lainnya (diskusi dan puncak perayaan serta refleksi). Semua berjalan dengan baik, tibalah di penghujung acara, yaitu momen refleksi untuk merenungkan apa yang telah dirasakan dan didapat satu hari tersebut. Bob berpikir bahwa momen ini akan terjadi seperti biasanya menulis di lembaran kertas dan berdoa. Dan sesuai dengan pemikiran Bob, demikianlah terlaksana.
Tetapi ada berbeda dirasakan oleh Bob, sepanjang setengah jam mereka diajak oleh Pembicara untuk merenungkan dan berdoa, hanya satu ayat alkitab yang diucapkan oleh pembicara tersebut. Dan kata-kata yang berasal dari ayat alkitab tersebutlah yang menjadi titik balik dari apa yang dirasakan Bob. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama orang kudus dapat memahami, betapa panjangnya dan lebarnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Ef. 3:18-19). Dan ayat tersebutlah yang menjadi doanya setiap hari. Semakin hari ia mengalami ketenangan dan sukacita telah kembali.
Semua perasaan yang dialaminya (kehampaan, kesedihan, hilang semangat dan sukacita), yang membawanya seakan hilang harapan tersebut telah sirna. Ia kini mendapat harapan baru untuk menikmati Tuhan, harapan baru untuk hidup berbahagia di dalam Allah, harapan baru menjalankan panggilannya di masa depan bersama Allah. Terlebih ia belajar satu hal penting bahwa serumit apapun yang ia alami, bahkan kekosongan sekalipun akan hadirat Allah yang ia rasakan, pengharapan masih ada. Tangan Tuhan tetap terulur untuk menolong ia yang jatuh terlalu dalam dan memberikan secercah harapan yang gemilang bersama Tuhan. Ia tidak menampik bahwa beban dan cobaan terus akan datang, tetapi ia percaya bahwa pengharapan masih ada diiringi iman dan anugerah dari Allah. ~End~
~Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.~
(Mazmur 62:6)