Minggu, 14 Juli 2019

Berdiam dan Meyakini Kehendak Allah (Refleksi Matius 26:36-46)

Nas ini merupakan suatu rangkaian peristiwa malam terakhir sebelum Yesus disalibkan. Taman Getsemani itu menjadi saksi bisu akan kesedihan, ketakutan, penyerahan diri dalam diam, keheningan dan kegamangan  yang dialami oleh seorang pribadi perombak sejarah semesta ini. Sekaligus menjadi suatu tanda pengingat tetap bagi orang yang percaya pada-Nya untuk merenungkan makna akan apa yang dilakukan-Nya pasca peristiwa tersebut. Peristiwa yang bukan hanya mengguncang dunia dan menjadi perdebatan hingga hari ini, tapi lebih jauh daripada itu, yaitu peristiwa yang dapat merubah hati dan pikiran manusia yang mempercayai Pribadi tersebut.

Nas ini dimulai dengan kata-kata “maka sampailah…” yang berarti bahwa Ia (Yesus) berjalan dari suatu tempat dan menuju Getsemani (Lukas menyebutkan dalam bahwa Ia berjalan seperti biasanya---Luk. 22:39), tetapi ketiga Injil sinoptik menuliskan bahwa kejadian itu ditulis setelah perjamuan malam terakhir yang dilakukan Yesus dengan murid-murid-Nya. Untuk Getsemani sendiri, tiada informasi jelas mengenai letak taman ini, tetapi yang pasti berada di sekitaran Bukit Zaitun (ay.30). Sesampainya, Yesus menyuruh sebagian besar murid-Nya untuk duduk dan Ia pergi untuk berdoa. Lukas mencatat bahwa pergi ke Bukit Zaitun adalah sebuah kebiasaan bagi Yesus yang artinya murid-murid-Nya pun tentu tak heran dengan apa yang dilakukan oleh gurunya tersebut.

Menjadi sebuah keunikan bahwa Yesus memilih tiga orang murid untuk menemani-Nya ke tempat Ia berdoa. Ia sempat menceritakan kepada Petrus bahwa hati-Nya sangat sedih dan seperti mau mati rasanya. Tentu hal ini membuat sedikit banyak goncangan dalam hati dan pikiran ketiga murid tersebut, karena semenjak perjamuan malam, Yesus Sang Mesias yang diharapkan untuk membebaskan umat Israel terus saja berbicara tentang kematian dan kematian dan mungkin dalam hati, mereka terus bertanya apa yang akan terjadi setelahnya.

Dalam kegentaran dan kesedihan yang dialami-Nya,  Yesus meminta mereka untuk berjaga selagi Ia berdoa. Ia menunjukkan suatu hal yang indah dalam suasana hening yang mencekam, Ia yang adalah insan dan Ilahi mengambil suatu waktu khusus untuk berdiam, mencurahkan seluru isi hati-Nya pada Bapa. Dalam kegentaran, kerumitan, ketakutan, kesedihan yang dialami, Ia memilih berdiam, mendengar Bapa berbicara dan menyatakan kehendak-Nya (Bapa). Kesedihan dan kegentaran-Nya menjadi suatu bukti bagi kita bahwa Ia adalah Allah yang dekat,  yang turut merasakan ketakutan dan kegentaran yang sama sepeti yang kita alami, bahkan lebih daripada yang kita rasakan.

Satu hal kemudian, juga dalam keheningan, Ia meminta murid-Nya “berjaga”. Saya tidak tahu pasti apa yang menjadi tujuan Yesus meminta murid-Nya berjaga entah mencegah datangnya gangguan, saya tidak tahu persis. Tapi saya mendapat suatu perenungan pribadi bahwa jauh daripada itu Yesus meminta murid-murid (bahkan kita) agar kita tak hilang fokus atau luput daripada Tuhan dengan kata lain, jiwa kita terpaut dan bergantung hanya pada Dia, Allah Bapa kita di tengah segala realita yang memungkinkan kita untuk berbelok menjauh dari koridor Tuhan.

Satu hal yang menarik kemudian, dalam doa-Nya, Yesus berbicara: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Dalam hening , Ia berdoa dan memohon dengan gentar “sekiranya mungkin…” suatu kata yang menunjukkan betapa ketakutan itu sangat kuat menekan diri Yesus, bahkan Lukas menyebutkan peluh-Nya seperti titik-titik darah, bahkan malaikat datang untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43-44), artinya ini bukan hal yang main-main, di dalam kata tersebut menunjukkan betapa mau tidak mau ada suatu harapan yang tidak dapat dicapai, suatu permohonan yang tidak terkabulkan. Permohonan akan lepas dari suatu ketakutan, penderitaan yang hebat dimana Ia mengalami keterpisahan total dengan Bapa ketika dosa-dosa manusia ditimpakan kepada-Nya, dimana Ia menjadi kutuk atas suatu kesalahan yang tidak pernah dibuat-Nya (Gal. 3:13), juga dimana Bapa menyembunyikan wajah-Nya dan meninggalkan-Nya (bdk. Mat. 27:46).

Cawan itu juga sekaligus membuka mata kita bahwa keterpisahan dari Allah menjadi suatu hal yang sangat mengerikan, yang membuat jiwa kita tersiksa, membuat kita seharusnya menyadari dan turut bersedih karena kita telah sangat jauh meninggalkan Allah karena dosa kita. Cawan itu juga yang menjadi salah satu dasar kita berharap bahwa Yesus mengalami sama bahkan lebih daripada yang kita alami sebagai manusia.

Selanjutnya kita melihat bahwa Ia berkata: “janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” . Dalam kata ini setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya pribadi (mungkin bagi kita juga):

1)     Penerimaan
Yesus di dalam kegentaran dan kesedihannya dengan rendah hati menerima apa yang akan terjadi kedepan. Sekalipun menakutkan dan dapat dibayangkan betapa menderita-Nya, Ia menerima apapun yang terjadi. Ia menerima dalam suatu keyakinan penuh bahwa kehendak Bapa adalah yang terutam dan yang terbaik.

2)     Penyerahan Diri
“Jadilah kehendak-Mu…” menjadi kata umum yang dipakai khususnya orang Kristen dalam doa-doa yang dilantunkan setiap hari. Terlepas dari terdistorsinya makna kata ini karena sering digunakan (mungkin), kata ini juga menjadi suatu isyarat akan penyerahan diri dalam kehendak Allah, yanga berarti totalitas hidup kita bergantung pada Allah. Bukan berarti tidak bekerja dan tidak melakukan apa-apa, justru sebaliknya membuat kita bekerja bahkan melakukan apapun dengan giat karena ada suatu pengharapan akan janji penyertaan Allah yang memungkinkan kita menjalani hari tanpa kekuatiran akan masa kedepan.
   
3)     Pengharapan
“Jadilah kehendak-Mu…” juga menjadi suatu proklamasi iman. Bahwa apapun yang terjadi dalam hidup, kita dengan rendah hati menerimanya. Sekalipun sulit yang kita terima, tidak membuat kita lantas menyalahkan Tuhan dan sekalipun senang yang kita dapat, juga tak membuat kita lantas menjadi tinggi hati, karena itu adalah kemurahan hati Allah. Proklamasi itu menghantarkan kita pada suatu harapan dan keyakinan bahwa Ia menjaga apapun yang kita taruhkan hingga hari-Nya kelak

Sekali lagi, ungkapan “Jadilah kehendak-Mu…” ini menjadi ungkapan penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan Yesus dalam doa-Nya, bahwa sekalipun cawan itu ditimpakan, hal itu adalah kenyataan yang harus Ia terima dalam kehadiran-Nya di dunia ini. Sekalipun takut, sedih, gentar, Ia menerima dengan penyerahan diri pada Bapa dalam kehendak-Nya, karena ia yakin bahwa misi-Nya bukan menjadi suatu misi yang sia-sia, karena banya orang yang dimenangkan oleh pemberitaan salib Kristus.

Dan menjadi suatu perhatian bagi kita, bahwa peristiwa ini bukan isapan jempol belaka, bukan peristiwa tanpa makna, karena kita dapat melihat bukti sampai tiga kali Ia berdoa mengucapkan hal yang sama. Peristiwa ini menjadi suatu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan manusia, bahwa Sang Agung harus mengalam kegentaran dan kesedihan, juga menjadi teladan dalam penerimaan atas realita yang akan terjadi karena keyakinan bahwa kehendak Bapa adalah yang terbaik. Peristiwa yang tidak hanya merubah arah sejarah sekaligus mengubah hati manusia sebagai pelaku sejarah yang percaya akan kematian dan kebangkitan-Nya.

Lantas, apa yang bisa saya lakukan terkait refleksi ini?

1)     Mengambil waktu khusus untuk berdiam
Dalam zaman yang super sibuk ini, mau tidak mau, energi kita akan terkuras banyak dan membuat kita dengan mudah menjadi hilang fokus akan tugas kita sebagai orang percaya. Sama seperti Yesus, mari ambil suatu waktu khusus untuk kita berdiam, berdoa, berbincang dan mencurahkan seluruh isi hati kita dengan merendahkan diri di hadapan Allah dan meminta diberi hati yang mau menerima realita sebagai bagian dari kehendak Allah untuk mengajari kita hidup di dalam Dia.

2)     Mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik
“Izinkan saya bercerita sedikit gambaran yang saya alami selepas lulus dari perguruan tinggi. Saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pendeta di suatu gereja dan hal ini sudah sejak kecil saya cita-citakan dan baru saya mengerti mengapa saya bercita-cita demikian ketika menjadi mahasiswa dan dibina di kelompok kecil. Dalam kurun waktu enam tahun (sampai sekarang) saya tetap mendoakannya (walaupun ada masanya saya tidak taat mendoakannya). Selepas saya lulus dari perguruan tinggi, dengan keyakinan bahwa saya tidak mau merepotkan orang lain terlalu banyak untuk mencapai cita-cita saya (biasanya orang yang mau menjadi hamba Tuhan, mendapat bantuan dana dari donator-donatur), maka saya mencari kerja dengan suatu pandangan setidaknya saya punya modal juga untuk sekolah ke depan.

Saban hari saya melamar, saya banyak mengalami kegagalan, bahkan sampai tiga tahun saya banyak mengalami kegagalan, diperparah dengan kondisi semangat keluarga yang menurun drastis karena adik saya meninggal karena sakit sewaktu saya masih menyusun skripsi di medan. Sangat terasa bagaimana kacaunya hidup saya, kondisi jiwa saya tidak stabil, saya banya mempertanyakan ekesistensi saya sebagai manusia, dan  depresi? Ya saya mengalami, bahkan saya pernah menangis sambil berteriak “Kenapa saya alami hal ini?” Keluarga juga tidak tinggal diam, mereka menguatkan saya bahwa Tuhan pasti berikan yang terbaik. Lihat? Saya yang banyak belajar tentang Tuhan justru dikuatkan oleh keluarga saya yang tidak banyak membuka alkitab untuk dibaca. Peristiwa itu menjadi sebuah sentilan bagi saya, bahwa saya masih punya harapan walaupun keyakinan saya akan hal itu hanya secuil.

Dalam gamang yang saya alami, saya mencoba berdoa dalam tangis di kamar mandi, sekiranya Tuhan mau berbelas kasih dan memberi saya kekuatan serta iman untuk percaya bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik bagi saya. Bak gayung bersambut, singkat cerita, adik konseling saya menelpon dan bercerita bahwa dirinya sangat gelisah memikirkan saya dan hendak merekomendasikan saya menjadi seorang staff di suatu lembaga pelayanan. Saya pikir itu hanya perasaan dia semata saja, maka dengan enteng saya bilang: “ya sudah, bilang saja sama mereka”.

Lepas tiga bulan, seorang staff dari lembaga pelayanan tersebut menghubungi saya dan mengajak saya untuk bertemu, saya sontak kaget dan tak menyangka hal ini ternyata terjadi. Saat kami bertemu, saya ceritakan apa yang saya rindukan, saya ingin menjadi pemberita Firman. Tapi justru staff tersebut membukakan kondisi bahwa dibutuhkan staff kantor, selama sebulan saya berdoa, saya merasa Tuhan diam, suasana hening, saya tidak dapat mencerna apa yang Allah katakan dalam firman-Nya, karena sekali lagi seperti yang tidak saya harapkan. Tapi, entah kenapa dalam batin saya, terus berkata: “Kehendak-Nya yang terbaik, dan dia dapat memakai siapapun, situasi apapun untuk mengajari dan membentuk kita sesuai kehendak-Nya”. Dalam kesombongan saya dipaksa tunduk dan rendah hati, untuk mengimani dan menaati bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik, sehingga hal itu memampukan saya menerima tawaran tersebut. “

Dalam kata “iman” terkandung sikap penerimaan, penyerahan diri, dan pengharapan. Dalam zaman dimana ide-ide saling bertarung dengan menawarkan kebenarannya masing-masing, tak pelak kita berbagian dalam mengungkapkan ke-egois-an bahwa pendapat kita adalah yang paling benar. Dan bukan hanya itu, kita menuntut agar terus diperhatikan, kita ingin didengar. Kita mencintai diri kita lebih daripada Allah dan menjadikan diri kita pusat. Sulit bagi kita menerima hal yang tidak baik terjadi dalam hidup kita, sehingga menggerus iman kita, saban hari kita berdoa semau kita, asal membuat hati tenang dan meminta segala apapun yang sesuai dengan keinginan hati kita.

Yesus tidak hanya mengajar berdoa tetapi juga mengajar bahwa di dalam doa bukan hanya kehendak kita yang kita perdengarkan, tetapi kita harus juga mendengar dan menerima kehendak Allah. Dengan begitu, kehidupan kita sebagai orang percaya berbeda dengan orang lain yang menggantungkan hidup dan masa depannya pada kekuatannya sendiri, kita justru melihat dengan mata iman bahwa Allah yang menjadi landasan kita berharap, Ia juga yang merasakan apa yang kita rasakan dan turut menyertai kita sepanjang hidup kita.

Selamat belajar berdiam dalam Allah dan hadirat-Nya dan mengimani bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik dalam hidup kita.


Senin, 21 Januari 2019

Kehendak Allah atau Kehendak Saya? (Yakobus 4:13-17)

Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Terlebih dalam suasana tahun baru ini, setiap orang pasti memiliki rencana-rencana terbaik dalam hidupnya, begitu juga dengan saya.

Seorang pebisnis pasti menginginkan bisnisnya meraup untung lebih banyak tahun ini, seorang pelajar pasti menginginkan nilai terbaik yg didapatnya tahun ini. Seorang pengangguran seperti saya juga menginginkan pekerjaan yg baik sehingga saya bisa berpenghasilan. Semua itu butuh rencana untuk mewujudkannya.

Semua orang termasuk saya mengatur hidupnya sendiri, mengatur rencananya sendiri dan berandai-andai bahwa semua yang direncanakan akan didapatkan sebelum terjadi.
Ini hal wajar, tetapi ada sebuah pertanyaan dalam benak saya: "Bagaimana jika semua tidak sesuai keinginan/kehendak dan rencana saya?" Sedang saya saja tidak mengetahui sedikitpun apa yg terjadi hari esok, hanya Tuhan yang tahu.

Tidak salah berencana dan berusaha, tapi apa yang saya sesali adalah saya tidak melibatkan Tuhan dalam rencana saya. Saya terlalu sombong, saya tidak memikirkan apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk hidup saya dalam tahun ini.
Seharusnya saya berkata: "Jika Tuhan menghendaki, maka saya akan berbuat yang terbaik sesuai kehendak-Nya."

Sehingga, jika yang terbaik yang saya dapatkan, saya akan mensyukuri dan memuji Allah dan sekalipun yang buruk yang terjadi dalam hidup, saya akan menerimanya, karena saya yakin bahwa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi setidaknya untuk menguatkan iman saya pada-Nya.

Kehendak-Nya yang terbaik bagi saya, kita, dan semua orang percaya.

Jumat, 15 Desember 2017

Anak Muda Jadi Teladan? Siapa Takut!

Hellow, udah lama gak ngeblog, mau sharing-sharing dikit ya (maklumin, udah setahun sembunyi di goa, hehehe), maklumin juga tulisannya agak berantakan :D. Langsung ke pointnya aja deh, menurut kita apa sih masa muda itu? Pasti banyak banget definisinya. Menurut saya, masa muda itu adalah masa-masa dimana seseorang mengalami perkembangan fisik, emosional dan karakter. Masa muda adalah juga sebuah masa yang paling strategis (menurut hemat saya) dimana ide, paham, dan konsep-konsep saling berbenturan dan berebut untuk memberi pengaruh pada anak muda, karena masa muda adalah masa-masa pencarian jati diri juga (wesss berat nihh :D). 

Kita harus akui, anak-anak muda sekarang, entah itu Gen Y atau Z atau Millenials yang termasuk saya sendiri,  adalah anak-anak yang penuh potensi, banyak bakat dan lebih kreatif (sombong amat gue yak :D), dan lebih melankolis (mungkin, wkwk). Buktinya banyak talenta-talenta berbakat yang kadang bisa bikin orang-orang lain gak habis pikir. Nah, potensi yang demikian besarlah yang sedang dinanti bangsa dan gereja saat ini demi kemajuan bersama ke arah yang lebih baik. Saya rasa disini porsi anak-anak muda yang sudah mengenal Allah untuk memberi pengaruh baik terhadap anak-anak muda yang lainnya. 

Ditengah-tengah kondisi zaman yang banyak menuntuk ke-aku-an atau cinta diri, kita gak bisa menampik bahwa banyak anak-anak muda yang terseret dalam ke-aku-an (termasuk saya sendiri). Saya tidak bilang tidak boleh mencintai diri, boleh tapi jangan berlebihan seolah-olah hanya diri ini lah yang patut mendapat perhatian hingga akhirnya kita melupakan Tuhan. 

Hal seperti ini sudah Paulus tuliskan dalam 2 Timotius 3:1-9, dimana ia bilang bahwa dimasa-masa kemudian masa-masa yang sukar ditandai dengan manusia lebih mencintai diri sendiri dan melawan Allah. Salah satu contoh adalah dimana orang maunya mendengar apa yang enak di telinganya saja, susah untuk mau mendengar nasihat atau teguran, gak jauh beda sama masa sekarang dan justru banyak orang yang ditegur lebih keras dari yang menegur. Di masa-masa seperti itu Paulus menasihatkan Timotius untu mengingatkan teman-teman seiman untuk menjauhi dongeng-dongeng atau takhayul dan melatih diri beribadah supaya ia menjadi pelayan Kristus yang baik dan diperkenan Allah (1 Tim. 4:6-11). 

Bukan hanya itu, menjadi teladan dan dengan berani untuk mengabarkan firman Allah kepada siapapun (termasuk orang yang lebih tua). Berani itu yang Paulus hendak maksudkan kepada Timotius, berani untuk menegur jemaat, berani untuk beritakan kebenaran, berani untuk menjaga sikap hidup yang benar. Penting untuk kita ketahui bahwa Timotius adalah seorang yang pemalu dan penakut (2 Kor. 16:10-11; 2 Tim 1:7-8), namun Paulus menguatkan  agar Timotius berani menjalankan tugasnya sebagai penggembala jemaat kelak walaupun ia seorang yang muda yang mungkin dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang lebih tua dalam urusan memimpin jemaat (atau karena belum banyak makan asam garam kehidupan). Paulus juga menasihatkan bukan hanya untuk berani melainkan juga menjadi teladan. Tealdan dalam hal perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, kesucian. Menjadi teladan hidup seperti apa yang Yesus ajarkan, menjadi kitab hidup yang dapat dilihat semua orang sehingga banya orang memuji Allah melalui hidup kita. 

Konteks zaman Timotius gak jauh beda sama zaman kita, yang beda mungkin teknologi atau budaya yang udah makin berkembang. Nasihat-nasihat Paulus kepada Timotius patut kita renungkan dan lakukan juga dalam kehidupan kita sekarang sebagai anak muda. Berani untuk hidup benar sesuai kehendak Allah, berani untuk menjadi teladan dan mengabarkan firman Allah, berani menebarkan cinta kasih sekalipun banyak yang mempertanyakan bahkan mungkin mengejek, kita harus tetap setia.  

Nah gimana caranya agar tetap survive melakuka hal tersebut?. Yang menjadi  permasalahan sekarang adalah  banyak yang mau berbuat baik dan terima yang baik tapi gak kenal sama sumbernya terlebih dahulu. Ini bahaya! Karena nanti dampaknya akan melemahkan kita sendiri, tanpa pengenalan yang dalam akan Allah, kita cenderung akan mudah menyerah dengan semua tekanan yang ada. Maka hal-hal praktis agar kita gak mudah menyerah dan semakin mengenal Allah patut kita lakukan yaitu dengan baca kitab suci dan doa dengan rajin, setelah itu kita aplikasikan dalam hidup kita. Semakin banyak kita membaca, semakin tahu kita dan semakin dalam mengenal Allah kita dan apa yang dikehendakiNya, dengan doa kita dapat mengutarakan isi hati kita, terbuka di hadapan Allah. Hal itulah yang menguatkan kita. So, kalo kita rajin melakukan hal ini, kita akan semakin kuat ketika diperhadapkan tantangan hidup yang menuntut kita hidup dengan standard dunia. Kita juga semakin kuat untuk melakukan kehendak Allah dan menjadi teladan sebagai anak-anak muda

So, jangan takut jadi orang muda dan jadilah teladan!


Jumat, 02 Desember 2016

Tidak Ada Intinya! (Mungkin Ada?)

Saya seorang sarjana, lulusan dari universitas ternama di Pulau Sumatera. Layaknya masyarakat kita, gelar ini sangat berarti dan cukup untuk membuat nama seeorang harum di lingkungannya, tapi gelar ini pun bisa menjadi boomerang bagi yang menyandangnya. Yah, menjadi boomerang karena si penyandang tak kunjung menghasilkan sesuatu atau konkritnya tidak bekerja dan menghasilkan uang, setidak-tidaknya untuk membahagiakan keluarga di rumah. Dan saya pun akhirnya memutuskan untuk mencoba mencari pekerjaan, walaupun dalam hati kecil saya, tidak merasa melakukan dengan segenap hati karena ini bukan impian saya. Orang bisa berkata bahwa saya seorang yang sangat idealis atau mungkin seorang yang bodah yang tidak memperhatikan realita dunia ini.
Saya memulai untuk melamar pekerjaan di perusahaan retail dan distribusi buku, alat multimedia dan atk ternama di Indonesia. Semua pasti sudah tahu bahwa ada satu toko buku ternama yang namanya sudah cukup besar di Indonesia. Ya, Gramedia menjadi tempat pertama saya untuk melamar perkerjaan. Sebagai orang yang baru melamar pekerjaan, rasa dag dig dug pasti melanda dan saya tidak tahu mengapa rasa itu saya alami, mungkin dorongan emosional karena mencoba hal yang baru (mungkin saja). Saya mengirim lamaran untuk 2 posisi, yaitu sebagai Store Supervisor dan Asisten Editor Fiksi/Non Fiksi di perusahaan tersebut. Saya mengirim berkas lamaran melalui email dimana 3 hari lagi batas terakhir pengiriman lamaran akan ditutup. Dan betul saja memang dalam hati kecil saya, tidak menaruh harapan terlalu besar untuk hal ini.
Dan hal yang tidak diduga pun terjadi, pertama bahwa pihak perusahaan Gramedia membalas secara cepat berkas lamaran yang saya kirimkan, hanya berselang 1 hari dari berkas lamaran yang saya kirimkan. Dan yang kedua adalah bahwa dalam surat balasan tersebut saya dinyatakan lolos berkas dan mendapat undangan untuk mengikuti test psikotest dari serangkaian test masuk ke perusahaan tersebut. Melihat surat balasan tersebut, ada perasaan bahagia yang saya alami dan sangat bertolak belakang dengan perasaan yang saya alami ketika mencobanya yang seakan ogah-ogahan. Syarat saya mengikuti test tersebut adalah membawa berkas-berkas lamaran saya (CV, 4 lembar formulir dari pihak Gramedia, NPWP kalau ada, Fotocopy rek. BCA kalau ada, Fotocopy KTP, Fotocopy ijazah dan transkrip nilai yang di legalisir). Saya mengikuti test psikotest tersebut selang dua hari setelah saya membaca surat tersebut, ya seolah-olah semua berjalan sangat cepat.  
Test dilaksanakan di gedung Kompas Gramedia yang terletak di jalan Palmerah Selatan. Test dilaksanakan pukul 09.00WIB tepat. Ya, lagi-lagi saya tidak berharap banya dalam test ini, dikarenakan baru pertama kali mencobanya dengan tujuan melamar pekerjaan dan kedua karena saya mengisi tidak bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia. Saya hanya mau ditempatkan di Jakarta karena ada suatu hal yang tidak bisa saya ceritakan. Pertama kali dibuka oleh perkenalan dari pengawas dan mereka menjelaskan tentang perusahaan tersebut dan sekaligus menjelaskan beberapa tahapan untuk sampai bekerja di Gramedia. Asal tau saja ada beberapa tahapan untuk sampai bekerja disana. Pertama test berkas, kedua test psikotes, ketiga FGD dan wawancara (HR dan Gaji), kelima test medis/kesehatan, kalau dinyatakan lolos tes medis tahapan selajutnya ialah hire atau perekrutan dan itu tahap menandakan seseorang bisa bekerja dalam perusahaan tersebut.
Dimulai dengan berdoa menurut kepercayaan masing-masing dan kemudia mengerjakan soal-soal test sampai 2 jam. Seperti pengalaman dari teman-teman saya, test tersebut berisi test kata, matematika, test koran dan yang terakhir tes untuk menjawab pernyataan dengan benar atau salah sesuai kepribadian. Menurut saya, bagian yang paling sulit adalah test koran dikarenakan harus berpacu dengan waktu yang ditentukan pengawas (walaupun menurut artikel yang saya baca, test koran bertujuan untuk melihat grafik dari peserta yang menandakan bagaimana dia bekerja nantinya). Saya sarankan harus sarapan dan banyak minum sebelum mengikuti test tersebut karena menguras energi yang banyak. Setelah test berakhir, kami diminta untuk menunggu pengumuman paling lambat 2 minggu kedepan.
Benar saja dan tepat pada waktunya, saya mendapat email dari pihak HR-Gramedia yang menyatakan tidak lolos. Dan sehari kemudian saya melihat kembali email saya dan mendapat surat yang yang menyatakan saya lulus. Yang bisa saya lakukan hanya bersyukur karena bisa lolos tahapan selanjutnya yaitu FGD dan wawancara. Selang 5 hari kemudian FGD pun diadakan, kali ini di gedung HR GoRP di jalan Palmerah Selatan No.14. Dari 9 peserta yang namanya tertulis pada daftar hadir, hanya 6 orang yang mengikuti FGD. FGD dimulai dengan topik Kepemimpinan, masing-masing peserta harus mengurutkan angka 1-14 dimulai dari yang paling penting (1) hingga kurang penting (14) tentang karakteristik pemimpin yang sudah disediakan dalam kertas soal dan jawaban. Kedua, para peserta harus mempresentasikan jawabannya di depan peserta lainnya dan tentunya pengawas dan dilanjutkan dengan tanya-jawab antar peserta yang memperhatikan dan yang mempresentasikan. Dan terakhir adalah berdiskusi untuk menentukan mana yang paling penting dan kurang penting tentang karakteristik kepemimpinan dan tahapan ini cukup lama. Setelah selesai peserta diperintahkan untuk menunggu hasil yang menentukan siapa yang lolos untuk wawancara.
Hal yang berbeda saya rasakan dari sebelumnya, setelah saya mengikuti FGD tersebut, saya yakin saya akan lolos. Karena saya lumayan banyak bertanya dan menjelaskan hasil pemikiran saya (walaupun saya sudah baca artikel bahwa dalam FGD, yang banyak berbicara belum tentu lolos, tapi entah mengapa perasaan yakin lolos itu semakin tinggi). Kami harap-harap cemas menunggu hasilnya, dan tepat pada pukul 12.00WIB, hasil pengumuman ditempel di depan pintu ruangan tempat kami melaksanakan FGD. Ketika saya membaca hasilnya, nama saya tidak tertera dalam daftar orang yang lolos untuk wawancara. Seketika perasaan saya yang sangat yakin akan lolos pun sirna dan saya pulang kerumah dengan sedikit kekecewaan. Tentunya ini menjadi suatu pengalaman bagi saya….

Rabu, 09 November 2016

Jangan Lupa Hidup Jujur (Refleksi Kisah Para Rasul 4:36-5:1-11)

Lukas mencatat bahwa setelah peristiwa turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-13), kehidupan para murid berubah total. Mereka semakin berani mengabarkan tentang Yesus. Bahkan cara hidup mereka disukai oleh banyak orang (Kis. 2:47). Mereka sehati, sejiwa, dan tidak ada sesuatu yang menjadi milik kepunyaan sendiri, semua adalah milik bersama (Kis. 4:32). Milik bersama? Terdengar aneh bukan? Tapi itulah yang terjadi pada masa itu. Mereka tidak ada yang berkekurangan, karena semua orang yang mempunyai tanah ataupun rumah, pasti menjualnya dan hasil penjualannya itu dibawa ke depan kaki rasul –rasul  dan dibagi-bagikan sesuai keperluan mereka. Terdengar konyol bukan? Ya, tetapi hel tersebut merupakan gambaran perubahan hidup mereka, ketika mereka percaya kepada Kristus.
 Dan kisah hidup demikianlah yang mengantarkan kita kepada 2 contoh di dalam alkitab terkait dengan kejujuran. Mengapa harus kejujuran? Pernah mendengar pepatah “dimana hartamu berada, disitu hatimu berada”?. Ketika seseorang mempunyai harta, ia pasti akan menjaga harta tersebut dan hal itu adalah manusiawi. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika harta menguasai hati kita, dan kita menghambakan diri pada harta, sehingga apapun yang kita lakukan hanya demi menjaga maupun menambah tumpukan harta kita. Maka tidak heran, fenomena ini berkaitan dengan kejujuran seseorang.
Perikop ini menceritakan dua contoh orang yang berlaku terkait dengan kejujuran dalam hal mempersembahkan hasil penjualan mereka.
1.      Barnabas
Barnabas adalah seorang dari rekan rasul-rasul, yang memiliki nama asli Yusuf (Kis. 4:36). Ia adalah seorang Lewi yang berasal dari Siprus. Ia memiliki arti nama anak penghiburan, yang pada akhirnya menjadi rekan Paulus dalam mengabarkan Injil ke orang-orang non Yahudi (Kis. 15:2-35) dan berpisah karena perselisihan dengan Paulus (Kis. 15:36-39). Barnabas adalah salah satu dari orang-orang yang ikut mempersembahkan hasil menjual ladangnya di hadapan rasul-rasul. Ia adalah seorang yang jujur dan tercatat bahwa ia tidak menyembunyikan apapun di dalam dirinya. Karena ia benar-benar tulus di dalam mempersembahkan hasil penjualannya tersebut. Buah pertobatan dan kasih yang dialaminya terpancar melalui kehidupannya dengan menyerahkan uang hasil penjualan ladang untuk membantu jemaat yang berkekurangan dan nyatalah sesuai dengan arti namanya tersebut, bahwa ia menjadi teladan dalam kejujuran dan anak penghiburan bagi rasul-rasul.
2.      Ananias dan Safira
Mereka adalah pasangan suami istri dan merupakan anggota jemaat. Mereka juga bersepakat untuk mempersembahkan hasil penjualan sebidang tanah kepunyaan mereka dihadapan rasul-rasul. Dan dengan setahu isterinya, Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan sebidang tanah tersebut. Hal tersebut menjadi sangat jelas bahwa bukan hanya Ananias yang mengetahui, jauh lebih dalam bahwa mereka bersepakat untuk mempersembahkan setengah dari hasil penjualan tersebut. Petrus mengetahui hal ini, dan ia menegur dengan keras bahwa perbuatan yang dilakukan Ananias tidaklah benar. Ada yang salah di dalam motivasi untuk memberi yang dilakukan pasangan suami-istri tersebut. Mereka memberi bukan berdasar kerelaan, mereka menahan sebagian hasil penjualan tersebut yang jikalau pun hasil tersebut tidak ditahan oleh mereka, hasil itu tetap berada dalam kuasa mereka. Satu hal lagi yang menjadi dosa mereka adalah ketidakjujuran mereka dihadapan Allah, lagi rasul Petrus menegur bahwa mereka bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah. Maka, kematian yang menghampiri Ananias. Hal yang sama menimpa pula kepada Safira yang adalah istri Ananias, ia tidak mengetahui kalau suaminya telah mati, maka ketika Petrus bertanya perihal penjualan tersebut, Petrus pun mendapati bahwa Safira pun bersepakat dengan suaminya yang membuat dia pun mati.

Dari dua kisah tersebut kita dapat melihat bahwa kejujuran di dalam memberi menjadi hal yang sangat penting di dalam hidup kita. Ananias dan Safira telah menjadi contoh ketidakjujuran. Ketidakjujuran yang kita lakukan dihadapan sesama, bukan hanya membuat kita berdosa terhadap sesama, tetapi juga dihadapan Tuhan. Seringkali kita membuat dikotomi dalam dosa, dosa terhadap manusia dan Allah, padahal segala dosa yang kita lakukan adalah dosa kepada Allah (Maz. 51:6). Dosa tetap ada konsekuensi, dan Ananias beserta isterinya pun menjadi contoh bahwa Allah tidak main-main dalam menanggapi dosa. Dan hal inilah yang seharusnya membuat kita sadar bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dpermainkan (bdk. Gal. 6:7).
Kejujuran sangat erat kaitannya dengan motivasi seseorang dalam berperilaku. Sebagai orang percaya, kejujuran mau tidak mau memaksa kita pribadi untuk memiliki motivasi yang benar didalam bertindak bagi sesama kita maupun dihadapan Allah. Kejujuran dan keterbukaan kita dalam hidup ini adalah salah satu contoh bahwa kita adalah orang-orang yang dikuduskan Allah. Jangan terlalu sering memakai topeng, mari kita lepas topeng kita masing-masing, dan hidup jujur sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di sepanjang zaman.

Mari hidup jujur dihadapan Allah!
Mari hidup jujur ketika tiada seorang pun melihat!
Mari hidup jujur dihadapan sesama!
Dan ketika pun kita dicobai untuk hidup tidak jujur, Jangan Lupa untuk Hidup Jujur!